![]() |
| Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penurunan lemak tubuh yang berlebihan atau pengurangan lemak yang tidak normal juga dapat mengganggu metabolisme, meningkatkan risiko diabetes dan masalah kesehatan lainnya. (Sumber: Shutterstock) |
Dalam kepercayaan umum, lemak tubuh sering dianggap sebagai "kelebihan" yang perlu dihilangkan. Namun, penelitian baru yang diterbitkan dalam The Journal of Clinical Investigation (AS) menunjukkan bahwa jaringan adiposa bukan hanya tempat untuk menyimpan energi, tetapi juga merupakan "organ" aktif yang memainkan peran penting dalam kesehatan metabolisme.
Obesitas telah lama diketahui meningkatkan risiko diabetes, penyakit kardiovaskular, dan banyak gangguan metabolisme lainnya. Namun, menurut para ilmuwan , kehilangan lemak atau distribusi lemak yang tidak normal juga dapat memiliki konsekuensi yang sama seriusnya. Contoh utamanya adalah FPLD2, suatu kelainan langka yang menyebabkan tubuh kehilangan lemak dan mendistribusikannya secara tidak normal, sehingga meningkatkan risiko diabetes dan gangguan metabolisme lainnya.
Berdasarkan kenyataan ini, Dr. Elif Oral, dokter dan profesor Metabolisme, Endokrinologi dan Diabetes, Dr. Ormond MacDougald, peneliti Jessica Maung, dan kolega mereka dari Fakultas Kedokteran Universitas Michigan (AS) berfokus pada klarifikasi perubahan yang terjadi di dalam jaringan adiposa ketika jaringan ini melemah pada lipodistrofi.
Tim peneliti menemukan bahwa sel-sel lemak telah mengalami perubahan yang sangat serius. Untuk memverifikasi hal ini, mereka melakukan pengujian pada tikus dan menemukan bahwa gen lamin A/C secara selektif dinonaktifkan pada sel-sel lemak. Gen ini juga merupakan gen yang bermutasi pada penderita FPLD2.
Analisis jaringan tikus dan manusia mengungkapkan gangguan serius pada aktivitas gen. Perubahan ini menyebabkan sel lemak tidak mampu menyimpan dan memproses lipid secara efisien. Bersamaan dengan itu, baik sel lemak maupun sel imun di sekitarnya memasuki kondisi peradangan. Lebih lanjut, mitokondria di dalam sel lemak kehilangan fungsi normalnya.
Menurut para ilmuwan, kombinasi faktor-faktor inilah yang menciptakan lingkungan di mana jaringan lemak melemah dan secara bertahap menghilang. Ketika jaringan lemak tidak lagi berfungsi normal, tubuh juga kehilangan mata rantai penting dalam mengatur lemak dan melepaskan hormon metabolisme esensial, sehingga meningkatkan risiko diabetes dan penyakit hati berlemak.
Dr. Elif Oral mencatat bahwa temuan ini menyoroti peran penting jaringan adiposa yang sehat dalam menjaga stabilitas metabolisme dan memastikan fungsi tubuh yang efisien. Menurutnya, diabetes tipe 2 bukan hanya penyakit sel beta tetapi juga sel lemak.
Berdasarkan hasil penelitian, para ilmuwan percaya bahwa pendekatan pengobatan di masa depan mungkin tidak hanya berfokus pada pengendalian kadar lemak, tetapi juga pada perlindungan atau pemulihan fungsi jaringan adiposa.
Sumber: https://baoquocte.vn/giam-mo-qua-muc-rui-ro-khong-kem-beo-phi-382065.html







Komentar (0)