
Bapak Tran Hoang Bao menginstruksikan anaknya cara mengoperasikan robot. Foto: KIEU DIEM
Belajar bersama anak Anda
Di pojok belajar Tran Dang Quan, seorang siswa kelas 8 di SMP Le Quy Don di kelurahan Rach Gia, komputer bukan hanya sarana hiburan tetapi juga alat pembelajaran yang penting. Nguyen Thi Phong Lan, ibu Quan, percaya bahwa pembelajaran siswa saat ini sangat berbeda dari sebelumnya. Mereka tidak lagi hanya duduk dan mendengarkan ceramah, mencatat, dan mengerjakan pekerjaan rumah; mereka juga harus proaktif mencari materi, bekerja dalam kelompok, memberikan presentasi, mendesain slide presentasi, dan mempresentasikan ide-ide mereka di depan kelas.
Menurut Ibu Lan, untuk mendidik anak-anak di era digital, orang tua harus proaktif dalam mencari metode pembelajaran dan cara mengerjakan pekerjaan rumah menggunakan aplikasi. Selama studinya, Quan sering secara mandiri mencari alat bantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mendesain presentasi. Terkadang, Quan menemukan bahwa fitur gratis tidak memenuhi kebutuhan belajarnya, jadi dia mendiskusikannya dengan ibunya tentang pembelian perangkat lunak berbayar. Alih-alih langsung setuju atau menolak, Ibu Lan dan putranya meneliti apakah perangkat lunak tersebut benar-benar diperlukan dan sesuai untuk studinya. Hanya ketika dia merasa itu sesuai, barulah dia mendaftarkan putranya untuk menggunakannya. "Saya harus melakukan riset untuk membimbing putra saya," kata Ibu Lan.
Meskipun mengizinkan putranya menggunakan komputer, Ibu Lan tetap mengontrol waktu belajar dan hiburannya dengan ketat. Menurut Ibu Lan, belajar mandiri dan riset melalui komputer dan ponsel pintar semakin penting, tetapi anak-anak tetap perlu dibatasi untuk menghindari hiburan yang berlebihan. Untungnya, Quân memiliki semangat belajar mandiri yang kuat, senang membaca, dan tahu cara mencari informasi di internet. Untuk hal-hal yang membutuhkan riset, Ibu Lan bahkan meminta bantuan putranya karena anak-anak belajar lebih cepat daripada orang dewasa.
Zaman di mana anak-anak secara pasif menuruti setiap kata orang tua mereka telah berlalu. Mengajar anak-anak di era digital mengharuskan orang tua untuk aktif belajar bersama anak-anak mereka untuk memahami perangkat lunak dan aplikasi yang digunakan untuk pembelajaran. Teknologi dapat menjadi masalah jika anak-anak menggunakannya tanpa kendali, tetapi juga dapat menjadi alat yang berguna jika dibimbing dengan benar. Komputer mungkin membawa anak-anak tersesat ke dalam permainan, tetapi juga dapat membantu mereka belajar pemrograman, membuat presentasi, membaca dokumen, belajar bahasa asing, dan mengembangkan pemikiran kreatif.
Dari penggemar game menjadi pencinta teknologi.
Bapak Tran Hoang Bao, yang tinggal di lingkungan Rach Gia, memiliki seorang putra sulung di kelas 12, seorang putra bungsu di kelas 6, dan seorang putri bungsu di prasekolah. Awalnya, Bapak Bao khawatir dengan kecanduan putranya terhadap permainan video dan mencoba menghentikannya, tetapi ia menyadari bahwa melarangnya saja tidak akan efektif dalam jangka panjang.
Pak Bao secara proaktif meneliti cara menulis kode, memprogram game, dan mengembangkan robotika untuk membimbing anak-anaknya dalam belajar dan bermain sesuai minat mereka. Menurutnya, jika anak-anak menikmati bermain game, orang tua dapat membantu mereka memahami bahwa di balik sebuah game terdapat pemikiran pemrograman, desain karakter, pembuatan aturan, pemecahan masalah, dan pembuatan produk.
Berkat bimbingan yang tepat, anak-anak Pak Bao berpartisipasi dalam kompetisi pemrograman dan robotika serta memenangkan penghargaan tinggi di tingkat nasional. Putranya bahkan berkesempatan untuk berpartisipasi dalam kompetisi STEM di Jerman. Bagi Pak Bao, mengajar anak-anak di era digital berarti mengubah minat mereka menjadi motivasi untuk belajar dan mengembangkan kemampuan mereka.
Menurut Bapak Bao, anak-anak zaman sekarang tidak lagi cocok dengan metode pengajaran satu sisi dan otoriter. Orang tua tidak bisa hanya mengatakan, "Kamu harus melakukan ini atau itu," tetapi perlu membantu anak-anak mereka mengenali masalah, menganalisis, menemukan solusi, bekerja dalam tim, mendelegasikan tugas, dan menyelesaikan proyek secara kolaboratif. Selain belajar pemrograman atau robotika, anak-anak Bapak Bao juga dilatih dalam keterampilan lunak seperti memasak, membuat minuman, memperbaiki barang, atau membuat barang dari bahan-bahan yang mudah didapat. Bapak Bao percaya bahwa anak-anak perlu tahu cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara bekerja, mengamati kehidupan, dan menangani tugas-tugas dasar secara mandiri. Terutama, bahasa Inggris adalah keterampilan yang sangat penting, karena merupakan kunci untuk membantu mereka mengakses materi, perangkat lunak, pengetahuan teknologi, dan platform internasional.
Di dunia yang berubah dengan cepat, orang tua tidak harus lebih mahir teknologi daripada anak-anak mereka, tetapi mereka perlu cukup dekat agar anak-anak mereka dapat bertanya, cukup memahami agar mereka percaya dan berbagi, dan cukup sabar untuk mendukung mereka. Di era digital, kesenjangan antara orang tua dan anak-anak bukan hanya tentang usia tetapi juga tentang akses ke teknologi. Jika orang dewasa tetap berada di luar dunia digital anak-anak mereka, pendidikan dengan mudah menjadi otoriter. Sebaliknya, ketika orang tua bersedia belajar bersama anak-anak mereka, mendengarkan mereka, dan menganalisis benar dan salah bersama-sama, teknologi menjadi jembatan, bukan penghalang.
KIEU DIEM
Sumber: https://baoangiang.com.vn/dong-hanh-cung-con-thoi-dai-so-a486744.html








Komentar (0)