Setiap tahun di bulan ketiga kalender lunar, hati rakyat Vietnam seolah melambat, tertuju pada Kuil Hung, Gunung Nghia Linh, Raja-raja Hung, dan titik awal yang sangat dalam dalam ingatan bangsa. Di sana, hal yang paling sakral bukanlah sekadar kuil-kuil kuno, kepulan asap dupa, atau barisan panjang peziarah, tetapi perasaan bahwa setiap orang tiba-tiba merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Sebuah komunitas dengan leluhur yang sama, sejarah yang sama, dan perjalanan pembangunan dan pertahanan bangsa yang telah tertulis selama ribuan tahun.
Yang membuat Hari Peringatan Raja-Raja Hung istimewa adalah bahwa hari ini bukan hanya sebuah festival. Ini adalah kenangan yang hidup. Suatu bangsa dapat menjadi lebih kuat melalui ekonomi , ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lembaga-lembaganya, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, bangsa itu juga harus memiliki ingatan, moralitas, dan benang merah spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Hari Peringatan Leluhur adalah salah satu contohnya. Hari ini mengingatkan masyarakat Vietnam bahwa mereka bukanlah individu yang terisolasi di masa kini, melainkan keturunan dari garis keturunan yang telah melalui berbagai gejolak untuk membangun bangsa ini. Oleh karena itu, penghormatan kepada leluhur bukan hanya sekadar gestur budaya, tetapi juga ekspresi karakter nasional.
Tahun ini, festival diselenggarakan dengan banyak kegiatan baru, yang dijiwai dengan semangat pewarisan dan keberlanjutan, mulai dari upacara persembahan dupa untuk memperingati Raja-raja Hung, peringatan Leluhur Nasional Lac Long Quan, persembahan dupa kepada Ibu Leluhur Au Co, hingga program seni pembuka, Pameran Buku Tanah Leluhur, kegiatan budaya rakyat, olahraga , dan pariwisata. Kegiatan-kegiatan ini menunjukkan upaya terpuji untuk memastikan bahwa warisan tidak hanya dilestarikan di ruang-ruang peringatan tetapi juga disebarluaskan dalam kehidupan kontemporer melalui bentuk-bentuk yang lebih mudah diakses oleh masyarakat saat ini.
Namun, yang lebih penting bukanlah jumlah kegiatan atau skala organisasinya. Yang penting adalah apa yang kita pelajari tentang diri kita sendiri dari liburan ini. Saya selalu berpikir bahwa ketika berdiri di depan Kuil Hung, orang Vietnam tidak hanya memikirkan masa lalu. Mereka juga bertanya pada diri sendiri bagaimana mereka akan hidup untuk menjadi layak bagi masa lalu itu. Karena sejarah, jika hanya untuk dibanggakan, tidaklah cukup. Sejarah hanya benar-benar bermakna ketika menjadi dasar bagi tindakan saat ini.
Mungkin, dalam kehidupan modern, kita perlu lebih menekankan poin ini. Laju kehidupan saat ini dengan mudah menarik orang ke tujuan jangka pendek. Orang-orang sibuk dengan pekerjaan, dengan tekanan untuk mencari nafkah, dengan perubahan teknologi, dan dengan persaingan di dunia yang terus berubah. Di tengah perubahan ini, orang mungkin memiliki lebih banyak kemudahan dan peluang, tetapi mereka juga berisiko menjadi lebih terlepas dari akar mereka, kurang terhubung dengan kenangan mereka, dan lebih dangkal dalam pemahaman mereka tentang nilai-nilai fundamental.
Dan dalam konteks inilah Hari Peringatan Raja-Raja Hung bukan hanya ritual tradisional. Ini adalah pengingat: Untuk melangkah jauh, seseorang harus tahu dari mana asalnya; untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, seseorang harus memiliki landasan spiritual yang cukup dalam. Budaya bukan sekadar hiasan untuk pembangunan, tetapi fondasi pembangunan. Melihat Hari Peringatan Raja-Raja Hung dari perspektif ini, kita melihat lebih jelas bahwa hari raya ini bukan hanya milik ranah kepercayaan atau festival. Ini milik pembangunan bangsa Vietnam. Karena dari asal usul kita, orang belajar rasa syukur. Dari rasa syukur, orang belajar tanggung jawab. Dan dari tanggung jawab, orang dapat melangkah ke masa depan dengan pola pikir yang lebih matang.
Resolusi No. 80-NQ/TW dari Politbiro tentang pengembangan budaya Vietnam dengan jelas mendefinisikan budaya Vietnam sebagai fondasi, kekuatan intrinsik, dan penggerak pembangunan dan pertahanan nasional; resolusi ini juga menekankan perlunya mengembangkan budaya dan sumber daya manusia sebagai "sumber daya intrinsik yang penting, penggerak utama, pilar, dan sistem pengatur untuk pembangunan negara yang cepat dan berkelanjutan." Membaca baris-baris ini selama Peringatan Hari Raja Hung tahun ini, kita semakin memahami pentingnya kembali ke Kuil Hung. Karena asal usul kita, pada akhirnya, juga merupakan bagian penting dari kekuatan intrinsik tersebut.
Dengan kata lain, Hari Peringatan Raja-Raja Hung bukan hanya sekadar mengenang masa lalu. Ini juga merupakan cara untuk memupuk kekuatan nasional. Suatu bangsa hanya benar-benar kuat ketika ia tahu bagaimana menghargai nilai-nilai yang mendefinisikannya. Ini bukan sikap puas diri dengan masa lalu, tetapi kepercayaan diri yang beralasan untuk melangkah ke masa depan. Kita dapat belajar dari dunia, kita dapat memodernisasi, kita dapat berinovasi dengan kuat, tetapi akan sangat berbahaya jika, dalam prosesnya, orang-orang kehilangan hubungan dengan leluhur mereka, dengan komunitas mereka, dan dengan sejarah.
Oleh karena itu, saya selalu percaya bahwa Hari Peringatan Raja-Raja Hung adalah "sekolah lembut" tetapi sangat mendalam bagi masyarakat. Di sana, pelajaran tidak diajarkan melalui dogma. Pelajaran diajarkan melalui pengalaman. Seorang anak yang menemani orang tuanya ke Kuil Hung, melihat kerumunan orang yang diam mempersembahkan dupa, mendengarkan cerita tentang Raja-Raja Hung, merasakan suasana khidmat dan sakral festival tersebut, mungkin tidak sepenuhnya memahaminya di usia muda. Tetapi benih-benih itu akan tetap ada. Kemudian, suatu hari nanti, ketika mereka dewasa, anak itu akan mengerti bahwa mereka tidak berada di luar sejarah bangsa ini. Mereka adalah pewarisnya.
Oleh karena itu, saya juga memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan warisan ini. Inilah yang penting di era baru ini. Kita banyak berbicara tentang inovasi, transformasi digital, sains dan teknologi, ekonomi pengetahuan, industri budaya, dan kekuatan lunak. Semua ini diperlukan. Tetapi di baliknya terdapat pertanyaan mendasar tentang manusia. Siapa yang akan menjadi kekuatan pendorong di balik inovasi-inovasi ini? Generasi seperti apa yang akan membangun masa depan negara? Jika generasi itu hanya terampil tetapi kurang kedalaman budaya, semangat komunitas, rasa syukur, dan tanggung jawab, maka pembangunan akan sulit berkelanjutan.
Hari Peringatan Raja-Raja Hung, jika dilihat dari sudut pandang ini, tidak membuat orang mundur. Sebaliknya, hari itu membantu orang bergerak maju ke masa depan dengan fondasi yang lebih kokoh. Dari rasa syukur atas sejarah, kita lebih memahami nilai keluarga. Dari keluarga, kita lebih memahami nilai komunitas. Dari komunitas, kita memahami mengapa bangsa ini perlu dicintai, dilestarikan, dan dipelihara tidak hanya dengan emosi tetapi juga dengan tindakan. Mungkin hal terpenting yang perlu ditekankan pada Hari Peringatan Raja-Raja Hung tahun ini adalah vitalitas prinsip "Minum air, mengingat sumbernya" dalam masyarakat modern.
Saat ini, masyarakat Vietnam mungkin tinggal di kota-kota besar, bekerja di lingkungan digital, dan berkomunikasi dengan dunia melalui platform global, tetapi mereka tetap membutuhkan jangkar spiritual agar tidak terbawa arus perubahan zaman yang cepat. Kuil Hung adalah salah satu jangkar tersebut. Kuil ini bukan dimaksudkan untuk menahan orang dari masa lalu, melainkan untuk mengajarkan mereka bagaimana hidup lebih dalam di masa kini dan lebih bertanggung jawab terhadap masa depan.
Saya sering memikirkan gambaran anak muda masa kini yang mengunjungi Kuil Hung. Beberapa datang untuk berwisata pengalaman. Beberapa datang bersama teman dan keluarga. Beberapa hanya tahu bahwa itu adalah hari libur nasional utama. Tetapi kemudian, di tengah ruang itu, tangga batu, deretan pohon, prosesi, melodi rakyat, halaman-halaman buku tentang Tanah Leluhur, kisah Leluhur Nasional Lac Long Quan dan Ibu Leluhur Au Co, mereka mungkin tiba-tiba merasakan rasa memiliki sesuatu yang lebih besar. Perasaan itu sangat berharga. Karena itu adalah awal dari kesadaran sipil. Warga negara yang baik bukanlah hanya seseorang yang menaati hukum atau pandai dalam pekerjaannya. Warga negara yang baik juga adalah seseorang yang memahami bahwa mereka berhutang budi kepada masa lalu dan karena itu memiliki tanggung jawab kepada masa depan.
Mungkin, di antara banyak nilai yang dibawa oleh Hari Peringatan Raja-Raja Hung, nilai yang paling abadi terletak pada hal ini. Hari raya ini tidak hanya mengingatkan kita pada leluhur kita, tetapi juga mengingatkan kita bahwa negara kita tidak terbentuk begitu saja. Perdamaian, kemerdekaan, persatuan, dan pembangunan yang kita nikmati saat ini semuanya dibangun di atas kontribusi generasi yang tak terhitung jumlahnya.
Oleh karena itu, menyalakan dupa untuk Raja-Raja Hung bukan hanya sekadar gestur penghormatan. Itu juga merupakan janji diam-diam. Janji untuk menjalani hidup yang lebih bermartabat. Janji untuk melestarikan apa yang ditinggalkan leluhur kita. Janji untuk tidak menjadi orang luar dari takdir bersama bangsa. Dan mungkin itulah mengapa Hari Peringatan Raja-Raja Hung selalu memiliki kekuatan khusus untuk menggerakkan orang. Itu tidak hanya menyentuh kebanggaan; itu menyentuh hati nurani. Itu membuat orang menyadari bahwa mereka perlu hidup lebih bermartabat, dengan lebih mendalam, dan dengan lebih bertanggung jawab. Di era mana pun, ini tetap menjadi kualitas mendasar yang membangun ketahanan suatu bangsa.
Dari Kuil Hung, kita melihat bahwa masa lalu sama sekali tidak jauh. Masa lalu hidup di masa kini, dalam cara kita berinteraksi dengan sejarah, warisan, keluarga, komunitas, dan negara. Dan jika kita tahu bagaimana melestarikan, menghidupkan kembali, dan mengubah nilai-nilai tersebut menjadi energi kehidupan masa kini, maka setiap Hari Peringatan Kuil Hung tidak hanya akan menjadi peristiwa yang khidmat. Ini akan menjadi musim mengenang, yang membuat bangsa ini lebih kuat dari dalam, lebih dalam dalam semangat, dan lebih teguh di jalan menuju masa depan.
Sumber: https://baovanhoa.vn/chinh-polit/gio-to-va-suc-ben-cua-mot-dan-toc-223209.html







Komentar (0)