Saya ingat dia meletakkan saringan kopi aluminium di atas gelas, menambahkan bubuk kopi, menekannya perlahan, lalu menuangkan air panas. Dia duduk dan menunggu.

Letakkan saringan aluminium di atas cangkir kaca, tambahkan bubuk kopi, tekan perlahan, lalu tuangkan air panas.
Kopi itu mulai tumpah. Perlahan dan pasti.
Saat itu aku masih kecil, sering menarik kursi untuk duduk di sampingnya, dengan penasaran memperhatikan tetesan air dari filter kecil itu, dan bertanya-tanya mengapa dia bisa menunggu dengan sabar seperti itu.
Suatu kali, dia menepuk kepalaku dan tersenyum, sambil berkata, "Saat kau sedikit lebih besar dan mulai minum kopi, kau akan mengerti bagaimana rasanya menikmati secangkir kopi saring di pagi hari."
Kemudian dia mengaduk kopinya dengan lembut menggunakan sendok kecil. Suara sendok yang menyentuh sisi cangkir sangat lembut, seperti suara yang biasa terdengar setiap pagi.

Kopi itu mulai tumpah. Perlahan dan pasti.
Saya masih ingat dengan jelas aroma kopi saat itu. Aroma yang kaya dan hangat, perlahan menyebar ke seluruh rumah selama era subsidi.
Tahun-tahun berlalu, dan seiring bertambahnya usia, saya mulai minum kopi. Awalnya, itu hanya kebiasaan. Tetapi secara bertahap, saya menyadari bahwa saya benar-benar menikmati beberapa menit duduk tenang, menunggu filter menetes.
Setiap kali hal ini terjadi, aku teringat padanya.
Aku sering bertanya-tanya apakah, dari jauh sana, dia masih duduk di sana menyeduh kopi setiap pagi seperti dulu. Kenangan kembali perlahan, dan aku masih duduk di depan penyaring kopi, memperhatikan kopi menetes.

Aromanya kaya dan hangat, menyebar dengan lembut.
Aroma kopi tercium lembut di ruang tamu, hangat dan dalam, seperti pagi-pagi di masa lalu. Rasa pahit pada tegukan pertama selalu terasa, tetapi kemudian muncul perasaan yang familiar: kedamaian.
Pagi saya sekarang tidak lagi dimulai dengan bunyi alarm, tetapi dengan secangkir kopi yang menetes dari saringan dan celoteh riang putri saya: "Mengapa Ayah suka minum kopi?" Saya mengelus kepalanya dan tersenyum.

Pagi saya sekarang tidak lagi dimulai dengan alarm, tetapi dengan secangkir kopi.
Dan dalam suara yang pelan dan lembut itu, aku selalu merasa seolah-olah dia masih duduk di suatu tempat pada pagi hari yang sangat, sangat jauh.
(Karya yang diikutsertakan dalam kontes "Kesan tentang Kopi dan Teh Vietnam" tahun 2026, bagian dari program "Merayakan Kopi dan Teh Vietnam" ke-4 yang diselenggarakan oleh Surat Kabar Nguoi Lao Dong).


Sumber: https://nld.com.vn/khi-chiec-phin-bat-dau-nho-giot-196260317180316271.htm






Komentar (0)