Dari tanggal 18-19 Mei, Presiden Tiongkok Xi Jinping menjadi tuan rumah dan mengadakan pertemuan puncak dengan para pemimpin Asia Tengah di Xi'an.
| Konferensi Tingkat Tinggi China-Asia Tengah berlangsung di Xi'an, Provinsi Shaanxi, China. (Sumber: REUTERS) |
Beijing memandang ini sebagai "acara diplomatik besar pertama China yang diselenggarakan tahun ini," dengan harapan dapat semakin memperkuat hubungan dengan mitra-mitra yang memiliki kepentingan geostrategis bagi negara tersebut, di tengah lanskap global yang bergejolak.
Yang perlu diperhatikan, pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan para pemimpin Asia Tengah (Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan) bertepatan dengan KTT G7 di Jepang .
China telah lama memandang Asia Tengah sebagai wilayah penting untuk memperluas perdagangan dan keamanan energi, serta untuk stabilitas di Daerah Otonomi Xinjiang Uygur. Pada September 2022, Presiden Xi Jinping mengejutkan banyak orang dengan memilih Kazakhstan dan Uzbekistan sebagai tujuan kunjungan luar negeri pertamanya sejak merebaknya pandemi Covid-19 di negara tersebut.
Oleh karena itu, Beijing menganggap pertemuan tingkat tinggi ini sebagai "tonggak sejarah penting" dalam hubungannya dengan kawasan Asia Tengah. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin, para pemimpin akan menandatangani "dokumen politik penting... yang mengantarkan era baru kerja sama" antara kedua belah pihak.
Profesor Zhu Yongbiao dari Sekolah Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Lan Zhou (China) mencatat bahwa hubungan erat dengan Asia Tengah kini menjadi prioritas utama dalam agenda kebijakan luar negeri China. Dengan Asia Tengah, Beijing membangun hubungan tidak hanya melalui mekanisme bilateral tetapi juga melalui forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).
Kedua pihak dapat membahas isu-isu mendesak saat ini seperti konflik Rusia-Ukraina dan krisis di Afghanistan. Zhu menyatakan, "China dan lima negara Asia Tengah memiliki posisi yang serupa mengenai isu-isu regional dan internasional, mulai dari konflik Rusia-Ukraina dan Afghanistan hingga pemberantasan terorisme, tetapi koordinasi lebih lanjut masih diperlukan."
Sementara itu, Wang Jian, Direktur Institut Hubungan Internasional di Akademi Ilmu Sosial Shanghai (Tiongkok), menegaskan bahwa meskipun Beijing lebih fokus pada hubungan lain, Asia Tengah tetap "sangat penting" bagi keamanannya. Di sisi lain, kelima negara Asia Tengah juga tampaknya "menjaga jarak diplomatik" dari Moskow seiring dengan terus meningkatnya konflik Rusia-Ukraina.
Selain itu, para pengamat percaya bahwa upaya China untuk memperkuat hubungannya dengan Asia Tengah cepat atau lambat akan menghadapi persaingan sengit dari Amerika Serikat. Sejak 2015, AS telah menggunakan pertemuan puncak C5+1 tahunan antara Menteri Luar Negeri AS dan para mitranya dari Asia Tengah untuk memperluas pengaruhnya.
Pada konferensi terakhir di Astana, Kazakhstan, Februari lalu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan bahwa konflik Rusia-Ukraina telah menghadirkan tantangan bersama bagi negara tersebut dan Asia Tengah. Sementara itu, perwakilan dari negara-negara Asia Tengah menyatakan keprihatinan tentang dampak berantai sanksi terhadap Rusia terhadap perekonomian mereka.
Pada kesempatan ini, AS mengumumkan bantuan ekonomi sebesar 20 juta dolar AS untuk kawasan tersebut, sebagai tambahan dari 25 juta dolar AS yang diberikan tahun lalu untuk program ekonomi dan energi yang bertujuan memperkuat konektivitas regional.
Oleh karena itu, kelima negara Asia Tengah, yang sangat dipengaruhi oleh Rusia, perlu memahami bahwa mereka harus mempertimbangkan dengan cermat kepentingan nasional mereka ketika menghadapi persaingan antara Rusia, AS, dan China di kawasan tersebut, dan menghindari menyinggung pihak mana pun.
Sumber






Komentar (0)