Sutradara menegaskan bahwa ia selalu menerima dan menghargai semua masukan untuk film tersebut. Foto: TUAN LE

Sutradara menegaskan bahwa ia selalu menerima dan menghargai semua masukan untuk film tersebut. Foto: TUAN LE

- Halo Ly Hai, mengapa kamu memilih topik yang sulit dan realistis seperti keluarga, peran ibu, dan peran ayah untuk bagian 7 dan 8 dari serial "Flip Face"?

Sutradara Ly Hai: Saya telah menyaksikan banyak kisah dari kerabat, teman, dan mitra bisnis di sekitar saya. Kesibukan kehidupan sehari-hari dan tekanan kerja telah memperlebar kesenjangan generasi dalam keluarga. Hal ini menyebabkan penurunan pemahaman dan berkurangnya momen-momen penuh kasih sayang dalam keluarga. Dengan "Flip Face 8: The Embrace of Sunshine," saya ingin "menyalakan kembali" kasih sayang keluarga bagi banyak penonton yang tanpa sengaja telah kehilangannya. Saya berharap ketika penonton menonton film ini, mereka akan menyadari bahwa mungkin mereka sudah lama tidak merasakan kehangatan cinta, perlindungan, dan empati dari orang-orang terkasih mereka. Dari situ, mereka dapat menemukan kembali kehangatan sinar matahari dan hubungan satu sama lain.

- Bagaimana Anda memahami makna kata "keluarga"?

Sutradara Ly Hai: Bagi saya, dan banyak orang dari generasi saya, keluarga selalu menjadi jangkar abadi. Saya percaya bahwa penonton yang datang ke bioskop untuk mendukung film ini akan melihat diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai di beberapa bagian atau momen dalam alur cerita. Konflik keluarga selalu menyebabkan kita sakit hati, tetapi kita merasa lega jika kita dapat menemukan empati, pengertian, dan penerimaan di antara anggota keluarga.

Sebagai contoh, dalam film tersebut, karakter Bapak Phuoc mewakili generasi yang lebih tua, seorang ayah yang awalnya keras kepala dan khawatir, tidak ingin putranya mengejar karier menyanyi, karena takut ketidakstabilan dan godaan akan membuatnya kelelahan. Bapak Phuoc jelas mewujudkan perasaan seorang orang tua yang menginginkan jalan yang mulus, kehidupan yang mudah dan bahagia bagi putranya, sesuai dengan definisi dan kemampuannya sendiri. Namun, Bapak Phuoc harus secara bertahap membuka hatinya untuk menerima hasrat Tam, karena menghormati putranya. Atau pertimbangkan kisah keluarga Thanh. Orang tuanya sibuk memenuhi kebutuhan keluarga, mengabaikan kerja keras dan prestasi Thanh. Akhirnya, usaha dan impian Thanh diakui oleh orang tuanya, yang dengan bangga berseru, "Itu putra kami!"

Setiap kisah merupakan penegasan bahwa keluarga, bahkan di tengah jarak dan perbedaan pendapat, tetap menjadi tempat bagi kita untuk kembali, menemukan ketenangan, dan "menyembuhkan" diri tanpa syarat.