
Pada suatu sore musim panas yang terik di pelabuhan Piraeus, Tassos Papadopoulos masih rutin memotong tiket bagi penumpang yang naik feri ke Pulau Aegina. Namun, tidak seperti tahun lalu, antrean mobil yang menunggu untuk naik feri jauh lebih tipis. "Penjualan tiket turun setengahnya," keluhnya.
Aegina, sebuah pulau yang hanya berjarak 40 menit perjalanan feri dari Athena, dulunya merupakan pilihan populer bagi keluarga dengan anggaran terbatas. Tahun lalu, pulau ini dikunjungi lebih dari 2 juta wisatawan domestik. Namun, pada musim panas 2025, keramaian pantai di pagi hari hampir menghilang.
Menurut Takis Kalofonos, kepala penasihat keuangan di Konfederasi Konsumen-Karyawan Yunani (EKKE), satu dari dua warga Yunani tidak akan dapat pergi berlibur tahun ini.
"Sepuluh tahun yang lalu, liburan musim panas biasanya berlangsung 20-30 hari, sekarang kurang dari seminggu. Dengan gaji rata-rata 1.342 euro, bagaimana mungkin banyak keluarga mampu membeli tiket kereta seharga 450 euro ke Cyclades ? " ujarnya.
Survei Eurostat juga menemukan bahwa 46% warga Yunani tidak mampu berlibur selama seminggu, dan mayoritas memilih mengunjungi keluarga atau bertemu teman di desa mereka daripada pergi ke pulau.

"Saya bermimpi kuliah di Amorgos, tapi mustahil dapat kamar seharga 200 euro per malam," kata Ismini Balale, 28 tahun, seorang pekerja ritel yang berpenghasilan 850 euro per bulan. "Teman-teman saya, yang semuanya bergelar pascasarjana, hanya bisa libur beberapa hari."
Sementara itu, industri pariwisata Yunani sedang berkembang pesat. Pada tahun 2024, negara ini akan menyambut 36 juta wisatawan mancanegara, empat kali lipat populasinya, dengan pendapatan lebih dari 21,7 miliar euro. Pertumbuhan ini telah membantu mengurangi utang publik dari 180% PDB menjadi 153,6%. Namun, pertumbuhan ini juga membawa konsekuensi: tarif feri, hotel, dan jasa melonjak, sementara upah domestik stagnan.
Profesor Christos Pitelis (Universitas Southampton) berkomentar: "Orang Yunani secara bertahap disingkirkan dari tradisi budaya dan agama yang telah lama ada. Festival bulan Agustus, yang dulunya merupakan kesempatan untuk berziarah ke laut, kini tidak lagi memungkinkan bagi banyak orang."
Pemerintah Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis telah berjanji untuk menaikkan upah rata-rata menjadi 1.500 euro pada tahun 2027 dan terus memangkas pajak. Namun, banyak warga yang masih skeptis.

Bagi banyak orang Yunani, kegembiraan liburan musim panas kini telah menjadi kenangan pahit manis, sementara wisatawan asing masih menikmati pemandangan laut di pulau itu.
"Kami adalah Thailand-nya Eropa. Kami menyediakan layanan untuk dinikmati orang lain," ujar Aris Apikian, seorang penjual karpet di Athena, dengan nada sinis sambil memperhatikan para turis yang berlalu-lalang di tokonya.
"Orang luar hidup dalam mimpi di Yunani, sementara kami khawatir tagihan listrik dan air akan melonjak. Ketika liburan seminggu pun tak terjangkau, kami, rakyat Yunani, adalah yang paling dirugikan," ujar Aris Apikian.
Sumber: https://baolaocai.vn/mot-nua-nguoi-hy-lap-khong-the-di-du-lich-he-vi-thu-nhap-thap-post880070.html
Komentar (0)