
Ikatan antara suami dan istri berakar kuat dalam irama gong desa.
Setiap kali desa Bu Sop mengadakan festival, pernikahan, atau perayaan lokal, penduduknya sudah terbiasa melihat Bapak M'Bray dan Ibu Thi Bai muncul bersama ansambel gong. Di tengah suara hutan yang luas dan menggema, beliau memainkan ritme yang kuat, sementara istrinya ikut serta dengan nada-nada lembut dan berirama. Sikap penuh perhatian pasangan lansia ini bersama ansambel gong membuat banyak orang merasakan kecintaan khusus mereka terhadap gong kelompok etnis mereka.
Bapak M'Bray lahir pada tahun 1953, dan Ibu Thi Bai lahir pada tahun 1957. Keduanya dibesarkan dalam budaya gong masyarakat M'nong di desa Bu Sop. Sejak usia muda, suara gong hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari Festival Padi Baru dan Upacara Doa Kesehatan hingga pertemuan malam hari di sekitar api unggun.
Ibu Thi Bai menceritakan bahwa ia belajar memainkan gong pada usia 15 tahun. Saat itu, ia mengamati para orang dewasa di desa berlatih karena penasaran, dan kemudian belajar mengikuti iramanya. Awalnya, itu hanya hobi bagi seorang gadis muda di desa, tetapi semakin ia terlibat, semakin ia jatuh cinta pada suara gong tanpa menyadarinya. Bapak M'Bray belajar memainkan gong bahkan lebih awal dari istrinya. Sejak masa remajanya, ia mengikuti para tetua desa untuk memainkan gong dalam festival desa dan secara bertahap menjadi mahir.
Dahulu kala, pernikahan biasanya diatur oleh para tetua dalam keluarga. Kakek dan nenek saya bertemu melalui perjodohan ini. Tetapi yang membuat kehidupan pernikahan mereka semakin kuat adalah kecintaan mereka yang sama terhadap gong. Setelah menikah, kecintaan itu semakin tumbuh ketika mereka bergabung dengan ansambel gong desa selama setiap festival.
"Ketika kami masih muda, setiap kali mendengar tentang festival di suatu tempat, saya dan suami akan pergi bersama. Terkadang kami akan keluar dari pagi hingga malam dan tetap bersenang-senang," kenang Ibu Thi Bai sambil tersenyum lembut.
Banyak orang di desa bercanda mengatakan bahwa perayaan tanpa gong yang dimainkan oleh Bapak M'Bray dan Ibu Thi Bai terasa seperti kehilangan suasana akrab desa.
Biarkan suara gong terus bergema selamanya di hutan yang luas.
Seiring berjalannya waktu, rambut pasangan lansia itu beruban, tetapi kecintaan mereka pada gong tetap sekuat sebelumnya. Bagi Bapak M'Bray dan Ibu Thi Bai, suara gong bukan hanya sekadar hobi, tetapi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual mereka.
Setiap kali masyarakat setempat mengadakan festival atau menyambut tamu, pasangan ini dengan antusias berpartisipasi. Bahkan ketika lelah, jika mereka mendengar penduduk desa membutuhkan seseorang untuk memainkan gong, mereka menyiapkan kostum mereka dan datang lebih awal bersama-sama. Bagi mereka, selama mereka dapat memegang gong dan ikut serta dalam tarian tradisional, mereka merasa sehat dan bahagia.
Ibu Thi Dan, anggota tim gong desa Bu Sop, mengatakan bahwa Bapak dan Ibu M'Bray sangat menyukai gong dan selalu antusias dalam kegiatan pelestarian budaya tradisional di daerah tersebut. Kapan pun desa atau daerah tersebut perlu tampil, menyambut tamu, atau berpartisipasi dalam festival, mereka selalu hadir.
"Setelah berkecimpung dalam ansambel gong selama bertahun-tahun, semua orang menghormati pasangan lansia tersebut. Terlepas dari usia mereka, mereka tetap sangat antusias, berharap suara gong akan diwariskan kepada generasi mendatang," ungkap Ibu Thi Dan.
Di rumah kecil mereka di desa Bu Sop, suara gong terkadang masih bergema di sore hari yang tenang. Tidak perlu panggung atau kerumunan besar; irama gong yang familiar sudah cukup untuk membangkitkan kenangan masa muda bagi pasangan lansia tersebut. Bapak M'Bray mengatakan bahwa di masa lalu, setiap anak muda di desa tahu cara memainkan gong dan menampilkan tarian xoang. Sekarang, kehidupan telah berubah, dan generasi muda memiliki banyak minat lain, sehingga lebih sedikit orang yang masih terlibat dengan musik gong. Hal ini sering membuat pasangan tersebut merenung.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern di dataran tinggi, gambaran pasangan lansia yang dengan tenang mengiringi dentingan gong selama musim perayaan menyentuh hati banyak orang. Tanpa gembar-gembor atau kemegahan, Bapak M'Bray dan Ibu Thi Bai berkontribusi untuk menjaga agar suara gong desa tetap bergema di pegunungan.
Sumber: https://baolamdong.vn/vo-chong-gia-giu-nhip-chieng-noi-bon-bu-sop-444037.html








Komentar (0)