Kehangatan dari atap rumah pedesaan

Hari-hari terakhir tahun lama, saat kita bersiap menyambut tahun baru, selalu membawa suasana unik—perpaduan antara kesibukan dan hiruk pikuk, namun juga rasa ketenangan. Ini adalah waktu ketika orang-orang sibuk menyelesaikan tugas, mengemas barang-barang mereka untuk pulang ke keluarga mereka, dan pada saat yang sama, waktu untuk refleksi, berfokus pada nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Dalam suasana ini, setiap jalan, sudut pasar, dan atap rumah tampak mengenakan mantel baru, dipenuhi dengan napas musim semi.

Di sore terakhir tahun itu, matahari mulai terbenam, dan angin terasa lebih sejuk. Di sepanjang jalan menuju kampung halaman mereka, kerumunan orang bergegas bolak-balik, membawa hadiah, amplop merah, dan harapan kecil untuk reuni musim semi yang penuh sukacita. Di pasar, para pedagang yang menjual bunga, tanaman hias, dan permen berlama-lama sedikit lebih lama, berharap dapat menjual semua yang mereka miliki agar mereka bisa pulang tepat waktu untuk Malam Tahun Baru.

Di setiap keluarga, suasana persiapan Tết sangat ramai. Ada yang menyapu halaman, membersihkan meja dan kursi, dan merapikan pintu; ada pula yang mengatur nampan berisi lima jenis buah, semangka, dan bunga hias... Di banyak keluarga di Delta Mekong, pembagian kerja sangat alami. Laki-laki mengerjakan pekerjaan berat, perempuan memasak, dan anak-anak membantu pekerjaan yang lebih ringan. Semua orang bekerja bersama; tidak ada yang tertinggal dalam siklus ini. Dalam pembagian inilah ikatan keluarga dipupuk secara tenang dan langgeng.

Kue beras krispi adalah salah satu camilan favorit banyak orang di wilayah Delta Mekong.

Di dapur kecil itu, gambaran para ibu dan nenek yang sibuk bekerja di dekat api yang menyala menjadi hal yang biasa. Selai kelapa, selai buah ara, pisang kering, kue beras, kue ketan... disiapkan satu demi satu. Aroma ketan segar, santan, dan gula karamel bercampur dengan asap dapur, menciptakan cita rasa Tet yang unik di pedesaan.

Momen paling membahagiakan adalah ketika seluruh keluarga berkumpul untuk membungkus bánh tét (kue ketan Vietnam). Setiap lembar daun dibersihkan dengan hati-hati, ketan dicuci dengan teliti, dan setiap irisan daging dan kacang hijau disusun rapi. Ada yang membungkus dengan terampil, ada yang mengikat tali dengan kuat, dan ada pula yang menyalakan api dan mengawasi panci... Kue-kue yang berbentuk persegi sempurna dan seragam ini bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga puncak dari kerja keras, kesabaran, dan cinta.

Saat senja, setelah berjam-jam memasak, panci berisi ketan dikeluarkan dari panci. Hidangan persembahan untuk leluhur disiapkan dengan khidmat: ketan, babi rebus dengan telur, pare rebus, sawi asin, bawang merah asin… Hidangan sederhana dan akrab ini sepenuhnya mewujudkan pengabdian tulus keturunan kepada leluhur mereka.

Di depan altar leluhur, dupa dinyalakan dalam suasana khidmat. Semua orang dengan penuh hormat berdoa untuk tahun baru yang damai dan sejahtera, serta keharmonisan keluarga. Setelah upacara, seluruh keluarga berkumpul di meja makan, menikmati hasil jerih payah dan kerja keras selama setahun. Betapa pun sibuknya kehidupan di luar, di saat-saat terakhir tahun ini, rumah keluarga tetap menjadi tempat paling damai untuk kembali.

Saat Tết (Tahun Baru Imlek Vietnam), orang-orang sering membuat banh tet (kue beras ketan) untuk dipersembahkan kepada leluhur mereka.

Mengabadikan semangat Tet dalam setiap kue dan setiap sajian manisan buah.

Salah satu ciri khas Tet (Tahun Baru Imlek) di daerah pedesaan Provinsi Dong Thap adalah pelestarian kerajinan pembuatan kue dan selai tradisional. Di tengah pasar barang yang semakin beragam, banyak keluarga masih tetap mempertahankan kebiasaan membuat kue dan selai secara manual untuk konsumsi pribadi dan persembahan kepada leluhur mereka.

Di dusun Tan Dan, kelurahan Cao Lanh, dapur kecil keluarga Ibu Nguyen Thi Tho selalu ramai dengan aktivitas menjelang Tết. Dari pagi hingga larut malam, anggota keluarga sibuk mencuci beras ketan, membersihkan daun, menyiapkan isian, dan menyalakan api untuk memasak kue beras sepanjang malam. Bagi Ibu Tho, sepanci kue beras bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga simbol musim semi dan reuni keluarga.

"Membuat bánh chưng (kue beras tradisional Vietnam) itu pekerjaan berat; Anda harus mengawasi api berjam-jam, tetapi Anda sudah terbiasa. Tanpa bánh chưng selama Tết, suasana musim semi terasa tidak lengkap," kata Ibu Tho. Selain untuk keluarganya, ia juga membuat bánh chưng untuk orang-orang di dalam dan luar daerah setempat, yang turut menambah penghasilan keluarganya setiap akhir tahun.

Lapisan nasi ketan putih, irisan daging, dan isian kacang hijau yang tersusun rapi, melambangkan harapan untuk tahun baru yang makmur dan berlimpah. Bagi banyak orang, nilai banh tet terletak bukan pada penampilannya atau harganya, tetapi pada ketulusan dan ketelitian orang yang membuatnya.

Selain kue ketan (bánh tét), kerajinan pembuatan selai tradisional juga dilestarikan di banyak daerah pedesaan. Di dusun Hoa Dinh 2, komune Phong Hoa, keluarga Ibu Do Thi Suong telah terlibat dalam pembuatan selai selama hampir 20 tahun. Setiap tahun, mulai dari bulan ke-10 kalender lunar, ia mulai menyiapkan bahan-bahan dan mengeringkan selai di halaman rumahnya, menciptakan pemandangan khas akhir tahun.

Menurut Ibu Suong, membuat selai membutuhkan kesabaran dan pengalaman. Mulai dari memilih bahan, mempersiapkannya, menjemur di bawah sinar matahari, hingga merebusnya dalam gula, semuanya harus dilakukan dengan hati-hati. "Satu kesalahan saja dan seluruh selai akan rusak," katanya. Yang terpenting, keluarganya tidak menggunakan pewarna atau pengawet buatan, sehingga menjamin keamanan bagi konsumen.

Berkat komitmennya terhadap kualitas dan reputasi, produk selai keluarga Ibu Suong selalu mendapatkan kepercayaan pelanggan. Setiap liburan Tet, beliau membuat berbagai macam selai, seperti selai pisang kembung, selai asam jawa, selai jahe, selai kelapa, selai gooseberry, dan selai melon, semuanya dengan cita rasa otentik dari kampung halamannya.

Selai asam jawa populer dan banyak dikonsumsi selama Tahun Baru Imlek.

Bagi banyak keluarga, membuat kue dan selai tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan tetapi juga melestarikan kerajinan tradisional, mewariskannya kepada anak dan cucu mereka. Malam-malam yang dihabiskan bersama di dapur, membungkus kue, membuat selai, berbagi cerita tentang tahun yang lalu, dan mendiskusikan rencana untuk tahun baru telah menjadi "kelas" alami untuk mempelajari budaya dan etika keluarga.

Banyak anak muda, dengan berpartisipasi bersama orang tua dan kakek-nenek mereka dalam tugas-tugas ini, telah memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang nilai kerja keras, ketekunan, dan rasa syukur. Melalui hal ini, kesadaran akan pelestarian identitas budaya terbentuk secara alami dan berkelanjutan.

Di tengah kehidupan modern, di mana segala sesuatu dapat dibeli dalam keadaan jadi, kue ketan dan selai buatan rumah tetap memiliki tempat istimewa. Hal ini karena setiap potong kue dan selai tidak hanya mengandung cita rasa alami tetapi juga perasaan, kenangan, dan perhatian dari orang yang membuatnya.

Dari rumah-rumah tempat keluarga berkumpul di malam terakhir tahun hingga dapur-dapur yang menyala dengan api sepanjang malam, dari panci-panci banh tet (kue beras tradisional Vietnam) yang mengepul hingga halaman-halaman yang dipenuhi dengan manisan buah kering, semua elemen ini menciptakan gambaran semarak tentang Tet di provinsi Dong Thap. Ini adalah gambaran yang sederhana namun mendalam, mencerminkan hubungan yang erat antara orang-orang dan keluarga mereka, tanah air, dan tradisi. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, melestarikan adat istiadat lama—dari persembahan leluhur dan panci-panci banh tet hingga manisan buah tradisional—adalah cara masyarakat Dong Thap mempertahankan "semangat Tet," melestarikan ikatan yang menghubungkan antar generasi.

Dan saat melodi musim semi memenuhi udara, saat kembang api Malam Tahun Baru menyala di langit, kehangatan keluarga dengan tenang meresap ke setiap rumah kecil. Inilah fondasi yang menjadi pijakan setiap orang untuk memasuki tahun baru dengan penuh percaya diri, membawa serta harapan akan musim semi yang damai, bahagia, dan penuh kasih sayang.

    Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/giu-hon-tet-tu-gian-bep-que-1026094