Pada tanggal 28 September, di Kota Hue, Dana Pencegahan Bahaya Tembakau (Kementerian Kesehatan) bekerja sama dengan Aliansi Pencegahan Bahaya Tembakau Asia Tenggara (Seata) menyelenggarakan konferensi "Asia Pasifik Bebas Rokok" ke-9.

Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 160 delegasi dari lembaga pemerintah , organisasi, dan mitra internasional.
Dengan tema “Destinasi Bebas Rokok: Transformasi Pariwisata di Kawasan Asia Pasifik”, konferensi ini berbagi pencapaian sekaligus tantangan dalam perjalanan membangun destinasi pariwisata yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Berbicara di konferensi tersebut, Ibu Phan Thi Hai, Wakil Direktur Dana Pencegahan Bahaya Tembakau, mengatakan bahwa pariwisata bukan hanya tentang pembangunan ekonomi, tetapi juga tentang melindungi manusia dan melestarikan warisan budaya. Dengan menjadikan destinasi wisata bebas asap rokok, kita tidak hanya melindungi warisan budaya, tetapi juga menyelamatkan banyak nyawa.
Para delegasi menyampaikan kasus-kasus sukses dari kota-kota dan provinsi-provinsi yang telah menerapkan undang-undang bebas asap rokok, termasuk langkah-langkah penegakan hukum yang inovatif, kampanye kesadaran publik, dan peran serta masyarakat setempat dalam inspeksi dan pemantauan.
Kunjungan lapangan para delegasi ke Kota Kekaisaran Hue - warisan budaya dunia yang diakui UNESCO - memperkenalkan nilai-nilai budaya Vietnam yang unik, sekaligus menekankan pentingnya menjaga ruang ini bebas dari asap rokok dan limbah rokok.
"Tidak ada wisatawan yang ingin menghirup asap beracun saat mengunjungi destinasi wisata. Dengan menciptakan ruang publik bebas asap rokok, kita membersihkan udara untuk masyarakat yang lebih sehat dan menciptakan fondasi yang kokoh bagi pengembangan pariwisata. Ini bukan hanya kebijakan kesehatan tetapi juga strategi pariwisata yang cerdas," tegas Ibu Domilyn Villarreiz, Manajer program "Bebas Asap Rokok" Seata.
Selain berfokus pada penguatan penerapan kebijakan bebas asap rokok, para delegasi juga memperingatkan tentang eksploitasi istilah "bebas asap rokok" oleh industri tembakau.

Baru-baru ini, perusahaan tembakau telah mengeksploitasi istilah-istilah ini dalam mempromosikan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan dengan tujuan menyesatkan konsumen, sambil meminimalkan atau menyembunyikan risiko kecanduan dari produk-produk tersebut.
Pakar kesehatan memperingatkan bahwa taktik ini kemungkinan akan membingungkan masyarakat, melemahkan efektivitas upaya pengendalian tembakau, dan mengancam kemajuan menuju lingkungan yang sepenuhnya bebas asap rokok.
“Bebas asap rokok harus memiliki makna yang jelas: udara bersih, masyarakat sehat, masyarakat aman, bukan sekadar iklan produk beracun,” ujar Bapak Alan Zaldivar, delegasi Dewan Kota Iloilo, Filipina.
“Sebagai pemimpin, kita perlu menentang mitos-mitos ini dan memastikan bahwa konsep bebas asap rokok benar-benar bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, bukan industri tembakau,” kata Alan Zaldivar.
Konferensi ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan kawasan Asia-Pasifik, khususnya ASEAN, sebagai model global untuk pariwisata bebas asap rokok dan menginspirasi kawasan lain untuk mengikutinya.
"Ini bukan sekadar kampanye, melainkan sebuah gerakan untuk memastikan bahwa setiap tarikan napas, baik penghuni maupun pengunjung, merupakan harapan hidup. Kita perlu bergandengan tangan untuk menyuarakan lingkungan bebas asap rokok hari ini," ujar Ibu Villarreiz.
Sumber: https://cand.com.vn/y-te/cam-ket-xay-dung-moi-truong-du-lich-khu-vuc-asean-khong-khoi-thuoc-la-i779699/
Komentar (0)