Seri "Vietnam Tengah – Warna-Warni Budaya dalam Ritme Kehidupan Baru" akan mengajak pembaca dalam perjalanan dari pedesaan ke kota, menemukan bagaimana warisan budaya dihidupkan kembali, ruang kreatif berkembang, dan peluang terobosan dari industri budaya.
Ini bukan sekadar kisah tentang konservasi, tetapi juga kisah tentang perpaduan tradisi dan kreativitas, sehingga wilayah Tengah dapat melestarikan jiwanya sekaligus menjangkau dunia .
Wisatawan merasakan pelayaran perahu naga di Sungai Huong, menikmati lagu-lagu daerah Hue di ruang puitis ibu kota kuno.
"Darah kehidupan" terancam memudar
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern di wilayah Tengah, masih ada desa kerajinan, lagu, festival... yang terus ada sebagai sumber pembinaan identitas.
Namun, banyak warisan berada di ambang kehancuran. Tanpa pelestarian dan semangat kreatif dari masyarakat, pelaku bisnis, dan pemerintah, warisan-warisan tersebut mungkin hanya tinggal kenangan.
Wilayah Tengah – sebidang tanah sempit yang berbatasan dengan pegunungan dan laut – merupakan rumah bagi banyak nilai budaya yang unik. Mulai dari lantunan opera tradisional yang meriah di desa nelayan kuno Quang Nam, irama menumbuk padi dalam festival padi baru di Dataran Tinggi Tengah, hingga suara dayung membelah ombak dalam festival balap perahu di Quang Ngai… semuanya merupakan harta warisan takbenda yang berharga. Namun, banyak nilai yang terkikis oleh waktu dan gaya hidup urban.
Di Da Nang, desa kerajinan batu Non Nuoc dulunya memiliki ratusan rumah tangga yang memproduksi batu, tetapi kini jumlah pengrajin yang telah mengabdikan hidup mereka untuk kerajinan ini dapat dihitung dengan jari. Di Hue, lagu-lagu rakyat Hue di Sungai Perfume – sebuah warisan yang diakui UNESCO – juga kesulitan menemukan pendengar di era hiburan digital.
Alasannya bukan hanya karena perubahan selera, tetapi juga karena generasi muda kurang tertarik untuk mewarisi. "Saat ini, semuanya bisa dibeli hanya dengan beberapa klik, siapa yang masih punya kesabaran untuk duduk dan mempelajari suatu kerajinan selama puluhan tahun seperti dulu?", pikir pengrajin NVH di Non Nuoc.
Festival balap perahu menciptakan kembali budaya pesisir dan menarik sejumlah besar penduduk lokal dan wisatawan.
Namun, tidak semua kisah menyedihkan. Banyak model pemulihan warisan telah membuktikan bahwa jika tradisi dan kebutuhan baru dipadukan secara harmonis, warisan tidak hanya dapat bertahan tetapi juga menyediakan mata pencaharian.
Di Da Nang, para perajin Non Nuoc telah berkolaborasi dengan para desainer muda untuk menciptakan produk-produk dekoratif modern dari batu seni rupa, yang melayani wisatawan dan diekspor. Hoi An telah membawa hát bội ke dalam ruang kota kuno, dipadukan dengan penjelasan dwibahasa, yang membantu pengunjung internasional memahami dan menikmatinya.
Di Quang Ngai, festival balap perahu tradisional diselenggarakan kembali dalam skala yang lebih besar, dengan kegiatan kuliner dan pengalaman wisata laut, yang menarik ribuan pengunjung.
Semua model ini memiliki kesamaan: menempatkan warisan dalam "urat nadi" masyarakat saat ini. Seni tidak hanya ditampilkan untuk penonton, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memulihkan kebanggaan masyarakat itu sendiri.
Ketika warisan menjadi kekuatan lunak
Warisan budaya tidak dapat dihidupkan kembali jika hanya mengandalkan satu pihak. Bisnis pariwisata perlu secara proaktif terhubung dengan para seniman untuk menciptakan produk wisata budaya yang menarik. Masyarakat lokal harus menjadi subjek pelestarian, alih-alih hanya berdiri di pinggir untuk mendapatkan keuntungan.
Masakan kerajaan Hue dipersiapkan dan disajikan dengan sangat apik, untuk dihidangkan bagi pengunjung sebagai bagian dari perjalanan mereka menemukan budaya ibu kota kuno tersebut.
Salah satu contoh suksesnya adalah proyek "Pariwisata Komunitas Cam Thanh" (Hoi An), yang menggabungkan perahu keranjang dayung dengan cerita tentang memancing, desa kelapa air, dan bernyanyi. Model ini menciptakan lapangan kerja bagi ratusan rumah tangga, sekaligus membantu wisatawan "membeli" pengalaman budaya, bukan hanya produk materi.
Di Hue, beberapa perusahaan perjalanan juga telah bekerja sama dengan seniman rakyat Hue untuk menciptakan tur pengalaman "Satu Malam di Sungai Parfum", yang menggabungkan pesta teh, hidangan kerajaan, dan musik. Berkat tur ini, lagu-lagu rakyat Hue tidak hanya dibawakan di atas perahu naga tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan menjelajahi ibu kota kuno tersebut.
Program nyanyian Hue di Sungai Perfume dipentaskan secara rumit oleh bisnis pariwisata dan seniman, yang keduanya melestarikan warisan dan menciptakan produk wisata unik untuk ibu kota kuno.
Kisah-kisah di atas menunjukkan, bahwa pelestarian warisan budaya tidak "terkurung" di museum, tetapi harus ditempatkan dalam kehidupan, agar dapat beradaptasi dan berkembang sendiri.
Pemerintah daerah di wilayah Tengah telah mengeluarkan banyak kebijakan untuk mendukung pengrajin, berinvestasi dalam infrastruktur untuk desa kerajinan, dan mendorong penyelenggaraan festival berskala besar.
Namun, tantangannya tetap: bagaimana melestarikannya tanpa mengkomersialkannya secara berlebihan, yang menyebabkan warisan kehilangan jiwanya? Bagaimana membuat generasi muda benar-benar terikat padanya, menganggap warisan sebagai bagian dari diri mereka, bukan sekadar "komoditas" untuk melayani pelanggan?
Jawabannya mungkin terletak pada membangun nilai-nilai bersama: membuat orang bangga dengan warisan mereka, dan membuat pengunjung merasakan perbedaan yang hanya dimiliki tempat itu.
Para wisatawan asyik menikmati lagu-lagu Hue yang berirama, di tengah ruang puitis Sungai Perfume di malam hari.
Warisan budaya merupakan bagian dari kekuatan lunak wilayah Tengah, tidak hanya untuk menarik wisatawan tetapi juga berkontribusi dalam memposisikan merek wilayah tersebut. Sebuah desa kerajinan, sebuah lagu, sebuah festival… dapat menjadi simbol jika dirawat, diceritakan dengan tepat, dan disebarkan dengan tepat.
Di era integrasi, melestarikan dan menghidupkan kembali warisan bukan tentang melawan perubahan, melainkan belajar untuk "mengikuti" perkembangan zaman. Ketika masyarakat, pengrajin, pelaku bisnis, dan pemerintah bergandengan tangan, nilai-nilai budaya Kawasan Tengah tidak hanya akan "bertahan", tetapi juga bersinar di kota dan menjangkau dunia.
Sumber: https://baovanhoa.vn/van-hoa/bai-1-hoi-sinh-di-san-cau-chuyen-tu-lang-que-toi-pho-thi-159964.html
Komentar (0)