
Ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Angka-angka yang dirilis pagi ini menunjukkan bahwa ekonomi Jepang tumbuh lebih baik dari yang diperkirakan pada kuartal pertama berkat hasil ekspor dan belanja konsumen yang positif, meskipun prospeknya mungkin akan menghadapi tekanan dari konflik Timur Tengah dalam waktu dekat.
Produk domestik bruto (PDB) riil Jepang pada kuartal pertama tumbuh 2,1% secara tahunan, jauh lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 1,7%. Konsumsi pribadi dan investasi bisnis keduanya meningkat sebesar 0,3%, mencerminkan dukungan berkelanjutan dari laba perusahaan dan upah untuk pemulihan ekonomi. Namun, analis memperingatkan bahwa kenaikan tajam harga energi akibat konflik di Timur Tengah dapat meredam pertumbuhan di kuartal mendatang, dan dapat membuat Bank Sentral Jepang (BOJ) lebih berhati-hati dalam rencana kenaikan suku bunganya.
Dalam perkembangan terkait, saat berbicara kepada wartawan pada pertemuan menteri keuangan G7 pada 18 Mei di Paris, Jepang, Menteri Keuangan Satsuki Katayama menekankan bahwa pemerintah siap mengambil "langkah-langkah yang tepat bila diperlukan" di tengah berlanjutnya depresiasi yen terhadap dolar AS.
Ibu Katayama menunjukkan bahwa memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah, bersamaan dengan aktivitas spekulatif di pasar keuangan, dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap pelemahan yen.
Sebelumnya, terdapat laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing pada tanggal 30 April untuk menghentikan depresiasi yen setelah nilai tukarnya melebihi 160 yen per 1 USD. Baru-baru ini, yen terus mengalami depresiasi secara bertahap terhadap USD, berfluktuasi antara 158,67 dan 158,77 yen per 1 USD pada sesi perdagangan pagi tanggal 18 Mei di pasar New York.
Sumber: https://vtv.vn/kinh-te-nhat-ban-tang-truong-vuot-du-kien-100260519133157638.htm








Komentar (0)