Produk palsu, tiruan, dan berkualitas rendah banyak diiklankan di berbagai saluran informasi, menjebak konsumen. Menurut statistik, pada tahun 2024, pihak berwenang mendeteksi dan menangani 47.135 pelanggaran senilai 425 miliar VND. Situasi ini berlanjut, dengan hampir 10.000 kasus diproses dalam beberapa bulan pertama tahun 2025.
Kemudahan pelacakan produk
Pada bulan November lalu, Kepolisian Provinsi Dong Nai menangkap Nguyen Quoc Vu dan dua kaki tangannya terkait produksi dan penjualan lebih dari 1.600 botol krim tabir surya Hanayuki palsu. Sebelumnya, Kepolisian Kota Ho Chi Minh telah menuntut Vo Thi Ngoc Ngan (Ngan 98) atas produksi dan penjualan produk makanan palsu.

Penerapan teknologi pada pelacakan produk tidak hanya melindungi konsumen tetapi juga membantu pasar berkembang secara berkelanjutan.
Pada tahun 2025, banyak tokoh terkenal seperti Keluarga Hai Sen, Hang Du Muc, Quang Linh Vlog, dan Miss Thuy Tien juga dikenai sanksi karena mengiklankan dan menjual produk di bawah standar yang menyesatkan konsumen.
Dalam konteks ini, penerapan teknologi dalam pelacakan produk telah menjadi solusi mendesak untuk melindungi konsumen dan memastikan transparansi pasar. Kementerian Keamanan Publik telah menguji coba sistem VNIDCheck pada platform VNeID, yang memungkinkan identifikasi dan pelacakan bahan kimia dan prekursor melalui label pelacakan anti-pemalsuan elektronik yang terintegrasi dengan kode QR. Sistem ini dibangun sesuai dengan standar nasional dan menggabungkan teknologi blockchain. Konsumen hanya perlu menginstal aplikasi VNeID dan memindai kode QR untuk memeriksa dan memverifikasi asal produk. Selain itu, Vietnam telah mengoperasikan Portal Pelacakan Produk Nasional sejak Oktober 2024, memperluas kemampuan untuk memantau dan melacak data produk secara nasional. Bersamaan dengan platform nasional, banyak perusahaan teknologi Vietnam telah mengembangkan solusi pelacakan mereka sendiri. Checkee Technology Joint Stock Company menyediakan solusi untuk melacak setiap unit produk di seluruh proses produksi, pengolahan, dan distribusi. Perusahaan seperti TraceVerified, VTRACE, dan VN Check telah menerapkan kode QR, IoT (Internet of Things), AI (kecerdasan buatan), dan blockchain untuk mendigitalkan data produksi, memantau kualitas, dan memastikan transparansi di berbagai industri mulai dari pertanian hingga akuakultur. Saat ini, alat-alat seperti kode QR, NFC, dan chip RFID (chip pintar yang membantu melacak dan memverifikasi asal produk) semakin populer, sehingga memudahkan konsumen untuk memeriksa asal dan informasi produk.
Ibu Truong Thi Thuy Lan, yang tinggal di Kota Ho Chi Minh, mengatakan bahwa untuk memverifikasi produk kosmetik, ia memindai kode QR yang tercetak pada produk tersebut, dan informasi yang relevan seperti situs web perusahaan, bahan-bahan, harga, serta tanggal dan tempat pembuatan akan ditampilkan dengan jelas. Hal ini membantunya membuat keputusan pembelian dengan lebih cepat.
Dunia usaha masih ragu-ragu.
Meningkatnya penerapan teknologi dalam ketertelusuran berdampak positif pada manajemen pasar dan aktivitas ekspor Vietnam. Sistem ketertelusuran yang canggih juga berkontribusi pada peningkatan reputasi bisnis, peningkatan kepercayaan konsumen, dan pemenuhan standar yang semakin ketat dari pasar internasional.
Namun, implementasi aktualnya masih menghadapi banyak keterbatasan. Menurut Bapak Pham Van Quan, Direktur Jenderal Checkee, banyak bisnis baru sampai pada tahap memasang kode QR atau chip elektronik sebagai bentuk identifikasi dan promosi. Saat memindai kode tersebut, konsumen seringkali hanya diarahkan ke situs web atau halaman penggemar, sementara informasi tentang proses produksi, distribusi, dan kontrol kualitas tidak terintegrasi sepenuhnya. Biaya investasi awal juga merupakan hambatan utama, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Bapak Luu Manh Hung, direktur sebuah perusahaan tekstil dan pewarnaan di Kota Ho Chi Minh, mengatakan bahwa untuk membangun sistem ketertelusuran yang sinkron dari input hingga produk jadi, bisnis harus mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar. Selain itu, infrastruktur teknologi, keamanan, standardisasi data, dan personel yang sangat terampil juga membuat banyak bisnis ragu-ragu.
Dari sudut pandang teknologi, Ibu Le Ngoc My Tien, salah satu pendiri dan CEO BlockchainWork JSC, percaya bahwa blockchain merupakan solusi yang menjanjikan karena transparansi dan kekebalan datanya. Setiap tahapan dalam rantai pasokan, mulai dari bahan baku, produksi, transportasi hingga distribusi, dapat dicatat dan ditandatangani secara digital pada platform ini. Ketika suatu produk selesai, sebuah pengenal akan ditempelkan pada kemasan, memungkinkan konsumen dan badan pengatur untuk mengakses seluruh riwayat produk dengan keandalan tinggi. "Namun, aplikasi blockchain masih menghadapi tantangan karena kurangnya sinkronisasi antar entitas dalam rantai pasokan, sementara biaya operasional tetap tinggi," kata Ibu Tien.
Para ahli merekomendasikan agar bisnis mendefinisikan model bisnis mereka dengan jelas dan mengkategorikan produk berdasarkan tingkat risiko untuk memilih model ketertelusuran yang tepat, sehingga menghindari investasi yang tersebar. Selain itu, mereka harus mempertimbangkan penggunaan chip RFID atau kode QR variabel untuk meningkatkan keamanan dan mencegah pemalsuan data. Bagi bisnis besar, teknologi blockchain dapat menjadi standar wajib bagi mitra dan pemasok, menciptakan ekosistem yang transparan dan terpadu mulai dari bahan baku hingga produk jadi untuk konsumen.
Menurut Ibu Le Ngoc My Tien, Negara perlu mendukung pembangunan infrastruktur bersama, memperbaiki kerangka hukum, dan memperkuat hubungan antara lembaga pengelola, para ahli, dan pelaku usaha, serta menciptakan insentif bagi unit-unit domestik untuk menerapkan teknologi secara serentak.
Sumber: https://nld.com.vn/ung-dung-cong-nghe-de-chong-hang-gia-19625112220355254.htm






Komentar (0)