Pada hari ke-16 bulan ke-8 kalender lunar, hari utama Festival Nghinh Ong Thang Tam, sebelum fajar menyingsing, kelompok-kelompok pemuda, wanita, dan orang tua terlihat berkumpul di sepanjang pantai Bai Truoc, mengenakan jubah panjang dan jilbab tradisional, dengan bendera lima warna berkibar tertiup angin pagi. Para tetua, anggota masyarakat yang dihormati, memimpin prosesi di atas perahu upacara, membawa tablet leluhur, pembakar dupa, dan persembahan. Di belakang mereka terdapat puluhan perahu kecil, dihiasi dengan bunga segar, pita yang berkibar, dan bendera merah dan kuning yang cerah, seperti pita sutra panjang yang membentang di atas ombak.

Saat suara genderang dan gong menggema, iring-iringan perahu berangkat dari pantai Bai Truoc menuju pantai Bai Sau. Altar yang didedikasikan untuk "Dewa Paus" diletakkan dengan khidmat di atas perahu upacara utama, membawa harapan para nelayan untuk perdamaian dan musim penangkapan ikan yang melimpah. Para pemimpin lokal dan nelayan di perahu upacara menyalakan dupa dan memanjatkan doa. Setelah prosesi selesai, rombongan kembali ke pantai dan berkumpul di taman Bai Truoc.
Menurut legenda para nelayan, setiap kali mereka pergi ke laut dan menghadapi badai serta bahaya yang mengancam, Dewa Paus akan muncul untuk membimbing mereka, membantu perahu mereka menghindari badai dan mencapai pantai. Sejak saat itu, para nelayan percaya bahwa Dewa Paus selalu mengawasi dan melindungi mereka. Festival Nghinh Ông adalah kesempatan bagi masyarakat untuk mengekspresikan prinsip "minum air, mengingat sumbernya," tidak hanya kepada Dewa Paus tetapi juga kepada leluhur mereka dan mereka yang telah gugur di laut. Ritual memperingati para martir heroik dan menyembah leluhur berpadu dalam suasana khidmat, mengingatkan generasi sekarang untuk melanjutkan tradisi hidup harmonis dengan alam dan masyarakat.
Setelah upacara khidmat, dilanjutkan dengan festival yang meriah dan penuh warna. Kegiatan yang familiar namun memikat meliputi tarian singa, naga, dan unicorn, pertunjukan opera tradisional, lagu-lagu rakyat, dan permainan tradisional (seperti menenun jaring, membawa ikan, tarik tambang, balap perahu, dan berenang di laut). Dalam beberapa tahun terakhir, festival ini juga mencakup kegiatan yang berkaitan dengan laut, seperti kompetisi renang terbuka, kompetisi olahraga pasir, pameran kerajinan laut, dan kuliner makanan laut… yang menarik banyak peserta dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pariwisata budaya di daerah tersebut.
Dalam konteks integrasi, banyak festival tradisional berisiko menghilang, tetapi festival Nghinh Ong Thang Tam tetap lestari berkat upaya kolektif masyarakat nelayan dan perhatian pemerintah. Pada tahun 2023, festival ini diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional, berkontribusi dalam mempromosikan dan menampilkan keindahan budaya lokal, menarik wisatawan domestik dan mancanegara, serta menciptakan potensi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kota Ho Chi Minh.
Di tengah bendera-bendera yang semarak, bunga-bunga, dan dentuman gendang yang menggema, wajah-wajah muda—generasi nelayan berikutnya—mengikuti jejak leluhur mereka, melestarikan semangat ritual Nghinh Ông kuno. Mereka menjadi pendongeng laut, diam-diam melanjutkan kepercayaan dan rasa syukur dari generasi nelayan sebelumnya.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/mua-nghinh-ong-thang-tam-post817599.html






Komentar (0)