(Surat Kabar Dan Tri) - Utusan khusus Presiden terpilih AS Donald Trump untuk Ukraina telah menunjukkan kesalahan Presiden Joe Biden karena tidak bernegosiasi dengan pemimpin Rusia.

Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Foto: Getty).
"Saya pikir kesalahan terbesar yang dilakukan Presiden Biden adalah dia tidak pernah terlibat dalam negosiasi apa pun dengan Putin. Maksud saya, dia belum berbicara dengan Putin selama lebih dari dua tahun," kata Keith Kellogg, utusan khusus Presiden terpilih Donald Trump untuk Ukraina dan Rusia, pada 8 Januari.
"Presiden Biden telah berdialog dengan lawan dan sekutu, dan dia tahu itu sulit, tetapi dia benar-benar perlu memahami bahwa dia harus berbicara dengan semua orang," tegas utusan Trump.
Sebelumnya, dalam konferensi pers setelah KTT NATO di Washington Juli lalu, Biden mengatakan dia "tidak punya alasan untuk berbicara dengan Putin." Menurut penghuni Gedung Putih itu, Putin "tidak menunjukkan tanda-tanda bersedia mengubah sikapnya."
Dalam konferensi pers pada tanggal 7 Januari, Presiden terpilih Trump berpendapat bahwa dukungan Presiden Biden terhadap aspirasi Ukraina untuk bergabung dengan NATO adalah pemicu konflik dengan Rusia.
Trump mengatakan bahwa ia bersimpati dengan posisi Moskow yang menyatakan bahwa Ukraina seharusnya tidak menjadi bagian dari NATO, dan menyesal tidak bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum menjabat.
Utusan Khusus Kellogg mengatakan bahwa ia bertujuan untuk menemukan solusi bagi konflik Rusia-Ukraina dalam 100 hari pertama masa kepresidenan Trump.
Kellogg menekankan bahwa baik dia maupun presiden terpilih menyadari bahwa mereka memiliki waktu yang sangat sedikit untuk menemukan solusi bagi konflik Ukraina.
Tuan Kellogg yakin bahwa Tuan Trump akan mampu mengusulkan solusi yang dapat diterima oleh Rusia dan Ukraina "dalam waktu dekat".
Sebelumnya, Kellogg berencana mengunjungi Rusia dan Ukraina untuk mendengarkan perspektif masing-masing. Kunjungan ke Kyiv dijadwalkan pada bulan Januari, tetapi ditunda.
Komentar Kellogg muncul setelah Presiden terpilih Donald Trump menyatakan bahwa perang Rusia-Ukraina akan berakhir dalam enam bulan ke depan. "Saya harap itu akan memakan waktu enam bulan," kata Trump.
Selama kampanye pemilu, Trump berulang kali menegaskan bahwa ia dapat mengakhiri konflik Ukraina dalam waktu 24 jam setelah menjabat. Timnya juga secara bertahap mengungkapkan rencana mereka untuk menyelesaikan konflik tersebut.
Pada April 2024, Utusan Khusus Kellogg mengajukan rencana yang menyerukan pendekatan "Amerika Pertama" dalam konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya, AS harus berpartisipasi dalam negosiasi untuk membantu pihak-pihak yang bertikai mencapai kesepakatan gencatan senjata di Ukraina.
Rencana tersebut mengusulkan agar AS terus memberikan bantuan militer untuk membantu Ukraina mempertahankan diri. Namun, bantuan militer AS di masa mendatang akan bergantung pada apakah Ukraina berpartisipasi dalam negosiasi perdamaian dengan Rusia.
Rencana tersebut juga menyarankan agar para pemimpin NATO mengusulkan penundaan ambisi Ukraina untuk bergabung dengan aliansi tersebut guna membujuk Rusia untuk terlibat dalam pembicaraan perdamaian.
Sementara itu, pada September 2024, Wakil Presiden terpilih AS JD Vance mengungkapkan bahwa Trump akan memulai negosiasi dengan para pemimpin Rusia, Ukraina, dan Eropa.
Rencana Vance menunjukkan bahwa Ukraina harus menyerahkan beberapa wilayah yang sebagian dikuasai Rusia, termasuk Lugansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhia. Negara-negara Eropa dapat mengerahkan pasukan penjaga perdamaian ke zona demiliterisasi Rusia-Ukraina, tetapi Amerika Serikat tidak akan berpartisipasi dalam misi tersebut.
Namun, baik Moskow maupun Kyiv tidak mendukung rencana tersebut. Rusia menganggap solusi yang diusulkan untuk konflik Ukraina dari tim Presiden terpilih AS Donald Trump sebagai solusi yang tidak jelas dan tidak menarik bagi Moskow.
Sumber: https://dantri.com.vn/the-gioi/ong-biden-mac-sai-lam-khi-khong-dam-phan-voi-ong-putin-20250109122408176.htm










Komentar (0)