Dalam proses pembentukan dan perkembangannya, masyarakat Dao Merah telah menciptakan, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang khas. Khususnya, hiasan kepala anak-anak merupakan salah satu faktor yang menciptakan keunikan dan keistimewaan, yang secara kuat mengekspresikan identitas budaya masyarakat Dao Merah.
Topi anak-anak Red Dao.
Topi anak-anak Red Dao dibuat dengan sangat teliti dan lengkap menggunakan metode kerajinan tangan tradisional. Biasanya, orang dewasa dalam keluarga menyiapkan 3-5 topi untuk anak-anak yang akan lahir. Topi-topi ini seringkali dihias oleh ibu dan nenek dengan berbagai ukuran agar dapat dikenakan oleh anak-anak bahkan hingga mereka dewasa.
Topi ini terbagi menjadi dua bagian: badan topi dan bagian atas topi. Badan topi terbuat dari selembar kain beludru hitam persegi panjang (dulunya kain indigo), yang disulam dengan cermat dengan pola-pola seperti burung, tanaman, segitiga, dan belah ketupat... Pola-pola ini tidak hanya menunjukkan estetika, tetapi juga dengan jelas mengekspresikan kehidupan masyarakat yang terikat dengan alam, keinginan untuk dilindungi oleh Ibu Pertiwi, dan bahwa bayi yang baru lahir yang dilindungi oleh bumi dan langit akan lebih kecil kemungkinannya untuk sakit. Setelah sulaman selesai, para perempuan dengan terampil menjahit kedua ujung kain untuk menciptakan bentuk topi.
Setelah badan topi selesai, para ibu menjahit selembar kain merak tradisional di sekeliling badan topi, lalu menyatukannya di bagian atas untuk membentuk topi. Bagian ini dijahit seluruhnya dengan benang merah, disembunyikan di dalam agar jahitannya tidak terlihat. Kain merak melambangkan kekayaan dan kemakmuran, mengungkapkan harapan orang dewasa kepada anak tersebut, berharap agar anak tersebut tumbuh menjadi orang yang sejahtera dan bahagia.
Berbeda dengan suku Tay, Nung, dan Mong, topi bayi Red Dao dihiasi dengan rumit, penuh warna, dan memiliki identitas etnis yang khas. Selain disulam dengan beragam pola, topi ini juga dihiasi dengan banyak bola kapas bundar, buatan tangan dari wol dan hanya menggunakan kapas merah. Biasanya, di sepanjang badan topi terpasang 3 bola kapas seukuran kepalan tangan, diselingi dengan bunga-bunga perak berkilau di bagian muka yang bertatahkan pola bintang, segitiga, dan bergelombang. Diselingi dengan potongan-potongan perak putih tersebut terdapat untaian manik-manik yang diwarnai biru, merah, ungu, dan kuning untuk menambah warna pada topi. Bagian atas topi berupa bola kapas besar yang menutupi seluruh badan topi, hanya memperlihatkan motif sulaman tangan yang halus dari sang pembuat. Di balik topi terpasang selembar kain kecil yang disulam dengan cermat, dengan 3 bunga perak yang disebut "goan tai" (dalam bahasa Red Dao) yang ditempelkan di atasnya dengan harapan agar anak tersebut memiliki kehidupan yang damai, sejahtera, dan beruntung saat ia dewasa.
Ibu Ly Mui Man, dusun Thuong Thac, kecamatan Tam Kim (Nguyen Binh), berbagi: Membuat topi anak-anak terlihat sederhana, tetapi jauh lebih rumit dan rumit daripada kostum orang dewasa. Selain digunakan sebagai hiasan, gaun, dan menunjukkan kepedulian orang dewasa terhadap hal-hal terbaik bagi anak, topi juga berfungsi untuk menghangatkan badan, mencegah angin dingin, dan menjaga kepala bayi tetap bulat dan tidak berubah bentuk. Khususnya, masyarakat Dao menghindari menyentuh kepala anak-anak, karena kepala adalah tempat bersemayam jiwa manusia. Oleh karena itu, hiasan kepala tradisional untuk anak-anak juga menutupi ubun-ubun dan menangkal roh jahat... Karena banyaknya makna, kerumitan, dan ketelitian pembuatnya, harga jual topi saat ini berfluktuasi lebih dari 1 juta VND.
Kini, meskipun kehidupan telah banyak berubah, sebagian besar masyarakat Dao Merah masih mempertahankan berbagai adat, praktik, dan budaya tradisional. Tampaknya setiap perempuan Dao Merah tahu cara menjahit pakaian untuk seluruh keluarga, dan topi anak-anak merupakan bagian dari pakaian dengan desain dan pola yang paling sulit untuk diwujudkan. Semakin teliti dan teliti sulaman topinya, semakin berbakat dan terampil perempuan tersebut. Dan gambaran bayi Dao Merah yang manis digendong di punggung ibunya ke ladang dan ke pasar telah menjadi ciri khas budaya masyarakat di sini.
Koran Thanh Tu/ Dien Bien Phu
[iklan_2]
Sumber: https://baophutho.vn/doc-dao-chiec-mu-cua-tre-em-dao-do-226692.htm
Komentar (0)