
Mulai 30 Mei 2026, Festival Kembang Api Internasional Da Nang (DIFF) akan resmi dibuka dengan pertunjukan antara kota tuan rumah Da Nang dan juara bertahan, Tiongkok. DIFF tahun ini menunjukkan ambisi yang lebih besar, mengubah Da Nang menjadi panggung bagi revolusi kembang api modern, di mana teknologi, musik , dan penceritaan berpadu.
Pada malam pembukaan, kota tuan rumah Da Nang menghadapi juara bertahan.
Pertandingan antara tim Da Nang (Vietnam) dan China pada malam pertama dipandang sebagai pembuka musim di mana "tidak ada ruang untuk kesalahan".
Setelah kemenangan mereka di DIFF 2025, tim Tiongkok kembali dengan "Flower of the Orient," yang terinspirasi oleh lagu rakyat "Jasmine Flower," menggabungkan kembang api tanpa asap dengan lapisan cahaya lembut yang mewujudkan semangat Asia Timur. Para ahli percaya bahwa ini akan menjadi pertunjukan yang lebih berfokus pada emosi visual daripada pada tampilan teknis semata.
Namun, keunggulan Da Nang tidak pernah terletak pada memenangkan gelar. Selama beberapa musim, tim tuan rumah selalu dianggap sebagai "kuda hitam yang tak terduga" karena kemampuan mereka untuk membangkitkan antusiasme di antara penonton di kandang sendiri.
Dengan tema "Alam," pertunjukan pembuka ini menjanjikan lebih dari sekadar pertunjukan kembang api; ini adalah pertarungan emosi, identitas, dan penceritaan melalui cahaya.

Prancis dan Vietnam: Sebuah dialog antara ingatan dan identitas.
Sementara malam pertama berpusat pada alam, malam kedua, dengan tema "Warisan," menyerupai film budaya berlapis-lapis.
Mewakili Prancis, Lux Factory POK 2.0 memasuki DIFF 2026 dengan momentum sebagai pesaing utama setelah memenangkan Gold Jupiter di Montreal 2025, salah satu kompetisi kembang api paling bergengsi di dunia.
Orang Prancis terkenal dengan kemampuan mereka mengubah kembang api menjadi bahasa sinematik. Film "Heritage – Da Nang Shines" terungkap sebagai perjalanan melintasi peradaban, di mana sejarah tidak menghilang tetapi berlapis-lapis untuk menciptakan identitas baru.
Di sisi lain, Z121 Vina Pyrotech - Vietnam (juara kedua di DIFF 2025) membawa harapan tinggi dari penonton Vietnam. Sementara Prancis memiliki gaya Eropa yang klasik dan puitis, tim Vietnam diharapkan dapat menciptakan perspektif yang lebih modern tentang warisan nasional, menggabungkan teknik yang canggih dengan pemahaman mendalam tentang budaya lokal.

Jepang vs. Italia, final awal di DIFF 2026
Mungkin tidak ada pertandingan yang membangkitkan antisipasi lebih besar di kalangan penggemar kembang api selain pertarungan antara Jepang dan Italia pada malam "Budaya".
Di satu sisi terdapat seni Hanabi Jepang yang terkenal, minimalis namun sempurna dalam setiap detailnya. Di sisi lain terdapat gaya sinematik Italia yang khas, kaya akan emosi dan menakjubkan seperti opera di langit.
Tamaya Kitahara Fireworks menampilkan teknik tradisional Jepang seperti kembang api "wari-mono" yang simetris sempurna dan efek Kamuro yang terkenal, di mana sinar cahaya keemasan mengalir turun seperti rambut seorang gadis dalam lukisan Jepang kuno.
Sementara itu, Martarello Group – sebuah "legenda hidup" DIFF dengan dua gelar juara berturut-turut pada tahun 2017 dan 2018 – kembali dengan "Echoes Becoming Future". Lebih dari satu abad pembuatan kembang api telah mengubah tim Italia ini menjadi ahli dalam seni bercerita melalui cahaya. Banyak ahli menyebut ini sebagai "final awal" DIFF 2026.

Jerman dan Makau: Tempat Teknologi Menjadi Seni
Malam "Kreatif" bisa menjadi momen ketika teknologi kembang api memasuki level baru.
Tim Jerman Steffes-Ollig Feuerwerke, dengan sejarah lebih dari 150 tahun, terkenal karena ketepatan yang hampir sempurna dalam menyinkronkan kembang api dengan musik. Pertunjukan "PYROGRAPHICS" mereka digambarkan sebagai "lukisan hidup," di mana setiap pancaran cahaya adalah sapuan kuas di latar belakang langit Da Nang.
Di hadapan mereka ada Apple Pyrotechnics dari Makau (Tiongkok), sebuah tim yang dianggap sebagai "raksasa" kembang api Asia berkat pengalaman mereka dalam menyelenggarakan acara berskala nasional. "Perjalanan Surgawi ke Barat" mereka, yang terinspirasi oleh Perjalanan ke Barat, diharapkan akan menghadirkan efek kembang api berbasis air yang spektakuler dengan daya tarik visual khas Timur.
Australia dan Portugal mengakhiri kampanye kualifikasi mereka dengan aspirasi untuk masa depan.
Malam terakhir babak kualifikasi, yang bertema "Visi," akan menjadi pertarungan antara dua aliran pemikiran yang sangat berbeda.
Skylighter Fireworks dari Australia memilih pendekatan yang mainstream dan penuh emosi, menggunakan musik dari Coldplay, Bon Jovi, dan Avicii untuk menceritakan kisah tentang aspirasi untuk melampaui batasan.
Sementara itu, Macedos Pirotecnia, merek Portugal yang berusia lebih dari 90 tahun, kembali setelah memenangkan penghargaan "Paling Inovatif" musim lalu. Tim Eropa ini berjanji untuk mengubah cahaya menjadi simbol koneksi dan masa depan, dalam sebuah pertunjukan yang lebih filosofis daripada mencolok.

Ini bukan sekadar kembang api.
Yang membuat DIFF 2026 berbeda bukanlah hanya jumlah "bintang" yang berpartisipasi. Festival tahun ini menunjukkan bahwa seni kembang api sedang mengalami transformasi dramatis dari pertunjukan yang murni teknis menjadi karya bercerita multisensori di mana musik, teknologi pemrograman, efek pencahayaan, dan emosi penonton berpadu menjadi pengalaman teater yang lengkap.
Bagi Da Nang, DIFF bukan lagi sekadar acara wisata musim panas, tetapi secara bertahap menjadi "Piala Dunia Kembang Api" sejati di Asia, di mana negara-negara terkemuka dunia membawa yang terbaik dari mereka untuk berkompetisi di sepanjang Sungai Han.
Dan jika semua harapan menjadi kenyataan, musim panas tahun 2026 dapat dikenang sebagai tahun di mana DIFF memasuki era paling gemilang dalam sejarahnya sejak awal berdirinya.
Sumber: https://tienphong.vn/diff-2026-he-lo-doi-hinh-khung-da-nang-nong-truc-gio-khai-man-post1843463.tpo







Komentar (0)