
Sejak lahir, Bapak Pham Van Hoc (lahir tahun 1963) buta. Atrofi saraf optik telah membuat dunianya selalu diselimuti kegelapan. Sementara masa kecil anak-anak lain dipenuhi dengan sinar matahari dan pembelajaran, masa kecilnya ditandai dengan langkah-langkah ragu-ragu dan panggilan akrab orang lain untuk menemukan jalan di rumah reyot di sebuah desa pegunungan terpencil.
Orang tuanya membawanya ke mana-mana, berpegang teguh pada harapan samar bahwa obat dapat mengembalikan penglihatannya. Tetapi satu-satunya jawaban yang mereka terima hanyalah keheningan yang tak berdaya, karena penglihatannya tidak dapat disembuhkan. Sejak usia sangat muda, Tuan Hoc terpaksa menerima kenyataan pahit: menjalani seluruh hidupnya dalam kegelapan.
Saat tumbuh dewasa, ia belajar mengingat segala sesuatu menggunakan pikiran dan indranya. Setiap sudut rumah, setiap jalan terukir dalam ingatannya. Ia melakukan hal-hal terkecil yang bisa ia lakukan untuk membantu keluarganya, karena lebih dari siapa pun, ia mengerti bahwa jika ia menyerah, kegelapan tidak hanya akan memengaruhi matanya tetapi juga menelan seluruh hidupnya.

Pada tahun 1990, ketika usianya hampir 30 tahun, hidupnya berubah. Didorong oleh para pejabat dari Asosiasi Tuna Netra di distrik Huong Son (dahulu), Bapak Hoc bergabung dengan asosiasi tersebut, belajar Braille, belajar beternak lebah, dan menerima pinjaman dengan bunga rendah. Bagi seseorang yang belum pernah melihat cahaya, memulai model ekonomi bukanlah hal yang mudah sama sekali. Setiap tugas harus dipelajari dengan tangan, pendengaran, dan ingatan. Ia disengat lebah dan jatuh di kebun berkali-kali, tetapi ia tidak pernah berpikir untuk menyerah.
Ia dengan teliti memeriksa setiap sarang lebah, menghafal lokasi pasti lebah dan setiap jalur di kebun. Butuh waktu lama, tetapi akhirnya, ia menguasai tugas tersebut. Sementara orang lain mengamati lebah dengan mata mereka, ia "melihat" mereka melalui pengalaman dan intuisi.

“Menurut saya ini sangat sederhana. Tidak bisa melihat saja sudah merupakan kerugian; jika saya menyerah, saya hanya akan lebih menderita, dan orang-orang terkasih saya juga akan menderita. Saya berkata pada diri sendiri, jika penglihatan saya tidak baik, saya harus membuat pikiran dan tangan saya ‘lebih cemerlang’ daripada orang lain. Selama saya masih hidup, saya harus bekerja setiap hari,” ujar Bapak Hoc.
Tepat ketika kehidupan mulai stabil, tantangan lain muncul. Pada tahun 2000, istrinya, Nguyen Thi Minh (lahir tahun 1961), menderita depresi dan kesehatannya memburuk secara signifikan. Pada tahun-tahun berikutnya, ia menjalani perawatan terus-menerus dan beberapa operasi kantung empedu, hingga akhirnya kantung empedunya diangkat sepenuhnya pada Oktober 2025 di Rumah Sakit Umum Persahabatan Nghe An. Sejak saat itu, hampir semua beban keluarga jatuh ke pundak pria tunanetra tersebut.
Dalam kegelapan, ia merawat lebahnya, memelihara kerbau dan ayam, serta merawat istrinya yang sakit. Ia mengingat setiap lokasi di rumah, setiap tempat penyimpanan barang, setiap langkah yang diambilnya agar tidak mengganggu istrinya yang sakit. Tidak ada yang membimbingnya, hanya ingatannya dan kesabaran yang telah ia kembangkan selama puluhan tahun hidup tanpa penglihatan.

Baginya, selama ia masih memiliki kekuatan, ia harus terus bekerja; selama ia mampu bekerja, ia merasa berguna. Namun, pasar untuk produknya, terutama madu, terbatas. Beternak lebah adalah pekerjaan berat, dan jika musim panen tidak menghasilkan harga yang baik, semua usahanya akan sia-sia.
Hingga saat ini, model kebun terpadu milik Bapak Hoc, dengan 50 sarang lebah dan ternak, menghasilkan pendapatan sekitar 60-70 juta VND per tahun. Ini bukan hanya angka ekonomi, tetapi juga bukti perjalanan gigih dalam mengatasi kesulitan. Lebih jauh lagi, beliau bersedia berbagi teknik beternak lebahnya dengan orang lain yang berada dalam situasi serupa atau masyarakat setempat yang ingin mempelajari keahlian tersebut.

Tuan Pham Van Hoc belum pernah melihat cahaya, tetapi melalui tekad yang kuat, ia menjalani hidup yang bebas dari kegelapan. Kegelapan tidak dapat menundukkannya; sebaliknya, justru di dalam kegelapan itulah ia menciptakan cahaya bagi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Di komune Son Hong, Bapak Pham Van Hoc saat ini adalah satu-satunya orang yang sepenuhnya buta tetapi tetap berhasil mengembangkan bisnis yang sukses. Beliau adalah panutan yang benar-benar patut dikagumi. Meskipun menghadapi banyak kesulitan, Bapak Hoc telah bekerja keras dan membangun model pertanian kebun yang komprehensif, terutama peternakan lebah untuk produksi madu, yang memberikan penghasilan tetap bagi keluarganya.
Hal yang paling mengagumkan dari Bapak Hoc adalah kemauan dan semangatnya untuk mengatasi kesulitan. Meskipun buta, beliau secara proaktif belajar, tekun dalam pekerjaannya, dan tidak bergantung atau mengharapkan dukungan dari pemerintah atau masyarakat. Beliau juga bersedia berbagi pengalamannya dengan tetangganya, yang sangat terpuji.
Sumber: https://baohatinh.vn/nghi-luc-cua-ong-hoc-post301737.html







Komentar (0)