
Sebuah kota baru benar-benar lengkap ketika kondisi kehidupan yang diperlukan telah terpenuhi - Ilustrasi
Di banyak kawasan perkotaan baru, lampu apartemen menyala di malam hari, tetapi trotoar pejalan kaki masih belum selesai. Anak-anak berkeliaran di sekitar kaki gedung karena taman belum terwujud. Orang dewasa menerima untuk mengambil jalan memutar yang lebih panjang setiap hari karena jalan penghubung masih hanya berupa rencana di atas kertas. Rumah-rumah dihuni, pembayaran dilakukan, tetapi kehidupan perkotaan tetap dalam keadaan "belum selesai".
Situasi seperti itu semakin sering terjadi. Begitu seringnya sehingga banyak orang menganggapnya sebagai bagian yang tak terhindarkan dari perkembangan.
Menurut kepercayaan umum, sebuah kota dapat disempurnakan secara bertahap setelah proses penjualan selesai.
Namun, seiring dengan terus diluncurkannya proyek-proyek baru, menengok kembali bagaimana janji-janji perkotaan telah dan sedang dipenuhi bukanlah sekadar cerita bagi mereka yang telah membeli rumah, tetapi juga pertanyaan tentang standar pembangunan yang secara diam-diam telah diterima masyarakat.
Saat memutuskan untuk membeli apartemen, orang tidak hanya mempertimbangkan ukuran atau harga. Yang membuat banyak keluarga rela menginvestasikan sebagian besar tabungan mereka adalah prospek kehidupan yang lebih memuaskan: anak-anak memiliki tempat bermain, lansia memiliki ruang untuk berjalan-jalan, transportasi nyaman, dan layanan penting mudah dijangkau.
Unsur-unsur ini seringkali sangat menonjol dalam iklan, rendering, dan deskripsi proyek. Tetapi ketika sampai pada kehidupan nyata, unsur-unsur ini masuk ke dalam kategori "akan dikerjakan nanti".
Hal ini telah memunculkan apa yang dapat disebut sebagai "janji kosong": komitmen terkait infrastruktur dan fasilitas digunakan untuk menjual proyek, tetapi tidak cukup mengikat dalam hal jangka waktu dan akuntabilitas untuk pelaksanaannya.
Ketika perumahan diserahkan terlebih dahulu, dan kondisi tempat tinggal tertunda, kesenjangan itu tidak hilang. Hal itu diimbangi oleh kesabaran, adaptasi, dan penerimaan para penghuni.
Oleh karena itu, masalahnya bukanlah lambatnya penyelesaian pembangunan kota, tetapi janji tersebut telah dibuat tanpa disiplin yang cukup untuk memastikan penyelesaiannya tepat waktu. Ketika komitmen menjadi sesuatu yang dapat diperpanjang tanpa batas waktu, kota mulai beroperasi berdasarkan toleransi, bukan berdasarkan standar.
Dalam desain kelembagaan saat ini, tanggung jawab terbagi dengan cukup baik. Pengembang memiliki alasan terkait sumber daya dan tenggat waktu, pemerintah memiliki kendala prosedural dan perencanaan, dan masyarakat disarankan untuk "berbagi beban."
Setiap mata rantai dalam rangkaian ini memiliki pembenarannya masing-masing. Namun, ketika alasan-alasan tersebut digabungkan, mereka yang menanggung konsekuensi paling langsung tetaplah mereka yang telah membayar penuh untuk kehidupan yang dijanjikan akan kepuasan.
Perlu dicatat bahwa penundaan ini jarang menyebabkan krisis langsung. Penundaan ini tidak berisik atau mengganggu. Sebaliknya, penundaan ini menciptakan biaya sosial yang tak terlihat: waktu perjalanan yang lebih lama dalam lalu lintas darurat, tekanan pada infrastruktur dan layanan di sekitarnya, serta konflik kecil namun berulang dalam kehidupan masyarakat. Biaya-biaya ini tidak tercermin dalam kontrak, tetapi terakumulasi cukup lama untuk mengikis kualitas hidup dan kepercayaan pasar.
Realitas di banyak kawasan perkotaan baru menunjukkan bahwa ketika kondisi kehidupan dasar belum lengkap, penduduk terpaksa menyesuaikan harapan mereka. Mereka menerima kekurangan, menerima solusi sementara, menerima penantian. Penyesuaian ini membantu kehidupan terus berlanjut, tetapi pada saat yang sama secara bertahap menurunkan standar yang dianggap normal oleh masyarakat dalam pembangunan perkotaan.
Pada tingkat yang lebih dalam, kisah ini bukan hanya tentang konstruksi atau real estat. Ini tentang urutan tanggung jawab. Ketika penjualan diprioritaskan dan penyelesaian kondisi kehidupan diabaikan, masyarakat tanpa disadari membalikkan urutan pembangunan yang seharusnya: di mana kehidupan manusia seharusnya menjadi titik awal, bukan tujuan akhir.
Artikel ini tidak ditujukan pada proyek tertentu. Masalahnya terletak pada tingkat kelembagaan, di mana penundaan telah terjadi begitu sering sehingga menjadi hal yang biasa.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya untuk pasar, tetapi juga untuk komunitas secara keseluruhan: apakah kita ingin tinggal di perumahan yang sudah terjual habis, atau di kota-kota yang telah memenuhi janjinya?
Suatu kota baru benar-benar lengkap ketika kondisi kehidupan terpenuhi bukan melalui kesabaran penduduknya, tetapi melalui disiplin dari komitmen yang telah dibuat.
Sumber: https://tuoitre.vn/do-thi-ban-truoc-doi-song-den-sau-20260109110401458.htm







Komentar (0)