.jpg)
Saat bulan Mei tiba, dan semilir angin musim panas pertama mulai membawa hawa asin laut, saya teringat akan Hai Phong, kota dengan pohon-pohon flamboyan merah menyala yang berjajar di sepanjang jalan-jalannya yang panjang dan berkelok-kelok. Mungkin tidak ada tempat lain di jalur tanah berbentuk S ini di mana pohon flamboyan memiliki keindahan yang begitu unik dan menjadi jiwa kota seperti di sini.
Hai Phong sering disebut "Kota Pohon Api Merah." Nama ini bukan sekadar deskripsi yang indah; ini adalah tanda yang terukir dalam ingatan banyak orang. Setiap musim panas, seluruh kota tampak diwarnai merah oleh bunga pohon api. Dari sudut jalan kecil dan halaman sekolah tua hingga jalan-jalan di tepi sungai, warna merah yang cerah ada di mana-mana. Bunga pohon api bermekaran seperti nyala api kecil di langit biru yang jernih, penuh gairah dan menyentuh hati.
Pohon-pohon flamboyan di Hai Phong membangkitkan banyak kenangan masa sekolah. Mereka mengingatkan pada dengungan jangkrik di dedaunan hijau, catatan tulisan tangan yang dioperkan dari tangan ke tangan pada hari kelulusan, dan tatapan sendu para siswa yang berdiri di halaman sekolah menyaksikan musim panas berlalu. Setiap kelopak yang gugur seolah membawa segudang kenangan. Beberapa orang, bahkan yang telah puluhan tahun jauh dari rumah, hanya dengan melihat warna merah bunga flamboyan itu saja sudah membangkitkan kenangan tentang Hai Phong, suara kapal di pelabuhan, angin laut yang asin, dan masa muda mereka...
Namun Hai Phong lebih dari sekadar bunga pohon flamboyan. Kota ini juga memiliki keindahan yang kuat dan berjiwa bebas, seperti halnya penduduknya. Warga Hai Phong tulus, lugas, dan sangat emosional. Logat mereka yang tegas menyembunyikan antusiasme dan kemurahan hati. Siapa pun yang pernah duduk di kafe kecil di pinggir jalan, mendengarkan penduduk setempat bercerita tentang laut, pelabuhan, atau musim mekarnya bunga pohon flamboyan di masa lalu, akan mengerti mengapa kota ini membangkitkan kenangan indah.
Ada kalanya di sore hari, berdiri di tepi Sungai Cam, menyaksikan matahari terbenam menyinari air, saya tiba-tiba merasa Hai Phong begitu damai. Di kejauhan, kapal-kapal berlayar dengan tenang menuju laut, membawa serta harapan dan impian masyarakat di wilayah pesisir ini. Di jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan, nyala api pohon flamboyan masih menyala terang seperti api yang tak pernah padam. Tampaknya bunga ini telah menjadi simbol kehidupan yang dinamis di kota pelabuhan ini – sebuah kota yang selalu berupaya untuk bangkit di tengah perubahan zaman.
Hanoi dikenang karena musim gugurnya yang lembut, Hue karena sore hari yang hujan berwarna ungu, dan Da Lat karena kabut dingin dan bunga matahari liarnya. Tetapi Hai Phong dikenang karena warna merah menyala dari bunga-bunganya yang mencolok. Warna yang cerah dan tulus, seperti nyala api masa muda dan cinta abadi untuk tanah air.
Mungkin itulah sebabnya, setiap musim panas, di mana pun saya berada, saya selalu rindu untuk kembali ke Hai Phong. Saya ingin berjalan di sepanjang jalan yang dipenuhi pepohonan flamboyan, mendengarkan suara jangkrik di tengah terik matahari musim panas, dan merasakan semilir angin laut menerpa rambut saya. Dan kemudian saya menyadari bahwa, di antara semua tempat yang pernah saya kunjungi, ada beberapa tempat yang, hanya dengan mengingatnya saja, sudah cukup untuk menggugah hati saya.
Bagiku, Hai Phong seperti ini: sebuah kota yang indah bukan hanya karena lautnya yang biru atau kapal-kapal di pelabuhan, tetapi juga karena warna merah menyala dari bunga-bunga flamboyannya, yang telah menjadi bagian dari puisi, musik , dan kenangan generasi demi generasi. Dan setiap musim panas berlalu, warna merah itu terus menyala dalam diam, menerangi tanah kenangan yang berharga di ujung utara Vietnam.
NGUYEN VAN NHAT THANHSumber: https://baohaiphong.vn/sac-hoa-thuong-nho-thang-5-543390.html






Komentar (0)