Kemudian, pada tanggal 2 September 1945, di Lapangan Ba Dinh, Presiden Ho Chi Minh membacakan "Deklarasi Kemerdekaan", yang melahirkan Republik Demokratik Vietnam, sekaligus menandai lahirnya negara merdeka pertama di Asia Tenggara.
Dua peristiwa sejarah penting ini berdampak kuat pada banyak penyair Vietnam. Dalam "The Man in Search of the Shape of the Country", Che Lan Vien telah meramalkan sejak awal: "Tesis Lenin mengikutinya kembali ke tanah airnya, Vietnam/ Perbatasan masih jauh. Namun Paman Ho sudah melihatnya datang/ Lihatlah bayangan Paman Ho mencium tanah/ Mendengarkan dalam warna merah muda bentuk embrio negara ini." Dan tak lama setelah itu, ia berseru dengan penuh emosi: "Orang yang mengubah hidupku/ Orang yang mengubah puisiku."
Lebih gamblangnya, Xuan Dieu memiliki puisi "Bendera Nasional" dengan bait-bait berikut: "Pemberontakan menghancurkan kehidupan para budak/ Untuk pertama kalinya mengikuti bendera merah dengan bintang kuning" . To Huu memiliki puisi "Pagi tanggal 2 September": "Hari ini, pagi tanggal 2 September/ Ibu kota ditutupi dengan bunga-bunga kuning dan sinar matahari di Ba Dinh/ Jutaan hati sedang menunggu, burung-burung juga terdiam/ Tiba-tiba suara cinta bergema" , dan dalam " Hue di bulan Agustus": "Dada yang rata selama empat ribu tahun/ Sore ini angin kencang/ Berembus, hati tiba-tiba menjadi matahari" . Ketiga puisi tersebut beresonansi dengan nada heroik, penuh dengan semangat bangsa pada momen bersejarah ini.
Masih bagi Huu, dua peristiwa penting itu terulang setidaknya dua kali dalam puisi-puisinya. Pertama dalam "We Go To": "Bayang-bayang gelap musuh telah tercerai-berai/ Langit musim gugur bulan Agustus telah cerah kembali/ Dalam perjalanan kembali ke Ibu Kota/ Bendera merah berkibar di rambut perak Paman Ho" . Kedua dalam "Oh Paman!": "Langit tiba-tiba menjadi lebih biru, matahari menyilaukan/ Aku menatap Paman, Paman menatapku/ Empat penjuru pasti juga menatapku/ Republik Demokratik Vietnam" .
Dalam "Country" karya Nguyen Dinh Thi, bagian akhir memiliki 4 baris: "Tembakan mengguncang langit dengan amarah/ Rakyat bangkit bagai air meluap/ Vietnam bangkit dari darah dan api/ Mengguncang lumpur hingga bersinar terang!" . Di mana, "Tembakan mengguncang langit dengan amarah" dibuka dengan suara cepat dan menggema, membangkitkan semangat menggelegar seluruh bangsa yang bangkit melawan musuh. Dua kata "marah" tidak hanya menggambarkan kekuatan fisik tembakan, tetapi juga mengekspresikan amarah yang terakumulasi dari penindasan selama bertahun-tahun.
"Rakyat bangkit bagai air yang meluap" adalah perbandingan yang akrab dalam kehidupan pedesaan Vietnam sekaligus agung. Air yang meluap adalah kekuatan yang tak terhentikan, ketika diterapkan pada gambaran rakyat yang bangkit, ia menciptakan rasa intensitas dan gelombang... "Vietnam dari darah dan api" merangkum seluruh proses sejarah: Dari rasa sakit, kehilangan, dan pengorbanan, bangsa ini mendapatkan kembali hak untuk hidup. Citra "darah dan api" adalah realitas perang sekaligus api yang menempa tekad.
"Mengibaskan lumpur dan berdiri tegak, bersinar terang" adalah gambaran metaforis yang kaya akan daya khayal: Negara ini bagai seseorang yang baru saja lepas dari kehidupan yang penuh kesengsaraan ("mengibaskan lumpur"), dan bersinar dalam cahaya kemerdekaan ("bersinar terang") dengan postur "berdiri tegak". Dari keadaan terendam lumpur perbudakan, Vietnam memasuki era baru yang indah dan penuh percaya diri. Puncak dari keempat kalimat penutup di atas terletak pada kalimat: "Mengibaskan lumpur dan berdiri tegak, bersinar terang". Hanya dengan 6 kata tersebut, Nguyen Dinh Thi telah dengan lihai menggambarkan hakikat dan kekuatan Revolusi Agustus serta apa yang dibawa Revolusi Agustus bagi bangsa kita.
Dalam rangka peringatan 80 tahun Revolusi Agustus dan Hari Nasional 2 September, mengenang syair-syair heroik dari suatu periode sejarah tidak hanya membantu kita mengenang kembali semangat pemberontakan nasional, tetapi juga meneguhkan vitalitas abadi puisi revolusioner. Dan tentu saja, syair-syair tersebut akan menemani bangsa ini sepanjang masa.
Sumber: https://hanoimoi.vn/nguoi-thay-doi-doi-toi-nguoi-thay-doi-tho-toi-713887.html
Komentar (0)