Setelah perang saudara meletus di Suriah pada Maret 2011, hubungan antara negara tersebut dan Turki menjadi tegang.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Sumber: Anadolu) |
Pada tanggal 28 Juni, Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk tidak membangun kembali hubungan dengan Suriah.
“Sebagaimana kita mengembangkan hubungan dengan Suriah bersama di masa lalu, kita akan bertindak bersama dengan cara yang sama,” tegas Erdogan.
Menegaskan bahwa Ankara tidak berniat mencampuri urusan dalam negeri Damaskus, pemimpin Turki tersebut berkata: "Karena rakyat Suriah adalah komunitas yang telah hidup bersama sebagai bangsa yang bersaudara."
Sebelumnya, pada 26 Juni, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengumumkan bahwa negaranya masih siap menyambut inisiatif terkait hubungan dengan Türkiye.
Pejabat Damaskus telah berulang kali menyatakan bahwa Ankara perlu mengakhiri kehadiran militernya di Suriah barat laut agar kedua pihak dapat bergerak maju menuju normalisasi hubungan.
Pada bulan April 2023, menteri pertahanan dan kepala intelijen dari Iran, Rusia, Suriah, dan Türkiye mengadakan pembicaraan yang bertujuan memulihkan hubungan Turki-Suriah.
Hubungan antara kedua negara telah tegang sejak pecahnya perang saudara Suriah pada Maret 2011. Ankara telah bersekutu dengan beberapa kelompok oposisi melawan Damaskus.
Sejak 2015, Turki telah melancarkan beberapa operasi militer di Suriah, menuduh pemerintah Suriah mendukung Partai Pekerja Kurdistan, kelompok pemberontak yang dianggap sebagai organisasi teroris oleh Ankara.
[iklan_2]
Sumber: https://baoquocte.vn/tong-thong-tho-nhi-ky-erdogan-khong-co-ly-do-gi-de-khong-thiet-re-establish-quan-hi-voi-syria-276798.html
Komentar (0)