
Pasangan itu saling memberi semangat sebelum operasi - Foto: Disediakan oleh rumah sakit.
Pada tanggal 22 Januari, Rumah Sakit Pusat Militer 108 membagikan kisah mengharukan tentang transplantasi hati dari donor hidup. Sang istri, seorang guru taman kanak-kanak dari etnis Hmong, mendonorkan sebagian hatinya untuk menyelamatkan nyawa suaminya.
Ibu C. (33 tahun), seorang guru taman kanak-kanak di sebuah desa terpencil di provinsi Lai Chau , sudah terbiasa merawat anak-anak yang hampir tidak bisa berbicara, mengajari mereka cara menyapa orang lain dan cara menunjukkan kasih sayang melalui gestur-gestur kecil.
Adapun Bapak Ch. (34 tahun), suaminya, beliau mengabdikan diri pada pertanian, peternakan, dan perkebunan di kampung halamannya. Kehidupan mereka tenang dan sederhana, berputar di sekitar tiga anak mereka yang masih kecil, hingga tragedi menimpa.
Pada Juli 2025, Bapak Ch. mengalami nyeri dan ketidaknyamanan yang sering terjadi di sisi kanan tubuhnya, disertai kelelahan yang terus-menerus. Hasil pemeriksaan rutin mengejutkan keluarganya: ia didiagnosis menderita karsinoma hepatoseluler lobus kiri. Ia kemudian menjalani hepatektomi laparoskopik kiri (pengangkatan lobus kiri hati).
Mengetahui bahwa ia mengidap penyakit mematikan, pria itu, tulang punggung keluarga, jatuh ke dalam keadaan pesimisme dan keputusasaan. Selama hari-hari itu, Ibu C. menjadi penopang emosional suaminya, merawat anak-anak mereka sambil memberi semangat dan menghiburnya di setiap langkah.
Namun, setelah hanya tiga bulan, tumor itu kambuh. Dokter mengatakan transplantasi hati adalah pengobatan yang paling optimal. Ketika istrinya menyatakan keinginannya untuk mendonorkan hatinya kepadanya, Tuan Ch. dengan tegas menolak.
"Saya sakit seperti ini. Anda harus sembuh agar anak-anak tetap bisa memiliki ibu di sisi mereka," katanya.
Namun, Ibu C. dengan lembut menenangkannya: "Pengobatan sekarang sudah maju, hati akan beregenerasi. Kamu akan segera sembuh. Saya percaya keberuntungan akan tersenyum pada keluarga kita, dan kita akan membesarkan anak-anak kita bersama."
Keheningan yang berkepanjangan itu bukanlah persetujuan langsung, melainkan pergumulan batin seorang pria yang ingin hidup tetapi takut menyakiti wanita yang paling dicintainya. Ketenangan dan keteguhan istrinyalah yang secara bertahap menariknya keluar dari rasa takut dan keputusasaannya.
Pada hari operasi, Ibu C. memasuki ruang operasi dengan penuh tekad, sementara Bapak Ch. berbaring di ruangan sebelah, membawa keyakinan yang telah diberikan istrinya kepadanya.
Operasi transplantasi hati berlangsung selama tujuh jam penuh, sebuah bukti dari upaya tim medis, pencapaian pengobatan modern, dan yang terpenting, bukti dari cinta yang abadi dan mendalam.
Setelah bangun dari operasi, pertanyaan pertama yang diajukan suami dan istri kepada dokter adalah tentang satu sama lain. Mengetahui transplantasi berhasil, sang istri tersenyum bahagia. Kesehatan suami dan istri berangsur-angsur stabil dari hari ke hari.
Setelah seminggu, dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit, sementara dia tetap di sana untuk pemantauan dan perawatan.
Kekuatan guru TK Hmong ini tidak hanya menyelamatkan nyawa suaminya tetapi juga menunjukkan kekuatan ajaib dari cinta; ketika cukup kuat, orang dapat mengatasi hari-hari tersulit bersama dan terus bergandengan tangan serta berjalan bersama sepanjang sisa perjalanan mereka.
Sumber: https://tuoitre.vn/co-giao-nguoi-mong-hien-gan-cuu-chong-khoi-ung-thu-20260122155250877.htm








Komentar (0)