![]() |
Bapak Roland Wee, Ketua Great Place To Work ASEAN dan ANZ. Foto: GPTW. |
Great Place To Work baru saja mengumumkan 35 perusahaan teratas dalam peringkat Tempat Kerja Terbaik di Vietnam 2026. Peringkat ini didasarkan pada survei anonim terhadap hampir 75.000 pekerja, yang mewakili suara lebih dari 111.000 karyawan di berbagai bisnis di Vietnam.
Tahun ini, daftar bisnis besar mencakup banyak perusahaan multinasional dan perusahaan domestik seperti DHL Vietnam, Marriott International, Heineken Vietnam, PNJ Group, dan Greenfeed.
Di antara bisnis-bisnis yang sedang berkembang terdapat banyak nama terkemuka di sektor perhotelan, teknologi, perawatan kesehatan, dan asuransi, seperti Hilton, Siemens Healthineers, FWD Vietnam Life Insurance Company Limited, dan Capella Hotels and Resorts.
Sementara itu, sektor usaha kecil menyaksikan kehadiran perusahaan teknologi dan farmasi seperti Cisco, Takeda Vietnam Pharmaceuticals Ltd, dan HP Technology Vietnam.
Roland Wee, Ketua Great Place To Work ASEAN dan ANZ, meyakini bahwa dunia sedang memasuki periode perubahan mendalam karena ketidakstabilan ekonomi, ketegangan geopolitik , dan gelombang AI terjadi secara bersamaan.
Para pekerja tidak lagi bekerja semata-mata untuk mendapatkan gaji.
Menurut Roland Wee, model tenaga kerja "transaksional"—di mana karyawan menukar loyalitas dengan pendapatan—secara bertahap kehilangan efektivitasnya.
"Para pekerja saat ini menginginkan lebih dari sekadar gaji yang bagus. Mereka perlu merasa didengarkan, terhubung dengan tujuan organisasi, dan benar-benar diperhatikan," katanya.
Perwakilan dari Great Place To Work menyatakan bahwa bisnis yang lambat beradaptasi mengalami penurunan keterlibatan karyawan dan peningkatan signifikan dalam tingkat pergantian karyawan.
Dalam konteks ekonomi yang terus berubah, banyak organisasi di ASEAN juga beralih ke arah membangun lingkungan kerja yang memprioritaskan "keamanan psikologis"—di mana karyawan dapat memberikan ide, bereksperimen, dan beradaptasi tanpa takut dihakimi atau dihukum jika mereka gagal.
Menurut Roland Wee, karyawan sekarang ingin memahami gambaran bisnis secara keseluruhan daripada hanya fokus pada tugas individu mereka seperti sebelumnya. Hal ini menjadikan transparansi sebagai persyaratan wajib bagi tim kepemimpinan.
Data dari Great Place To Work menunjukkan bahwa karyawan di perusahaan dengan tingkat kepercayaan yang tinggi empat kali lebih mungkin untuk beradaptasi dengan cepat dan tiga kali lebih mungkin untuk tetap bekerja di perusahaan mereka dibandingkan dengan rata-rata.
"Budaya bukan lagi faktor yang bersifat lunak. Di masa ketidakstabilan, budaya merupakan keunggulan struktural yang membantu bisnis mempertahankan kekompakan dan kemampuan operasional," tambahnya.
AI mengubah standar untuk sumber daya manusia.
Selain tekanan ekonomi, perkembangan AI yang pesat juga mengubah pasar tenaga kerja.
Menurut Ketua Great Place To Work ASEAN dan ANZ, laju perkembangan AI selama 18 bulan terakhir telah jauh melampaui perkiraan sebelumnya, karena teknologi ini tidak lagi hanya mendukung tugas operasional di balik layar tetapi secara langsung terlibat dalam proses analisis, penelitian, penyusunan, dan pengambilan keputusan.
Namun, alih-alih memandang AI sebagai alat untuk menggantikan manusia, banyak bisnis sekarang melihatnya sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas karyawan.
"Organisasi yang paling efektif dalam menerapkan AI saat ini tidak bertanya bagaimana cara mengurangi staf, tetapi bagaimana membuat setiap karyawan menciptakan nilai lebih," ujar Roland Wee.
Menurutnya, AI unggul dalam kemampuannya untuk mensintesis data, mengidentifikasi pola, dan menangani beban kerja yang besar, sementara manusia masih mempertahankan keunggulan dalam penilaian, empati, kreativitas, dan menangani hubungan yang kompleks.
Hal ini juga menyebabkan perubahan dalam tuntutan yang diberikan kepada karyawan. Menurut Great Place To Work, karyawan yang paling berharga di tahun 2026 belum tentu mereka yang memiliki keahlian paling mendalam, melainkan mereka yang dapat beradaptasi, berkolaborasi, dan tetap tangguh dalam lingkungan yang terus berubah.
"Di masa depan, pasar tenaga kerja tidak akan lagi menjadi pertarungan antara manusia dan AI, melainkan pertarungan di mana kemampuan manusia diperkuat oleh AI," kata Roland Wee.
Sumber: https://znews.vn/luong-khong-con-du-de-giu-chan-nhan-vien-thoi-ai-post1654688.html









Komentar (0)