
Konferensi Nasional yang merangkum upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, pemborosan, dan praktik negatif pada Desember 2025.
Korupsi tidak hanya menyebabkan hilangnya aset publik, tetapi yang lebih berbahaya, mengikis kepercayaan rakyat terhadap Partai dan aparatur pemerintah. Bagi partai yang berkuasa, ini adalah kerugian terbesar. Oleh karena itu, dari ideologi Ho Chi Minh hingga pandangan dan kebijakan Partai saat ini, pencegahan dan pemberantasan korupsi selalu diidentifikasi sebagai tugas vital untuk menjaga integritas sistem politik , melindungi peran kepemimpinan Partai, dan memperkuat fondasi kepercayaan sosial.
Di masa ketika negara memasuki fase pembangunan baru dengan tuntutan yang semakin tinggi terhadap efektivitas dan disiplin pemerintahan, pemberantasan korupsi bukan lagi hanya tentang menangani kesalahan setelah konsekuensinya terjadi. Lebih penting lagi, ini adalah proses pengendalian kekuasaan untuk mencegah korupsi dari dalam, mencegah penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Mengendalikan kekuasaan adalah inti dari pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Sejak usia sangat muda, Presiden Ho Chi Minh telah meramalkan bahaya korupsi, pemborosan, dan birokrasi terhadap kelangsungan pemerintahan revolusioner. Ia menyamakan manifestasi negatif ini dengan "cacing" yang diam-diam menggerogoti batang pohon dari dalam. Gambaran sederhana ini mengandung kebijaksanaan yang mendalam: sebuah organisasi dapat menahan tekanan eksternal, tetapi akan sangat berbahaya jika kerusakan mulai muncul di dalam jajarannya tanpa terdeteksi dan dicegah tepat waktu.
Pemahaman Partai tentang pekerjaan anti-korupsi juga secara bertahap dilengkapi dan disempurnakan seiring dengan perkembangan negara. Dari konsep "memerangi penggelapan" pada tahun-tahun awal revolusi hingga pemikiran "mencegah dan memerangi korupsi" pada periode đổi mới (renovasi), ini merupakan perkembangan penting baik dalam teori maupun praktik.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi tidak bisa berhenti hanya pada penanganan kasus individual. Jika kita hanya fokus pada "pemberantasan korupsi" tanpa memperbaiki lingkungan, korupsi akan tetap memiliki kondisi untuk berkembang. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya menghukum pejabat korup, tetapi juga membangun mekanisme pencegahan, pengendalian kekuasaan, dan penghapusan kondisi yang dapat memunculkan korupsi.
Pada kenyataannya, korupsi selalu terkait dengan penyalahgunaan kekuasaan. Kekuasaan seharusnya menjadi alat untuk melayani rakyat, tetapi tanpa mekanisme kontrol yang efektif, kekuasaan dapat dengan mudah dieksploitasi untuk melayani kepentingan pribadi atau kelompok. Presiden Ho Chi Minh pernah menekankan bahwa kekuasaan pejabat dipercayakan kepada mereka oleh rakyat, bukan direbut sendiri. Ketika pejabat memprioritaskan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum, risiko penyalahgunaan kekuasaan menjadi hampir tak terhindarkan.
Itulah sebabnya Partai telah berulang kali menegaskan prinsip: semua kekuasaan harus dikendalikan secara ketat oleh mekanisme; tanggung jawab sebanding dengan wewenang; semakin tinggi kekuasaan, semakin besar pula tanggung jawabnya. Ini bukan hanya persyaratan dalam manajemen administratif tetapi juga solusi mendasar untuk mencegah korupsi dari akarnya.
Jangan biarkan kekuasaan dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Sejumlah kasus besar belakangan ini menunjukkan bahwa benang merah yang sama di antara pelanggaran serius berasal dari inspeksi dan pengawasan yang longgar atau celah dalam pengendalian kekuasaan.
Ada kalanya proses dilakukan secara menyeluruh dan benar, tetapi hasil akhirnya tetap berupa pemilihan personel yang salah. Realitas ini memberikan pelajaran mendalam tentang manajemen personel dan pengendalian kekuasaan dalam sistem politik. Jika "masukan" tidak dikontrol secara ketat, jika evaluasi personel kurang objektif, atau jika individu korup dibiarkan menduduki posisi penting, konsekuensinya tidak hanya akan memengaruhi satu individu tetapi dapat berdampak pada seluruh sistem.
Yang lebih mengkhawatirkan, korupsi saat ini bukan lagi tindakan mementingkan diri sendiri yang terisolasi, tetapi telah muncul sebagai jaringan kepentingan yang kompleks antara bisnis dan orang-orang yang berkuasa, yang bertujuan untuk memanipulasi kebijakan dan memengaruhi proses manajemen.
Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam pernah memperingatkan tentang situasi di mana "pemerintah tidak berani mengambil keputusan," dan bahkan melihat pengaruh kelompok kepentingan dan penjahat terhadap implementasi kebijakan. Ini bukan hanya risiko korupsi tetapi juga peringatan akan penyalahgunaan kekuasaan jika mekanisme kontrol yang efektif tidak ada.
Ketika kekuasaan dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan tertentu, konsekuensinya bukan hanya hilangnya aset negara tetapi juga distorsi lingkungan pembangunan, penghambatan pembuatan kebijakan, dan kerusakan langsung terhadap kepercayaan publik.
Oleh karena itu, pengendalian kekuasaan harus menjadi persyaratan yang konsisten dalam membangun Partai dan sistem politik. Tidak ada area di luar pengawasan dan tidak ada pengecualian dalam pengendalian kekuasaan.
Pertahankan kepercayaan masyarakat melalui tindakan nyata.
Pada akhirnya, tujuan terbesar dari pemberantasan korupsi bukanlah hanya tentang berapa banyak kasus yang dituntut atau berapa banyak pejabat yang dikenai sanksi. Lebih penting lagi, ini tentang membangun sistem yang bersih, di mana rakyat melihat bahwa kekuasaan dikendalikan, kesalahan ditangani secara adil, dan kepentingan rakyat selalu diutamakan.
Kepercayaan sosial tidak dibangun berdasarkan slogan atau deklarasi formal, tetapi dipupuk melalui tindakan substantif dalam mengendalikan kekuasaan, memilih pejabat, dan menangani secara tegas semua manifestasi negatif.
Apabila pemberantasan korupsi dilakukan dengan tegas, komprehensif, dan konsisten, masyarakat akan lebih jelas melihat semangat menyelaraskan ucapan dengan perbuatan; mereka akan lebih jelas melihat tanggung jawab para kader dan anggota Partai kepada Partai, Negara, dan rakyat.
Perjuangan melawan korupsi tentu masih menghadapi banyak kesulitan dan tantangan di masa depan. Tetapi jika kekuasaan terus "terkurung" dalam "sangkar" mekanisme, jika semua manifestasi penyalahgunaan kekuasaan ditangani secara tegas, dan jika kepercayaan rakyat terus diperkuat dengan hasil nyata, ini tidak hanya akan menjadi syarat untuk membersihkan sistem, tetapi juga fondasi untuk mempertahankan peran kepemimpinan Partai dan memastikan pembangunan berkelanjutan negara di era baru.
Sumber: https://vtv.vn/phong-chong-tham-nhung-bat-dau-tu-kiem-soat-quyen-luc-100260519205349356.htm








Komentar (0)