Menegakkan keadilan

Di setiap Piala Dunia, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) memprioritaskan inovasi untuk mencapai keadilan dalam kompetisi dan memberikan pengalaman terbaik bagi para penonton. Meskipun Piala Dunia 1970 menandai kemunculan pertama kartu kuning dan merah, dan Piala Dunia 2018 menyaksikan pengenalan teknologi VAR yang sepenuhnya mengubah administrasi pertandingan, Piala Dunia 2026 terus menunjukkan komitmen yang kuat terhadap reformasi.

Poin penting pertama adalah jeda minum air wajib di setiap pertandingan. Sebelumnya, jeda untuk minum hanya terjadi pada pertandingan yang dimainkan dalam cuaca yang sangat panas. Namun, Piala Dunia 2026 menetapkan bahwa setiap pertandingan akan memiliki jeda 3 menit di antara babak untuk para pemain minum air, terlepas dari kondisi cuaca.

Tim nasional Argentina berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026 dengan tujuan mempertahankan gelar juara mereka. Foto: FIFA

Salah satu perubahan yang paling dinantikan adalah perluasan intervensi VAR ( video assistant referee). Sebelumnya, VAR hanya digunakan dalam situasi yang melibatkan gol, penalti, kartu merah langsung, atau kesalahan identifikasi. Sekarang, teknologi ini juga akan diterapkan pada kartu kuning kedua dan tendangan sudut yang kontroversial. Ini berarti bahwa pemain yang menerima kartu kuning kedua yang berujung pada kartu merah dapat dikenai tinjauan VAR jika ada indikasi kesalahan.

Selain itu, FIFA juga bertekad untuk menindak tegas tindakan mengulur waktu. Pada Piala Dunia 2026, sistem hitung mundur visual 5 detik akan diterapkan pada situasi yang melibatkan tendangan gawang, lemparan ke dalam, atau pergantian pemain. Jika wasit menentukan bahwa seorang pemain sengaja mengulur waktu, penguasaan bola dapat dialihkan ke tim lawan. Setelah nomor punggung mereka muncul di papan skor elektronik, pemain memiliki waktu maksimal 10 detik untuk meninggalkan lapangan. Jika mereka tidak mematuhi batas waktu tersebut, pemain pengganti harus menunggu hingga pertandingan dihentikan sementara lagi sebelum mereka dapat memasuki lapangan.

Yang paling penting, peraturan baru ini menyangkut tindakan menutup mulut saat berdebat di lapangan. Menyusul beberapa insiden kontroversial yang melibatkan rasisme dan diskriminasi, FIFA memutuskan untuk memberi wasit lebih banyak wewenang untuk mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang menutup mulut mereka saat berbicara dengan lawan atau wasit dalam situasi sensitif. Selain itu, tim yang meninggalkan lapangan tanpa izin dapat dinyatakan kalah, bahkan jika pertandingan belum berakhir.

Untuk menjadikan festival ini sempurna.

Selain perubahan aturan permainan, Piala Dunia 2026 juga dipandang sebagai turnamen yang komprehensif dan manusiawi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, semua pertandingan Piala Dunia akan disiarkan dalam bahasa isyarat. Penerjemah tidak hanya akan menyampaikan komentar tetapi juga menciptakan kembali emosi stadion, mulai dari peluit wasit dan kegembiraan penggemar hingga ritme permainan. Secara bersamaan, FIFA akan menerapkan sistem teks terjemahan langsung pada papan skor elektronik, layar stadion, dan aplikasi resmi turnamen, memungkinkan penggemar tunarungu untuk mengikuti semua informasi penting.

Bagi para tunanetra, Piala Dunia 2026 akan menyediakan sistem komentar audio. Berbeda dengan komentar konvensional, para komentator akan memberikan deskripsi visual yang detail tentang pertandingan, seperti pergerakan bola, bahasa tubuh pemain, dan reaksi penonton di tribun.

Salah satu sorotan teknologi paling luar biasa dari Piala Dunia tahun ini adalah sistem umpan balik haptik. Perangkat ini memungkinkan individu tunanetra untuk merasakan aksi permainan melalui getaran dan sinyal suara secara real-time. Setiap permainan, setiap gol, dan setiap benturan diterjemahkan menjadi umpan balik fisik sehingga penggemar tidak ketinggalan keseruan sepak bola. Selain itu, FIFA juga menerapkan tas pendukung sensorik dan ruang sensorik di semua stadion untuk pertama kalinya. Tas pendukung ini akan mencakup headphone peredam bising, mainan penghilang stres, dan alat komunikasi bagi mereka yang sensitif terhadap suara dan keramaian. Sementara itu, ruang sensorik dirancang sebagai ruang tenang dengan pencahayaan lembut, peredam suara, dan tempat duduk yang nyaman, memungkinkan penggemar untuk beristirahat ketika kewalahan oleh suasana hiruk pikuk Piala Dunia.

Dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang menyatukan 48 tim peserta, FIFA mencurahkan seluruh upayanya untuk meningkatkan turnamen ini. Tentu saja, implementasi sebenarnya akan berbeda dari yang diinginkan, tetapi dengan tekad FIFA dan tiga negara tuan rumah, turnamen ini diharapkan akan lebih modern, adil, dan manusiawi.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/the-thao/worldcup-2026/huong-toi-ky-world-cup-tron-ven-1041882