Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Merindukan sekolah lama…

November selalu datang perlahan dan lembut. Tak ada keceriaan hari-hari musim panas yang terik, tak pula semanis matahari kuning Agustus dan September.

Báo Đắk LắkBáo Đắk Lắk30/11/2025

November datang dengan langit biru pucat, angin sepoi-sepoi yang cukup untuk membuat orang merapatkan baju, pagi hari ketika mereka terbangun dan mendapati kabut yang lebih tipis dari biasanya, dan hati mereka tiba-tiba melunak dengan cara yang tak terlukiskan. Mungkin itulah sebabnya, setelah bertahun-tahun, setiap kali November kembali, saya selalu merasa seperti memasuki ruang kenangan lama, tempat cinta-cinta yang pernah ada dengan jelas dan kini, hanya dengan mengingatnya, semuanya menjadi jelas, damai, dan anehnya utuh.

Ilustrasi: Internet
Ilustrasi: Internet

Aku teringat masa sekolahku dulu, kenangan-kenangan lama itu kembali hidup. Daun-daun beringin di halaman sekolah mulai berganti warna, daun-daun kuning berguguran di seluruh halaman, setiap kali angin bertiup, daun-daun itu perlahan berputar dan menyentuh tanah bagai sapaan pelan. Halaman sekolah di pagi hari masih menyimpan sisa dinginnya malam, embun mengembun di jeruji pintu kelas, di meja-meja kayu tua, di setiap kursi terukir nama seseorang yang pernah menyimpan kenangan pahit masa muda. Aku menjalani tahun-tahun itu dengan sangat alami, tanpa beban, tak tahu harus menyimpan apa, hanya untuk kemudian menyadari bahwa mungkin tahun-tahun terindah dalam hidup seseorang adalah tahun-tahun ketika kita belum menyadari bahwa kita sedang menjalani masa muda.

Guru-guruku masih hadir seolah tak pernah meninggalkan lorong itu. Aku masih ingat langkah kakinya melewati kelas setiap pagi, kemejanya yang sederhana, tatapan matanya yang lembut namun selalu serius saat memulai pelajaran. Aku ingat suaranya yang membacakan karya sastra dengan tenang bagai aliran sungai yang tenang, namun setiap katanya meresap ke dalam diriku tanpa kusadari. Aku tak pernah mengerti mengapa ada banyak hal yang kami anggap tak penting saat di kelas, dan bahkan bisa kami lupakan begitu saja setelah kelas, tetapi di usia tertentu, kata-kata sederhana guru-guru kami menjadi caraku menghadapi hidup. Puisi yang kusalin dengan tergesa-gesa saat kelas sastra tahun itu, bagian yang beliau ajarkan tentang kebaikan, atau nasihat guru sebelum ujian bahwa "selama kau berusaha sekuat tenaga, hasilnya akan sepadan" bukanlah pelajaran dalam buku, melainkan hal-hal yang menopangku di masa-masa sulit pertumbuhanku nanti.

November masih menyimpan sesuatu yang lain di hatiku, selembut dan serapuh angin: cinta pertama. Secuil lirikan saat istirahat. Saat-saat berdiri berdampingan di bawah atap, berteduh dari hujan, dan keduanya terdiam. Perasaan bingung sampai tak tahu harus meletakkan tangan di mana saat berpapasan dengan seseorang. Tak ada yang namanya pengakuan. Tak seorang pun berani mengatakan hal-hal besar. Hanya beberapa pertanyaan yang sangat wajar, beberapa baris kalimat yang tertukar di selembar kertas terlipat, atau sekadar harapan untuk keberuntungan ujian di pagi musim dingin. Namun orang-orang mengingatnya seumur hidup.

Waktu terus berlalu, hingga tiba saatnya kami meninggalkan sekolah dan terbang ke berbagai tempat. Di hari kelulusan terakhir tahun terakhir, tak seorang pun bersuara, tetapi di dalam hati setiap orang, ada sesuatu yang diam-diam berubah. Lorong sekolah masih sama, papan tulis masih sama, genderang sekolah masih berdentang tiga kali seperti setiap hari, tetapi satu-satunya perbedaan adalah kali ini kami mendengar genderang sebagai tanda perpisahan...

Bertahun-tahun kemudian, ketika November kembali, aku tiba-tiba ingin kembali menyusuri jalan setapak yang dulu. Sekolah telah berganti warna cat, halaman telah diaspal ulang, pepohonan dari masa lalu telah tumbuh atau telah diganti, tetapi hanya dengan berdiri di depan gerbang sekolah, aku langsung merasa seperti dibawa kembali. Kami tak lagi berlari, tak lagi saling memanggil nama, tak lagi memikul tas berat di pundak, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku jelas mendengar tawa diriku yang berusia tujuh belas tahun. Aku tahu bahwa hal terindah bukanlah apa yang kulihat di depan mataku, melainkan apa yang telah terjadi dalam diriku.

Lalu, di suatu sore yang sangat sepi di bulan November, aku tiba-tiba tersenyum. Bukan karena semuanya masih utuh, melainkan karena mereka pernah ada dengan begitu indah. Aku menyadari bahwa aku tak perlu kembali untuk menetap. Sekadar mengenang dan menjalani hidup dengan penuh kebaikan adalah cara untuk menunjukkan rasa syukur.

Sumber: https://baodaklak.vn/van-hoa-du-lich-van-hoc-nghe-thuat/van-hoc-nghe-thuat/202511/nho-mai-truong-xua-0001735/


Komentar (0)

No data
No data

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Kedai kopi Hanoi bikin heboh dengan suasana Natal ala Eropa
Kedai kopi Dalat mengalami peningkatan pelanggan sebesar 300% karena pemiliknya berperan dalam film 'silat'
Pho 'terbang' 100.000 VND/mangkuk menuai kontroversi, masih ramai pengunjung
Matahari terbit yang indah di atas lautan Vietnam

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Pertempuran Hati Rakyat di Perbatasan Tanah Air - Pertahanan Negara dan Pertahanan Perbatasan di Situasi Baru

Peristiwa terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk