Musim panas di kampung halaman saya dimulai dengan dengungan jangkrik. Matahari musim panas yang terik menyinari tunggul padi yang baru dipanen, membawa aroma tajam dan asin lumpur bercampur dengan aroma padi segar yang masih tercium di sawah. Saat itulah ayah saya dengan tekun membawa bajaknya ke sawah, sibuk mempersiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.

Bayangan ayahku membentang panjang di sawah yang tergenang air, tangannya yang kurus dan kapalan, lapuk oleh matahari dan angin, secara ritmis membajak dan membalik setiap gumpalan tanah cokelat. Aku ingat sosok ibuku yang lemah di bawah terik matahari, membawa keranjang beras emas dari tempat pengeringan ke gudang, pakaiannya basah kuyup oleh keringat. Melihatnya berguling-guling di tengah panas yang menyengat, aku merasakan simpati yang mendalam atas kerja keras dan penghematan wanita desa miskin ini, yang menghabiskan seluruh hidupnya berkorban untuk suami dan anak-anaknya melewati musim-musim yang panas.
Di siang hari yang terik di musim panas, saya dan saudara laki-laki saya akan menyelinap pergi dari orang tua kami untuk menangkap jangkrik, mencuri beberapa jambu biji hijau dari pagar, atau berenang bebas di sungai yang sejuk dan berputar-putar di belakang rumah kami. Kenangan musim panas saya juga termasuk sore hari menjelang malam, ketika sinar matahari telah memudar dari rumpun bambu, dan seluruh keluarga akan berkumpul di sekitar hidangan sederhana di beranda yang sejuk. Semangkuk sup kepiting dengan daun jute hijau segar, acar terong yang renyah, atau sepiring ikan gobi rebus yang harum dengan lada, semuanya tampaknya menghilangkan kelelahan dan panas yang menyengat dari hari yang panjang dan terik.
Di tengah semilir angin barat daya yang menyegarkan, ayahku sering menceritakan kisah-kisah kuno, tradisi tanah kelahiran kami, dan harapan diam-diam yang ia tanamkan di halaman-halaman buku sekolah kami. Kata-kata sederhana dan manis ini, seperti air dingin, menyejukkan jiwaku, membantuku memahami nilai kerja keras dan cinta suci terhadap akar budayaku.
Musim panas di kampung halaman saya kini hanya ada di kedalaman ingatan saya. Orang tua saya telah meninggal dunia, dan rumah tua itu sekarang menjadi gudang kenangan yang diwarnai oleh warna-warna waktu. Setiap kali saya mendengar dengungan jangkrik atau melihat sekilas warna merah cerah pohon flamboyan di sudut jalan, hati saya dipenuhi dengan kerinduan yang tak terbatas. Dan jalan pulang saya setiap musim panas sekarang adalah melalui kenangan manis ini, gambaran orang tua saya yang masih tekun bekerja di ladang, dan cinta tak terukur yang membesarkan saya saat saya tumbuh di dunia yang luas ini…/.
Sumber: https://baotayninh.vn/mien-nho-mua-he-147935.html








Komentar (0)