Jam tangan bertenaga surya yang dapat bertahan hingga 10 bulan sedang menjadi sensasi di kalangan penggemar teknologi.
LightInk menonjol dengan daya tahan baterainya hingga 10 bulan, layar E Ink, dan pengisian daya tenaga surya, tetapi pembeli harus merakitnya sendiri sebagai proyek DIY sejati.
Báo Khoa học và Đời sống•22/05/2026
LightInk mulai menjadi nama yang patut diperhatikan di komunitas teknologi, menawarkan pendekatan berbeda untuk pasar jam tangan pintar dengan desain layar E Ink, dukungan pengisian daya tenaga surya, dan klaim masa pakai baterai hingga 10 bulan hanya dengan menggunakan baterai kecil 100mAh. Berbeda dengan jam tangan pintar yang tersedia secara komersial seperti Garmin Fenix, yang menyembunyikan panel surya di dalam layar, LightInk sepenuhnya memperlihatkan panel surya di bagian depan perangkat, menciptakan tampilan yang lebih "cyberpunk" dan berteknologi canggih daripada jam tangan pintar tradisional. Yang membuat LightInk cepat menyebar di forum-forum teknologi adalah karena produk ini bukan produk jadi, melainkan proyek DIY untuk komunitas perangkat keras sumber terbuka. Artinya, pengguna harus memesan papan sirkuit khusus, mencetak casing menggunakan printer 3D, dan menyolder komponen elektronik sendiri untuk menyelesaikan perangkat tersebut.
Meskipun desainnya terkesan "buatan sendiri", LightInk memiliki beberapa fitur unggulan seperti GPS terintegrasi, speakerphone, komunikasi jarak jauh LoRa hemat daya, dan layar E Ink dengan lampu latar yang memberikan visibilitas baik di bawah sinar matahari terang maupun di lingkungan dengan pencahayaan rendah. Untuk memaksimalkan masa pakai baterai, para pengembang menghilangkan akselerometer dari perangkat karena komponen ini mengonsumsi daya yang signifikan, sekaligus memanfaatkan konsumsi daya ultra-rendah dari layar E Ink yang dikombinasikan dengan pengisian daya terus menerus dari energi matahari selama penggunaan sehari-hari. Menurut para ahli teknologi, LightInk saat ini menempati posisi yang cukup unik di antara jam tangan digital tradisional dan jam tangan pintar modern, karena masih mendukung beberapa fitur pintar tetapi tidak memiliki ekosistem lengkap seperti aplikasi pendamping di ponsel pintar atau toko aplikasi sendiri seperti Apple Watch atau Wear OS. Kebutuhan untuk merakit sendiri membuat LightInk jelas tidak cocok untuk konsumen rata-rata; namun, perangkat ini menarik bagi komunitas pembuat, insinyur elektronik, dan penggemar yang senang menjelajahi perangkat keras sumber terbuka yang unik, sebuah tren yang semakin populer secara global. Di tengah lanskap di mana jam tangan pintar semakin mirip dalam desain dan fitur, LightInk menunjukkan bahwa pasar perangkat wearable masih memiliki banyak ruang untuk inovasi, terutama di segmen jam tangan hemat energi, dengan memanfaatkan layar E Ink dan menargetkan daya tahan baterai berbulan-bulan, bukan hanya beberapa hari seperti yang terjadi saat ini.
Komentar (0)