Kantor berita negara Korea Utara, KCNA, pada tanggal 2 Desember, mengutip juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Utara yang mengatakan bahwa Pyongyang akan menanggapi campur tangan AS di ruang angkasa dengan menonaktifkan satelit mata-mata AS.
"Jika Amerika Serikat berupaya melanggar wilayah sah suatu negara berdaulat dengan mempersenjatai teknologi terbaru secara ilegal dan tidak adil, Korea Utara akan mempertimbangkan untuk mengambil tindakan pembalasan defensif untuk melemahkan atau menghancurkan kemampuan bertahan satelit mata-mata AS," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un baru-baru ini mengunjungi fasilitas antariksa di Pyongyang.
Pengumuman itu disampaikan setelah Korea Selatan berhasil meluncurkan satelit pengintai militer pertamanya pada tanggal 1 Desember. Satelit tersebut diluncurkan ke orbit Bumi dari fasilitas antariksa di California, AS, menggunakan roket Falcon 9 yang diproduksi oleh perusahaan SpaceX milik Elon Musk.
Peluncuran tersebut terjadi seminggu setelah Korea Utara mengumumkan telah berhasil meluncurkan satelit mata-mata pertamanya pada 21 November, setelah dua peluncuran gagal tahun ini. Beberapa hari kemudian, Pyongyang mengungkapkan bahwa satelit tersebut telah mengirimkan gambar fasilitas militer di wilayah AS, Jepang, dan wilayah AS Guam di Pasifik Barat.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengeluarkan arahan baru; AS memberlakukan sanksi tambahan.
Ketika ditanya apakah Washington dapat mengganggu aktivitas pengintaian satelit Korea Utara, seorang juru bicara Komando Luar Angkasa AS mengatakan bahwa AS dapat menghambat kemampuan luar angkasa musuh melalui berbagai cara.
Pada tanggal 1 Desember, Seoul memasukkan 11 warga Korea Utara ke dalam daftar hitam karena keterlibatan mereka dalam pengembangan satelit dan rudal balistik negara tersebut, serta melarang mereka berpartisipasi dalam transaksi keuangan.
Pemerintah Korea Selatan juga berencana meluncurkan hingga empat satelit lagi ke luar angkasa pada tahun 2025, sebagai bagian dari kesepakatan yang dicapai dengan SpaceX tahun lalu.
Tautan sumber







Komentar (0)