Jawabannya terletak pada bagaimana manusia menjelajahi diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.
AI tidak menciptakan sains.
Dalam gelombang integrasi kecerdasan buatan (AI) ke hampir setiap bidang, sains pun tidak terkecuali. Para peneliti dan pembuat kebijakan mengharapkan model AI, yang dilatih dengan sejumlah besar data ilmiah, untuk secara otomatis bernalar, mengajukan hipotesis, dan bahkan mempercepat terobosan besar. Jadi, akankah AI suatu hari nanti sepenuhnya menggantikan para ilmuwan?
Ambisi ini tercermin dalam Inisiatif Genesis, yang diumumkan oleh AS pada November 2025. Tujuannya adalah untuk membangun dan melatih "agen AI" berdasarkan kumpulan data ilmiah federal untuk "menguji hipotesis baru, mengotomatiskan proses penelitian, dan mempercepat terobosan ilmiah."
Namun, pencapaian "ilmuwan AI" hingga saat ini masih kontroversial. Di satu sisi, sistem AI memang mampu memproses kumpulan data yang sangat besar dan mendeteksi korelasi halus yang sulit dikenali oleh manusia. Di sisi lain, kurangnya akal sehat dan pemahaman kontekstual berarti mereka dapat memberikan saran eksperimental yang tidak bermakna.
Sebagai seorang filsuf dan peneliti yang mengkhususkan diri dalam sejarah dan landasan konseptual sains, Profesor Madya Alessandra Buccella, yang bekerja di Universitas Albany (AS), berpendapat bahwa meskipun AI dapat membantu dalam banyak aspek proses penelitian, AI masih jauh dari mencapai, dan mungkin tidak akan pernah mencapai, makna sebenarnya dari "mengotomatiskan sains." Dia percaya bahwa sains secara intrinsik terkait dengan manusia, dan mesin tidak dapat menggantikan mereka.
Model AI tidak belajar langsung dari dunia nyata. Mereka hanya dapat belajar melalui "dunia" yang dibangun manusia untuk mereka—yaitu, kumpulan data yang telah dipilih, diorganisasi, dan diinterpretasikan. Tanpa ilmuwan yang mengawasi pembangunan dunia data tersebut, AI itu sendiri tidak akan memiliki dasar untuk beroperasi.
Kasus AlphaFold adalah contoh utama. Model ini, dengan kemampuannya untuk memprediksi struktur protein, membuat tim pengembangnya meraih Hadiah Nobel Kimia tahun 2024. Berkat AlphaFold, para peneliti dapat dengan cepat memodelkan struktur protein, sehingga mempercepat desain obat, penelitian penyakit, dan banyak bidang biomedis lainnya.
Namun, AlphaFold tidak "menciptakan" pengetahuan biologis baru dengan sendirinya. Ia tidak memahami protein, penyakit, atau apa yang构成 obat yang baik. Ia hanya menganalisis dan mengatur ulang sejumlah besar informasi yang telah dibuat manusia, dengan cara yang lebih cepat dan efisien.
"Dengan kata lain, AI tidak berada di luar sains untuk menciptakan sains. AI berada di dalamnya, sebagai alat, dan sepenuhnya bergantung pada apa yang telah dipersiapkan oleh sains manusia untuknya," tegas Profesor Madya Alessandra.

Sains adalah aktivitas manusia.
Menurut Alessandra, peran manusia dalam sains tidak terbatas pada mendesain dan "memelihara" model AI. Lebih mendasar lagi, sains sebagai pencapaian intelektual terkait erat dengan nilai-nilai, tujuan, dan cara hidup umat manusia yang sangat khas. Sains didasarkan pada cara manusia berpikir, bertanya, berdebat, percaya, dan meragukan satu sama lain.
Penemuan ilmiah besar bukanlah sekadar teori yang "dirumuskan secara mekanis" dari data. Penemuan tersebut merupakan hasil kerja generasi ilmuwan, dengan beragam minat, bias, dan perspektif, yang bekerja bersama dalam komunitas yang terikat oleh standar integritas intelektual dan etika profesional.
Sejarah struktur heliks ganda DNA adalah bukti nyata akan hal ini. Ketika gagasan ini pertama kali diajukan, tidak ada eksperimen langsung untuk mengkonfirmasinya. Hal ini sebagian besar bergantung pada penalaran, sintesis, dan imajinasi para ilmuwan yang sangat terlatih. Butuh hampir satu abad kemajuan teknologi dan generasi penelitian, dari spekulasi yang samar-samar pada akhir abad ke-19, agar sains sampai pada penemuan yang memberinya Hadiah Nobel pada tahun 1953.
Ini menunjukkan bahwa sains, pada hakikatnya, adalah aktivitas sosial. Gagasan diajukan untuk diperdebatkan, dan interpretasi saling bersaing. Para ilmuwan tidak hanya mencatat dunia tetapi juga membangun pengetahuan melalui praktik, debat, dan standar yang dibentuk dari nilai-nilai sosial, dan bahkan politik.
Dalam gambaran itu, sulit membayangkan sistem AI, yang tidak memiliki kehidupan sosial, nilai-nilai, atau aspirasi, benar-benar "berpartisipasi" dalam sains seperti yang dilakukan manusia. "Namun, potensi besar AI dalam mendorong kemajuan ilmiah tidak dapat disangkal. Oleh karena itu, AI perlu digunakan dengan hati-hati dan bertanggung jawab agar menjadi 'tangan kanan' bagi para ilmuwan," kata Alessandra.
Perangkat AI dapat membantu para ilmuwan menghemat waktu, mengurangi kesalahan, dan lebih fokus pada pertanyaan-pertanyaan besar. AI bisa menjadi alat yang sangat baik. Tetapi AI tidak memiliki alasan untuk penasaran, tidak ada insentif untuk bersikap skeptis, dan tidak memiliki tanggung jawab moral atas konsekuensi dari pengetahuan yang dihasilkannya.
Selama sains tetap menjadi kisah tentang manusia yang mencoba memahami diri mereka sendiri dan dunia, AI hanya dapat berdiri berdampingan dengan para ilmuwan, dan tidak dapat menggantikan mereka.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/vi-sao-ai-khong-the-thay-the-nha-khoa-hoc-post778616.html







Komentar (0)