
Mekanisme pembuangan limbah otak justru menyebabkan penyakit Alzheimer menyebar. Foto: Internet.
Ketika "instalasi pengolahan limbah" mengalami kerusakan.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Michael Glickman dan Dr. Ajay Wagh menyelidiki bagaimana neuron memproses protein yang rusak. Biasanya, protein yang disebut ubiquitin bertindak sebagai "penanda," membantu sel mengidentifikasi dan menghilangkan protein yang rusak untuk menjaga kesehatan otak.
Namun, masalah muncul ketika versi ubiquitin yang bermutasi, yang dikenal sebagai UBB+1, muncul. Kehadiran UBB+1 mengganggu proses pembersihan normal, yang menyebabkan penumpukan racun—salah satu ciri khas penyakit Alzheimer.
Untuk mengatasinya, sel menggunakan protein lain, p62, untuk "mengemas" UBB+1 beracun ini ke dalam vesikel pelindung guna menetralkan ancaman. Vesikel-vesikel ini dapat diangkut ke lisosom (pusat daur ulang di dalam sel) untuk dihancurkan, atau dapat dilepaskan ke ruang antar sel (cairan ekstraseluler).
Para ilmuwan menemukan bahwa ketika skenario kedua terjadi, fragmen protein beracun dari vesikel-vesikel ini dapat bocor keluar. Lebih berbahaya lagi, fragmen tersebut diserap oleh sel-sel saraf di dekatnya, menyebabkan penyakit Alzheimer menyebar ke seluruh otak.
Profesor Glickman menyamakan mekanisme ini dengan pembuangan sampah dalam kehidupan sehari-hari. "Semua orang ingin seseorang membersihkan sampah mereka," katanya. Namun, dalam kasus ini, neuron bertindak seperti tetangga yang buruk: alih-alih membuang sampah mereka sendiri, mereka membuangnya ke halaman tetangga.
Ia menjelaskan lebih lanjut: "Meskipun ini menyelesaikan masalah langsung untuk sel-sel individual, hal ini dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada seluruh jaringan otak." Tindakan perlindungan diri jangka pendek oleh satu sel ini secara tidak sengaja menjadi hukuman mati bagi sel-sel sehat di sekitarnya.
Harapan baru untuk diagnosis dan pengobatan.
Meskipun penemuan ini menggambarkan gambaran suram tentang bagaimana penyakit Alzheimer menyebar, hal ini juga membuka pintu harapan baru bagi dunia kedokteran. Tim peneliti di Technion mengusulkan dua aplikasi penting. Pertama, diagnosis dini. Dokter dapat menguji cairan serebrospinal untuk biomarker UBB+1, membantu mendeteksi penyakit Alzheimer pada tahap yang lebih awal daripada yang dimungkinkan saat ini.
Kedua, ada aspek pengobatan yang dipersonalisasi. Memahami mekanisme ini meletakkan dasar untuk mengembangkan obat-obatan baru yang secara langsung menargetkan jalur "pembuangan limbah" yang bermasalah, mencegah sel melepaskan protein beracun ke lingkungan sekitarnya.
Penemuan ini tidak hanya mengubah cara kita memahami patogenesis Alzheimer, tetapi juga memperingatkan bahwa terkadang, mekanisme pertahanan tubuh sendiri dapat menjadi musuh tersembunyi jika fungsinya terganggu.
Sumber: https://doanhnghiepvn.vn/cong-nghe/co-che-don-rac-vo-tinh-tro-thanh-thu-pham-phat-tan-benh-alzheimer/20260107102054834







Komentar (0)