
Lingkungan pembelajaran yang fleksibel
Bagi banyak siswa, perpustakaan digital bukan lagi konsep asing tetapi telah menjadi teman sehari-hari dalam belajar mereka. Le Huynh Hong Phuc, seorang siswa kelas 10A5, berbagi bahwa sejak mengakses perpustakaan digital, membaca menjadi jauh lebih mudah dan lebih beragam daripada sebelumnya.
Menurut saya, sumber belajar digital tidak hanya membantu memperluas pengetahuan tetapi juga secara langsung mendukung pembelajaran, terutama dalam bidang Sastra – mata pelajaran yang membutuhkan akumulasi keterampilan berbahasa dan apresiasi.
"Sejak saya mulai menggunakan perpustakaan digital, saya bisa membaca banyak buku. Membaca sangat membantu meningkatkan nilai Sastra saya karena ada begitu banyak bahasa yang indah dan pengetahuan yang kaya," ungkap Hong Phuc.

Selain sekadar mendukung pembelajaran, membaca membantu siswa mengembangkan pemikiran sistematis dan menyerap pengetahuan secara lebih koheren dan mendalam daripada sekadar belajar melalui ceramah di kelas.
Salah satu keunggulan paling menonjol dari perpustakaan digital adalah aksesibilitasnya yang fleksibel. Mahasiswa dapat membaca buku kapan saja, di mana saja, hanya dengan perangkat pintar yang terhubung ke internet.
"Anda tidak harus pergi ke perpustakaan untuk membaca buku; selama Anda memiliki internet dan kode QR, Anda dapat mengaksesnya di mana saja," tambah Hong Phuc.

Setiap siswa diberikan kode akses untuk masuk ke sistem perpustakaan elektronik, memungkinkan mereka untuk dengan mudah mengakses koleksi materi yang kaya dari kenyamanan rumah mereka sendiri, membantu menjadikan membaca sebagai kebiasaan rutin.
Perpustakaan digital tidak hanya menawarkan kemudahan tetapi juga membuka peluang untuk mengakses koleksi buku yang lebih beragam, membantu siswa menemukan sumber pengetahuan baru yang sebelumnya kurang mudah diakses.
Bagi Tran Gia Thinh, seorang siswa di SMA Son My, membaca buku melalui platform digital memungkinkannya untuk dengan mudah mengakses berbagai macam buku, sehingga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai setiap karya.
"Membaca di perpustakaan digital memudahkan saya mengakses berbagai jenis buku yang sebelumnya tidak saya kenal, dan juga membantu saya lebih memahami nilai yang dibawa oleh setiap buku," kata Gia Thinh.

Sementara itu, Pham Huynh Le Na percaya bahwa perpustakaan digital membuat pencarian informasi lebih cepat dan efisien, serta secara signifikan mendukung pembelajaran dan studi mandiri. "Hanya dengan satu klik, saya dapat menemukan informasi yang dibutuhkan… membantu saya belajar lebih banyak," ujar Na.
Memupuk budaya membaca
Perpustakaan digital SMA Son My resmi diluncurkan pada September 2025, dibangun melalui kontribusi bersama dari para alumni dan donatur dermawan selama acara "Lighting Up Dreams - Homeland in Our Hearts" Caravan Journey yang diselenggarakan oleh Connecting Love Club untuk merayakan ulang tahun ke-40 sekolah.
Bersamaan dengan perpustakaan tradisional, perpustakaan digital memungkinkan siswa untuk mengakses materi pembelajaran, mendengarkan buku audio, menyelesaikan tugas, dan mencari informasi secara online. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih fleksibel, proaktif, dan relevan dengan tren pendidikan modern.

Sekolah juga menyelenggarakan "sesi membaca perpustakaan" dalam jadwal rutin, memberikan siswa waktu untuk membaca dengan fokus dan memungkinkan mereka menyelesaikan tugas setelah setiap sesi, sehingga mengembangkan apresiasi dan keterampilan berpikir kritis mereka.
Saat ini, sistem sumber daya e-learning mencatat peningkatan akses yang stabil setiap harinya, yang jelas mencerminkan meningkatnya minat dan kebiasaan menggunakan perpustakaan digital di kalangan siswa.
Selain itu, menggabungkan perpustakaan tradisional dan digital membantu sekolah mempertahankan ruang baca mendasar sekaligus memperluas akses ke pengetahuan dengan cara modern.

Kegiatan-kegiatan yang mendorong budaya membaca juga dilaksanakan secara terkoordinasi, seperti pengenalan buku, klub membaca, kuis buku, dan kegiatan ekstrakurikuler kreatif, yang berkontribusi untuk memperkaya kehidupan spiritual siswa.
“Transisi ke model perpustakaan digital telah membantu siswa memanfaatkan waktu luang mereka dengan lebih baik untuk membaca dan meneliti materi, alih-alih hanya mengandalkan buku kertas seperti sebelumnya. Sistem perpustakaan elektronik tidak hanya mendukung akses ke materi tetapi juga membantu sekolah memantau tingkat interaksi siswa, sehingga memberikan panduan yang tepat dalam mengembangkan budaya membaca,” kata Ibu Huynh Thi Sam, pustakawan di SMA Son My.

Bapak Pham Bach Khoa, Kepala Sekolah SMA Son My, menekankan bahwa di era digital, perpustakaan bukan hanya tempat untuk menyimpan pengetahuan tetapi juga berperan sebagai "filter" informasi yang penting, membantu siswa mengakses sumber pengetahuan yang otentik dan selektif.
Menurut profesor tersebut, kombinasi harmonis antara buku kertas dan buku digital adalah solusi optimal, yang melestarikan nilai membaca tradisional sekaligus memenuhi tuntutan era teknologi.
Dari awal yang sederhana, perpustakaan digital di SMA Son My secara bertahap menegaskan perannya sebagai "jembatan pengetahuan" di era digital. Lebih dari sekadar mendukung pembelajaran, model ini juga berkontribusi dalam menumbuhkan budaya membaca, memupuk semangat belajar mandiri, dan memperluas pintu pengetahuan bagi siswa di era baru ini.
Sumber: https://baovanhoa.vn/xuat-ban/lan-toa-tri-thuc-tu-khong-gian-so-hoc-duong-219819.html






Komentar (0)