Model pesawat ini harus mencapai kecepatan 885 km/jam, memiliki jangkauan sekitar 6.500 km, dan terbang pada ketinggian hingga 45.000 kaki.

Sebuah pesawat pembom B-47 AS. (Sumber: Angkatan Udara AS)
Menurut standar modern, angka-angka ini mungkin tidak terlalu mengesankan, tetapi pada saat itu angka-angka tersebut mewakili lompatan teknologi yang signifikan. Sebagai perbandingan, B-29 Superfortress, pesawat paling canggih Amerika dalam Perang Dunia II dan kendaraan yang menjatuhkan dua bom atom di Jepang, hanya mencapai kecepatan maksimum sekitar 358 mph, jangkauan 3.500 mil, dan ketinggian terbang maksimum sedikit di atas 31.800 kaki.
Untuk memenuhi persyaratan baru, Boeing mengembangkan B-47 Stratojet. Ahli aerodinamika Boeing, George Schairer, memanfaatkan penelitian tentang sayap menyapu ke belakang yang diperoleh dari teknologi penerbangan Jerman pasca-perang untuk mendesain sayap menyapu ke belakang B-47. Ini adalah keputusan revolusioner dan kemudian menjadi dasar bagi banyak desain pesawat jet modern.
Lebih dari sekadar pesawat pembom militer , B-47 meninggalkan jejak yang mendalam pada industri penerbangan sipil global. Badan pesawatnya yang silindris, sayapnya yang menyapu ke belakang, dan mesinnya yang ditempatkan di dalam nacelle di bawah sayap menjadi model untuk serangkaian pesawat komersial berikutnya.
Dari platform desain B-47 inilah Boeing mengembangkan pesawat pengisian bahan bakar KC-135 dan prototipe Boeing 367-80. Proyek-proyek ini kemudian mengarah pada terciptanya seri Boeing 707 yang terkenal, membuka jalan bagi generasi pesawat komersial berikutnya seperti 727, 737, 747, 757, 767, dan 777. Tidak hanya Boeing, tetapi banyak produsen lain di seluruh dunia juga menerapkan filosofi desain serupa, dari Douglas DC-8 hingga pesawat Airbus.
Pada akhir tahun 1940-an, B-47 dianggap sebagai salah satu pesawat pembom tercepat di dunia. Namun, teknologi mesin jet awal masih terbatas. Setiap mesin B-47 hanya menghasilkan daya dorong sekitar 4.000 pon, jauh di bawah standar saat ini.
Saat terisi penuh dengan bom, pesawat ini harus menggunakan sembilan roket pendorong berbahan bakar padat tambahan untuk membantu lepas landas. Roket-roket ini membantunya berakselerasi cukup cepat untuk meninggalkan landasan pacu dan naik ke ketinggian yang dibutuhkan.
Berkat kecepatannya yang superior dibandingkan dengan banyak pesawat tempur pada masanya, B-47 awalnya hanya dilengkapi dengan dua senapan mesin berat Browning kaliber .50 untuk pertahanan diri. Kemudian, sistem pertahanan ditingkatkan dengan dua meriam otomatis 20 mm.
Kelemahan terbesar B-47 bukanlah daya tembak atau mesinnya, melainkan struktur badan pesawatnya. Setelah bertahun-tahun beroperasi dengan intensitas tinggi, kelelahan logam mulai menimbulkan ancaman serius.
Antara tanggal 13 dan 16 Maret 1958, enam pesawat B-47 jatuh berturut-turut hanya dalam waktu empat hari. Investigasi menentukan penyebab utamanya adalah kegagalan struktural akibat akumulasi tekanan dan kelelahan logam yang berkepanjangan.
Situasi ini memburuk seiring dengan meningkatnya Perang Dingin. Pada akhir tahun 1950-an, pada suatu waktu hampir setengah dari pesawat B-47 Amerika selalu dalam keadaan siaga tinggi, siap untuk bertempur, sebagai pencegahan terhadap Uni Soviet. Frekuensi operasional yang intens ini memberikan tekanan yang sangat besar baik pada pesawat maupun kru pemeliharaan.
Meskipun demikian, B-47 terus memainkan peran penting dalam strategi nuklir AS. Selama Krisis Rudal Kuba tahun 1962, ketika Washington dan Moskow berada di ambang perang nuklir, B-47 adalah salah satu kekuatan kunci yang termasuk dalam rencana tanggap darurat AS.
Selanjutnya, munculnya rudal balistik antarbenua, bersamaan dengan jangkauan yang lebih jauh dan kapasitas muatan yang lebih besar dari pesawat pembom B-52 Stratofortress, secara bertahap mengurangi pentingnya strategis B-47.
Pada tahun 1966, hampir seluruh armada B-47 telah dipensiunkan. Hanya beberapa varian khusus yang terus bertugas dalam misi pengintaian dan pengawasan.
Meskipun tidak sepopuler B-52 atau pesawat pembom strategis Amerika lainnya pada Perang Dingin, B-47 tetap dianggap sebagai salah satu desain paling berpengaruh dalam sejarah penerbangan. Fitur-fitur yang muncul pada Stratojet menjadi standar untuk penerbangan sipil dan militer selama beberapa dekade setelahnya.
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/6-may-bay-nem-bom-b-47-my-roi-chi-trong-4-ngay-169260601172543127.htm








Komentar (0)