Pada 5 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia berencana mengenakan tarif impor hingga 250% untuk produk farmasi—tarif tertinggi yang pernah diusulkannya. Sebelumnya, industri farmasi dibebaskan dari tarif perdagangan karena sifatnya yang esensial. Namun, Trump telah berulang kali mengkritik industri tersebut karena penetapan harga yang "tidak adil" dan mendesak perusahaan-perusahaan untuk mengembalikan produksi ke AS. "Kami ingin obat-obatan diproduksi di dalam negeri," ujarnya di CNBC.
Namun, konsekuensi dari kebijakan ini tidak sederhana, mulai dari membentuk kembali perilaku bisnis, mengganggu rantai pasokan hingga risiko kekurangan obat-obatan dan secara langsung memengaruhi perekonomian seperti Australia dan Irlandia, dua negara dengan industri farmasi yang sangat bergantung pada pasar AS.
Ambisi untuk merestrukturisasi industri farmasi
Menurut Trump, tarif tersebut bertujuan untuk mendorong perusahaan memindahkan produksi farmasi ke Amerika Serikat. Saat ini, Amerika Serikat mengimpor sekitar 80% bahan aktif farmasi (API), sebagian besar dari Tiongkok dan India. Namun, membangun pabrik farmasi baru di Amerika Serikat membutuhkan waktu bertahun-tahun, membutuhkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), peralatan khusus, dan personel khusus.
Meskipun perusahaan besar seperti Pfizer, Merck, atau Johnson & Johnson dapat "bertahan" berkat kendali mereka atas kekayaan intelektual dan rantai pasokan yang kuat, perusahaan obat generik yang beroperasi dengan margin keuntungan tipis akan menderita kerugian besar. Mereka mungkin terpaksa menarik diri dari pasar AS, yang mengakibatkan risiko kekurangan obat-obatan dasar.
Dasar hukum kebijakan ini adalah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), yang sedang digugat di pengadilan federal. Jika pengadilan menyatakan kebijakan ini tidak sah, banyak bisnis yang telah merestrukturisasi rantai pasokan mereka akan menghadapi biaya hangus yang tidak dapat dipulihkan.

India: Pasar Utama Menghadapi Gejolak
Permintaan yang tinggi akan obat generik murah di AS telah mendorong industri farmasi India selama bertahun-tahun. Perusahaan seperti Cipla, Sun Pharma, dan Dr. Reddy's Laboratories telah memanfaatkan peluang ini, berhasil bersaing dengan ratusan obat yang tidak lagi memiliki paten di AS. Dengan demikian, mereka telah membangun pijakan yang kuat di pasar farmasi global.
Pada tahun fiskal 2024, India mengekspor produk farmasi senilai $8,7 miliar ke AS, yang mencakup lebih dari 11% dari total ekspor barang dagangan negara tersebut. 47% obat generik yang dikonsumsi di AS berasal dari India, menjadikan AS pasar ekspor farmasi terbesar bagi negara berpenduduk satu miliar orang tersebut.
Industri farmasi India berharap obat generik, yang merupakan komoditas penting, akan dibebaskan dari tarif. Namun, Trump berulang kali mengumumkan akan mengenakan tarif 25% untuk produk farmasi mulai 2 April, kemudian menundanya selama 90 hari dan menetapkan tanggal baru, 1 Agustus.
Saat ini, India mengimpor produk farmasi senilai sekitar $800 juta dari AS dan mengenakan tarif sebesar 10%. Para ahli berpendapat bahwa meskipun AS menaikkan tarif untuk bahan aktif farmasi (API), India tetap akan diuntungkan jika tarif yang dikenakan kepada negara lain lebih tinggi.
Bapak Namit Joshi, Ketua Dewan Promosi Ekspor Farmasi India (Pharmexcil), menegaskan bahwa AS masih akan bergantung pada negara-negara seperti India karena biaya produksi dalam negeri terlalu tinggi. Mengalihkan rantai pasokan ke negara lain atau ke AS akan memakan waktu setidaknya 3-5 tahun.
Daara Patel, sekretaris jenderal Asosiasi Produsen Obat India, mengatakan industri farmasi tidak perlu panik. Ia mempertanyakan apakah ada negara lain yang mampu memasok obat murah dan berkualitas tinggi dalam jumlah yang sama dengan India. Ia juga yakin bahwa jika tarif naik menjadi 10 persen, industri dapat menanggung biayanya atau membebankannya kepada konsumen Amerika.
Namun, jika tarif AS melebihi 15%, India mungkin terpaksa mencari pasar baru seperti Afrika Timur atau Timur Tengah. Meskipun pasar-pasar ini kurang bernilai, mereka lebih stabil secara strategis.
Risiko rantai pasokan dan keuangan bagi Australia
Sebagai salah satu eksportir farmasi terbesar ke AS, Australia menghadapi risiko keuangan yang serius jika tarif baru diberlakukan. Tahun lalu, negara ini mengekspor produk farmasi senilai sekitar $2,2 miliar ke AS, yang mencakup hampir 40% dari total ekspor farmasinya. Dari jumlah tersebut, sekitar 87% merupakan produk plasma, terutama dari CSL Limited.
Jika tarif 250% diberlakukan, Australia bisa kehilangan hingga $2,8 miliar. Kerugian tidak hanya berasal dari ekspor langsung tetapi juga dari efek domino, yang memengaruhi pasar yang bergantung pada bahan baku dari negara ini. Selain peningkatan biaya, perusahaan akan menghadapi gangguan rantai pasokan dan pengurangan anggaran penelitian dan pengembangan (litbang).
Pemerintah Australia telah menyatakan kekhawatirannya. Menteri Keuangan Jim Chalmers menyebut tarif tersebut "sangat memprihatinkan". Deputi Gubernur Bank Sentral Andrew Hauser memperingatkan bahwa dampaknya bisa sebanding dengan Brexit. Risiko lainnya adalah kebijakan "negara paling disukai" (MFN) Trump. Kebijakan ini akan mengharuskan perusahaan farmasi menjual obat mereka dengan harga lebih murah ke negara lain, yang mengancam mekanisme penetapan harga Skema Manfaat Farmasi (PBS) yang membantu menjaga harga obat tetap terjangkau bagi warga Australia.
Perusahaan bioteknologi Australia juga akan kesulitan untuk meningkatkan modal dan mempertahankan kolaborasi penelitian dengan AS jika hambatan perdagangan terus meningkat.
Irlandia: Model ekonomi terancam
Tarif Trump dapat berdampak besar pada Irlandia. Farmasi menyumbang sebagian besar ekspor Irlandia ke AS senilai lebih dari €70 miliar. Perusahaan-perusahaan besar seperti Pfizer, Merck, dan Eli Lilly telah memilih Irlandia sebagai pusat manufaktur untuk ekspor ke AS dan seluruh dunia.
Tarif 15% mungkin merepotkan, tetapi tarif 150-250% akan melumpuhkan ekspor dan memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan kembali mempertahankan produksi di Irlandia. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kemampuan negara tersebut untuk menarik investasi asing di masa depan dan keberlanjutan model ekonomi berbasis FDI-nya.
Masalah lainnya adalah ketidakpastian. Kurang dari 24 jam sebelum tarif 15% mulai berlaku, Trump mengancam akan menaikkannya menjadi 250%. Hal ini membuat bisnis kesulitan untuk merencanakan jangka panjang, sehingga mereka terpaksa bersiap menghadapi skenario terburuk.
Meskipun perusahaan multinasional lebih memilih untuk menunggu dan melihat, fokus Trump pada sektor farmasi sebagai penyebab utama defisit perdagangan Uni Eropa menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan tidak akan mudah mereda. Mengingat AS masih menjadi pasar obat-obatan terbesar di dunia, setiap perubahan kebijakan perdagangan akan berdampak luas.
Sumber: https://baolaocai.vn/nganh-duoc-toan-cau-ra-sao-neu-my-ap-thue-250-post878932.html
Komentar (0)