Terletak di tengah pegunungan Hoàng Liên Sơn, desa Sin Suối Hồ di provinsi Lai Châu diselimuti lapisan kabut tipis sepanjang tahun. Berada di ketinggian hampir 1.500 meter di atas permukaan laut, desa ini sering digambarkan oleh wisatawan sebagai "desa di awan" karena iklimnya yang sejuk dan lanskap alamnya yang masih alami.
Dalam beberapa tahun terakhir, Sin Suoi Ho telah menjadi destinasi wisata berbasis komunitas yang menarik di wilayah Barat Laut. Di tengah pegunungan yang megah, rumah-rumah tradisional dari tanah liat yang tersusun rapi di sepanjang jalan yang dipenuhi bunga menciptakan suasana unik dan tak terlupakan. Selama musim berburu awan, musim bunga persik, atau pada akhir pekan, banyak homestay di desa tersebut seringkali penuh dipesan.

Warga desa Sin Suoi Ho memperkenalkan ruang wisata komunitas yang mencerminkan identitas budaya unik kelompok etnis Mong di dataran tinggi Lai Chau. Foto: Komune Sin Suoi Ho.
Sin Suoi Ho tidak hanya terkenal dengan lanskap alamnya, tetapi juga dikenal sebagai salah satu model pariwisata berbasis komunitas yang patut dicontoh di negara ini. Pada tahun 2023, desa ini dianugerahi Penghargaan Pariwisata Komunitas ASEAN untuk periode 2023-2025. Ini merupakan pengakuan atas upaya masyarakat setempat dalam melestarikan budaya tradisional, melindungi lingkungan, dan mengembangkan pariwisata berkelanjutan.
Sejak pagi buta, area pasar sudah ramai dengan penduduk setempat dan wisatawan. Tumpukan sayuran liar, anggrek, kain brokat, dan banyak produk lokal lainnya dipajang di sepanjang jalan setapak. Pasar ini bukan hanya tempat untuk bertukar barang, tetapi juga menjadi pengalaman budaya yang menarik bagi wisatawan yang mengunjungi desa dataran tinggi ini.
Selama bertahun-tahun, penduduk desa telah aktif berpartisipasi dalam mengembangkan pariwisata berbasis komunitas. Banyak keluarga telah merenovasi rumah mereka menjadi homestay, membuka layanan makanan dan minuman, atau menjual produk tradisional untuk meningkatkan pendapatan mereka. Namun, sebagian besar keluarga masih mempertahankan arsitektur rumah tanah liat asli, menganggapnya sebagai bagian dari identitas budaya mereka yang perlu dilestarikan.

Para wisatawan mengunjungi pintu masuk situs wisata komunitas Sin Suoi Ho, yang melestarikan kekayaan budaya kelompok etnis Mong di dataran tinggi Lai Chau. Foto: Hai Yen.
Bapak Vang A Chinh, salah satu pelopor pengembangan wisata komunitas di Sin Suoi Ho, mengatakan bahwa yang paling ingin dilestarikan oleh penduduk setempat adalah identitas budaya masyarakat Mong. Menurutnya, wisatawan datang ke sini bukan hanya untuk mengagumi pemandangan tetapi juga untuk merasakan kehidupan sederhana masyarakat dataran tinggi. Jika desa-desa tersebut terlalu banyak berubah, nilai-nilai yang membuat destinasi ini begitu menarik akan perlahan-lahan hilang.
Saat ini, banyak rumah tangga masih mempertahankan kerajinan tradisional sulaman brokat, menyelenggarakan kegiatan budaya etnis, dan melestarikan pasar tradisional. Masyarakat juga secara rutin membersihkan jalan desa, menanam bunga, melindungi lanskap dan sumber air untuk menciptakan lingkungan wisata yang hijau, bersih, dan indah.
Bersamaan dengan pelestarian budaya, pengembangan pariwisata telah berkontribusi dalam menciptakan mata pencaharian bagi masyarakat setempat. Saat ini, desa tersebut memiliki sekitar 20 rumah tangga yang berpartisipasi dalam pariwisata berbasis komunitas, dengan banyak homestay yang diinvestasikan agar ramah lingkungan sambil tetap mempertahankan arsitektur tradisional. Pendapatan dari pariwisata telah membantu banyak keluarga meningkatkan standar hidup mereka, dan pada saat yang sama menciptakan motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya mereka yang melekat.

Wisatawan merasakan pariwisata berbasis komunitas di desa Sin Suoi Ho, komune Sin Suoi Ho, provinsi Lai Chau. Foto: Van Anh.
Namun, pariwisata berbasis komunitas di dataran tinggi masih menghadapi banyak tantangan. Jumlah wisatawan tidak stabil, sebagian besar terkonsentrasi pada musim puncak, sehingga pendapatan masih bersifat musiman. Infrastruktur transportasi di beberapa daerah masih belum sinkron, terutama sulit selama musim hujan. Sebagian penduduk masih memiliki keterampilan terbatas dalam bidang pariwisata, promosi produk, dan koneksi pasar.
Sesuai arahan Dinas Kebudayaan, Olahraga , dan Pariwisata Provinsi Lai Chau, ke depannya, Sin Suoi Ho akan terus berkembang ke arah pariwisata hijau, dengan masyarakat sebagai pusatnya. Program-program untuk mendukung masyarakat dalam meningkatkan keterampilan melayani wisatawan, meningkatkan fasilitas akomodasi, melindungi lingkungan, dan melestarikan budaya tradisional akan terus dilaksanakan.
Penghargaan Pariwisata Komunitas ASEAN tidak hanya berkontribusi untuk meningkatkan posisi Sin Suoi Ho di peta pariwisata regional, tetapi juga membuka peluang untuk mempromosikan citra pariwisata hijau Lai Chau kepada wisatawan domestik dan internasional. Di tengah perubahan kehidupan modern, fakta bahwa masyarakat setempat masih gigih melestarikan rumah tradisional, pasar dataran tinggi, kerajinan tradisional, dan lanskap alam mereka menjadi fondasi penting bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di masa depan.
Sumber: https://nongnghiepmoitruong.vn/sin-suoi-ho-giu-ban-sac-de-phat-trien-du-lich-ben-vung-d814357.html









Komentar (0)