Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Percakapan Santai: Musim Semi Akan Datang

Dulu, ketika saya berjuang mencari nafkah di Saigon, setiap kali saya merasakan datangnya angin utara, saya merasakan kerinduan yang tak terlukiskan, mengetahui bahwa musim sedang berganti, musim gugur berubah menjadi musim dingin, dan bahwa sebentar lagi saya akan dapat kembali ke rumah menemui ibu saya, kampung halaman saya, dan teman-teman saya…

Báo Thanh niênBáo Thanh niên01/02/2026

Musim dingin di Saigon tidak sedingin di Hanoi; ia lembut, berubah-ubah, dan halus, cukup untuk membuat orang tiba-tiba mengingat, merasakan kasih sayang, atau mencintai sesuatu yang seringkali tak berwujud—seperti angin sepoi-sepoi, gang yang sepi, daun kuning yang jatuh tanpa tujuan, atau sekadar sudut taman yang tenang tempat sosok seorang wanita muda lewat sebentar. Musim dingin di Saigon membuat mereka yang jauh dari rumah merasa lebih kasihan pada nasib mereka sendiri, pada mereka yang mengembara tanpa tujuan dalam hidup.

Selama hampir sepuluh tahun berkelana di Saigon, setiap tahun, ketika angin utara datang, saya sangat merindukan kampung halaman saya. Beberapa kenangan spesifik, tetapi yang lain samar. Di antara semuanya, ibu saya dan rumah kecil kami yang sederhana namun rapi dengan atap jerami berada di urutan teratas daftar kenangan saya. Saya ingat sosok kecil ibu saya yang sendirian duduk dan memancing ikan kecil di bawah dermaga saat senja. Saya ingat kepulan asap biru yang naik dari dapur di belakang rumah, dan terkadang abu harum di bawah penanak nasi berbahan bakar kayu. Kerinduan akan rumah terasa aneh, terutama di hari-hari setelah awal musim dingin. Daun palem tergeletak sembarangan di pinggir jalan, jalan tanah berkelok-kelok yang tertutup daun kuning dan kerikil, cahaya matahari terbenam yang memudar, kokok ayam jantan di taman yang tenang, atau sekadar panggilan anak kecil dari seberang sungai: "Hei... Teo..." Gambaran pedesaan yang sederhana namun damai ini mengaduk jiwa saya setiap kali Tet (Tahun Baru Imlek) mendekat. Dan begitulah, tanah air kita selalu memanggil kita untuk kembali, dengan gambaran pedesaan yang sederhana namun menyentuh hati di bulan-bulan terakhir tahun ini.

Aku ingat, dulu ketika aku berjuang di Saigon, melakukan berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup dan mengirim uang kepada ibuku untuk pengobatannya, aku sering tidak bisa tidur atau tidur nyenyak ketika bulan lunar kesebelas tiba. Kekhawatiran tentang makanan, pakaian, dan uang di akhir tahun disertai dengan kerinduan yang mendalam akan rumah. Hanya membayangkan orang-orang di kampung halaman bersiap untuk Tet (Tahun Baru Imlek) memenuhi hatiku dengan kegembiraan. Karena itu, tidurku sering terganggu dan gelisah. Seberapa besar bunga marigold yang ditanam ibuku sekitar tanggal 15 bulan lunar kesepuluh? Apakah tanaman kalanchoe tumbuh dengan baik? Apakah labu, pare, dan waluh sudah berbuah? Apakah rumah Paman Hai di sebelah sudah membuka penggilingan tepung berasnya untuk membuat kue beras? Pada waktu ini, rumah Bibi Bay pasti sudah membuka oven pembuat kue berasnya; dia akan bangun jam dua pagi untuk menyalakan api, aroma asap daun kelapa memenuhi seluruh lingkungan. Aku bertanya-tanya apakah dia masih punya kekuatan untuk duduk dan membuat kue beras tahun ini? Apakah pasar dadakan yang ramai di dekat rumahku sekarang dipenuhi dengan asam jawa matang, kelapa parut, dan labu siam untuk para bibi dan saudari membuat selai Tet? Setiap pertanyaan membangkitkan kenangan indah di alam bawah sadar seseorang yang jauh dari rumah, merindukan hari-hari sederhana, polos, dan sangat akrab saat mempersiapkan Tet di kampung halaman.

Ada sebuah suara yang selalu terngiang di ingatan saya ketika Tết (Tahun Baru Vietnam) mendekat: suara menumbuk tepung beras untuk membuat kue beras. Gedebuk, gedebuk, gedebuk... Gedebuk, gedebuk... Proses menumbuk dan mencampur tepung dilakukan dengan gerakan berirama, suaranya seperti detak di malam yang sunyi. Pendengar membayangkannya sebagai detak jantung tanah air mereka, dan tahu bahwa ketika suara-suara ini mulai bergema di seluruh desa, musim semi pasti akan datang.

Sumber: https://thanhnien.vn/nhan-dam-mua-xuan-sap-ve-185260131154306487.htm


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Momen-momen bahagia

Momen-momen bahagia

Matahari terbenam

Matahari terbenam

Kota itu bangkit.

Kota itu bangkit.