
Saat ini, publik tidak hanya mengakses konten pers melalui media tradisional seperti surat kabar, situs web, saluran radio dan televisi, tetapi juga melalui berbagai media lain seperti platform media sosial, OTT... Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kantor redaksi dan jurnalis telah "meliput" informasi di berbagai platform, sehingga menjangkau audiens sebanyak mungkin, yang menciptakan pendapatan tambahan. Karena di platform, tayangan dan klik semuanya menghasilkan uang, dan platform media sosial Stasiun Radio dan Televisi Vinh Long dan Nghe An adalah bukti nyatanya.
Pembaca masa kini dapat dengan mudah mendapatkan informasi terbaru melalui akun Facebook kantor-kantor berita besar. Semua orang paham bahwa di mana pun pembaca berada, surat kabar akan selalu ada, tetapi tidak banyak surat kabar yang mampu melakukannya, karena mewujudkannya bukanlah hal yang mudah.
Ruang redaksi tidak hanya perlu mengoperasikan berbagai platform, tetapi setiap jurnalis juga harus mampu melakukan banyak tugas sekaligus dan mahir di semua platform agensi. Seorang jurnalis modern perlu memainkan banyak peran: menulis berita, merekam, mengedit video , mengunggah konten... Batasan antara jurnalis, juru kamera, fotografer, dan teknisi semakin kabur. Seorang jurnalis modern perlu menjadi orang "multimedia", menguasai banyak keterampilan sekaligus.
Pertama-tama, jurnalis harus memahami audiens mereka, apa yang ingin mereka baca, tonton, dengarkan, atau bagaimana mereka perlu berinteraksi. Apakah jurnalis memiliki kemampuan untuk mengedit, memproses, dan menerbitkan video, desain grafis, podcast, dll. ketika audiens membutuhkannya? Jika tidak, audiens memiliki banyak pilihan saluran lain.
Selain kemampuan memproduksi konten, jurnalis modern juga perlu memahami karakteristik setiap platform media, karena setiap platform memiliki format, gaya, dan basis penggunanya sendiri. Misalnya, platform Facebook lebih mengutamakan interaksi sosial, sehingga membutuhkan baris status atau paragraf yang pendek dan menarik untuk mendorong komentar dan berbagi. TikTok adalah platform video pendek, yang membutuhkan video vertikal, hanya berdurasi beberapa lusin detik, yang menarik sejak detik pertama untuk mempertahankan penonton. Sementara itu, YouTube adalah platform yang cocok untuk video horizontal yang panjang, yang dapat dinikmati penonton di komputer, TV, dll.
Jurnalis tidak bisa hanya memproduksi satu konten dan "menyebarkannya" ke berbagai kanal, tetapi perlu menyesuaikannya dengan setiap platform. Hal ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang perilaku pengguna, kemampuan komunikasi dan promosi, serta koordinasi yang baik dalam seluruh ekosistem kanal distribusi. Pembuat konten juga perlu berkoordinasi dengan baik dengan departemen teknis dan bisnis untuk mengoptimalkan iklan pada konten mereka. Hal ini tidak mudah bagi banyak jurnalis, tetapi merupakan tren yang tak terelakkan.
Jurnalis modern bukan hanya pendongeng digital , tetapi juga komunikator—seseorang yang memahami cara mendistribusikan konten secara strategis. Selain menguasai perangkat lunak dan alat, jurnalis perlu memahami SEO (optimasi mesin pencari), menganalisis data pengguna, dan membangun merek pribadi di platform digital.
Faktor penting lainnya adalah kemampuan untuk bereaksi cepat. Dalam lingkungan berita real-time, jurnalis harus berada di lokasi, melakukan siaran langsung, melaporkan dengan cepat, dan memproses informasi hampir seketika. Ini merupakan tantangan besar karena tekanan kerja yang sangat besar dan kebutuhan akan kecepatan pemrosesan yang "secepat kilat". Jika jurnalis tidak tahu bagaimana mengatur waktu dan kesehatan mereka, mereka dapat dengan mudah lelah dan "kehilangan pekerjaan".
Namun, semangat profesional—atau "gairah profesional"—masih menjadi faktor penentu. Banyak jurnalis senior masih bekerja secara fleksibel di berbagai platform, sama seperti generasi muda, menunjukkan bahwa usia tidak sepenting semangat dan gairah.
Untuk memenuhi tuntutan ini, jurnalis perlu terus mempelajari dan memperbarui teknologi baru, terutama aplikasi kecerdasan buatan (AI). Penerapan AI tidak hanya membantu menghemat waktu dan mengotomatiskan proses, tetapi juga membuka cara-cara baru dalam mengakses informasi, mengedit, dan menerbitkan.
Selain kemampuan bekerja mandiri, keterampilan kerja sama tim juga penting dalam lingkungan pers modern. Jurnalis harus berkoordinasi secara efektif dengan rekan kerja dan berbagai departemen untuk menghasilkan produk konten yang lengkap. Keterampilan lunak seperti organisasi kerja, berpikir kritis, dan fleksibilitas dalam menangani situasi merupakan persyaratan yang sangat diperlukan.
Dan akhirnya, betapapun majunya teknologi, nilai-nilai inti jurnalisme tetap harus dilestarikan: etika jurnalistik dan integritas profesional. Jurnalis harus jujur, objektif, dan manusiawi dalam segala situasi.
Perubahan dalam jurnalisme menuntut ruang redaksi untuk melakukan perubahan drastis dalam segala hal, mulai dari rekrutmen dan pelatihan hingga produksi dan distribusi konten. Staf perlu dibekali keterampilan multi-platform sejak sekolah, sekaligus dilibatkan secara erat dalam praktik agar tidak tertinggal.
Jelas, di era media digital, jurnalis modern tidak bisa hanya menulis atau merekam video. Mereka harus "multitasking", menguasai teknologi, memahami audiens, menguasai setiap platform, dan menjadi komunikator yang baik untuk mendistribusikan konten secara efektif, sekaligus menjaga integritas profesional. Itulah cara bagi jurnalis untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memimpin dalam profesi mulia mereka.
Sumber: https://hanoimoi.vn/bao-chi-da-nen-tang-va-nha-bao-da-nhiem-706360.html
Komentar (0)