Hujan deras menyebabkan banjir yang menjebol Bendungan Arbaat pada hari Minggu, hanya 40 kilometer di utara ibu kota Port Sudan. Banjir ini telah menyebabkan para diplomat , lembaga bantuan, dan ratusan ribu orang mengungsi.
"Wilayah itu tak dapat dikenali lagi. Listrik dan pipa air telah hancur," kata Omar Eissa Haroun, kepala otoritas air negara bagian Laut Merah. Laporan awal menyebutkan antara 150 dan 200 orang hilang.
Bendungan Arbaat sudah mulai melemah sebelum banjir melanda. Foto: AFP
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan rumah sekitar 50.000 orang telah terkena dampak banjir, mengutip otoritas setempat, dan menambahkan bahwa angka tersebut hanya menghitung area di sebelah barat bendungan karena area timur tidak dapat diakses.
Bendungan tersebut merupakan sumber air utama bagi Port Sudan, rumah bagi pelabuhan Laut Merah utama negara itu dan bandara operasinya, serta menerima sebagian besar pengiriman bantuan yang sangat dibutuhkan negara itu.
Para pejabat mengatakan bendungan mulai runtuh dan lumpur telah terkumpul selama beberapa hari hujan lebat yang datang lebih awal dari biasanya.
Bendungan, jalan, dan jembatan di Sudan sudah rusak parah sebelum pertempuran antara tentara Sudan dan Pasukan Respons Cepat (RSF) yang merupakan pasukan paramiliter dimulai pada April 2023. Sejak saat itu, kedua belah pihak telah menggelontorkan sebagian besar sumber daya mereka ke dalam konflik, mengabaikan perbaikan infrastruktur.
Beberapa orang yang mengungsi dari rumah mereka yang terendam banjir ke pegunungan kini terjebak, kata Kementerian Kesehatan Sudan. Setidaknya 118.000 orang telah mengungsi dan ratusan orang tewas akibat banjir di Sudan tahun ini, menurut badan-badan PBB.
Hoang Anh (menurut Reuters, AFP, Guardian)
[iklan_2]
Sumber: https://www.congluan.vn/vo-dap-o-sudan-nhieu-ngoi-lang-bi-xoa-so-va-hang-chuc-nguoi-thiet-mang-post309401.html
Komentar (0)