Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Filipina dan Jepang mempercepat aliansi strategis.

Kunjungan kenegaraan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Jepang dari tanggal 26-29 Mei bertepatan dengan tonggak sejarah khusus karena kedua negara merayakan ulang tahun ke-70 pendirian hubungan diplomatik.

VietnamPlusVietnamPlus26/05/2026

Kunjungan kenegaraan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. ke Jepang dari tanggal 26-29 Mei bertepatan dengan tonggak sejarah khusus karena kedua negara merayakan ulang tahun ke-70 pendirian hubungan diplomatik .

Namun, di luar makna simbolisnya, para pengamat percaya bahwa kunjungan ini jelas mencerminkan pergeseran dalam perhitungan strategis Manila dalam menghadapi perkembangan yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.

Salah satu peristiwa penting sebelum kunjungan tersebut adalah keputusan pemerintah Jepang untuk menganugerahkan Order of the Chrysanthemum – penghargaan tertinggi negara itu – kepada Presiden Marcos Jr., dan Order of the Crown kepada Ibu Negara Louise Araneta Marcos.

Menurut Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara, langkah ini bertujuan untuk lebih mempromosikan persahabatan yang mendalam antara kedua negara, menyampaikan pesan bahwa Tokyo memberikan perhatian khusus pada peran Manila dalam struktur keamanan regional saat ini.

Di tengah persaingan strategis yang semakin intens di antara kekuatan-kekuatan besar, Filipina telah muncul sebagai mata rantai penting dalam jaringan keamanan para mitra dengan kepentingan bersama di kawasan tersebut.

Setelah upacara kerajaan, Presiden Marcos Jr. memiliki agenda padat yang berpusat pada pembicaraan dengan Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae dan pidato di Parlemen Jepang pada tanggal 28 Mei.

Para analis meyakini bahwa aspek paling menonjol dari kunjungan tersebut adalah promosi kerja sama pertahanan dan keamanan maritim. Ini juga merupakan bidang yang telah mengalami peningkatan pesat dalam hubungan antara kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh lingkungan keamanan yang semakin tidak stabil di kawasan tersebut.

Fokus diskusi diperkirakan akan berpusat pada implementasi Perjanjian Akses Timbal Balik (Reciprocal Access Agreement/RAA) yang ditandatangani pada tahun 2024 dan Perjanjian Pengadaan dan Dukungan Lintas Sektor (Cross-Procurement and Support Agreement/ACSA) yang ditandatangani pada Januari 2026.

Sementara RAA memfasilitasi penempatan dan latihan bersama militer kedua negara di wilayah masing-masing, ACSA membuka jalan bagi berbagi logistik seperti bahan bakar, amunisi, makanan, dan dukungan medis dalam operasi terkoordinasi atau bantuan kemanusiaan.

Laporan media regional menunjukkan bahwa Filipina sangat tertarik untuk mendapatkan akses ke peralatan militer Jepang, termasuk sistem rudal darat-ke-kapal Tipe 88 dan kapal perusak bekas.

Hal ini dipandang sebagai tindak lanjut dari kunjungan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi ke Manila pada awal Mei 2026, yang menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan bilateral berkembang di jalur yang cukup konsisten.

Selain kerja sama pertahanan, keamanan maritim juga diperkirakan akan menjadi topik utama pembicaraan, karena tahun 2026 menandai peringatan sepuluh tahun putusan arbitrase Laut Cina Selatan.

Kedua belah pihak kemungkinan akan menegaskan kembali pentingnya mematuhi hukum internasional dan memastikan kebebasan navigasi dan penerbangan di perairan kawasan tersebut.

Peningkatan kerja sama antara Jepang dan Filipina di bidang keamanan maritim tidak hanya berasal dari kepentingan bilateral, tetapi juga mencerminkan tren regional yang lebih luas karena banyak negara berupaya memperkuat kemampuan pertahanan diri dan mendiversifikasi kemitraan strategis untuk mengatasi tantangan keamanan yang muncul.

Mempertahankan dan memperkuat kerja sama sangat penting bagi semua pihak untuk menanggapi situasi yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.

Meskipun kerja sama pertahanan mencerminkan prioritas kebijakan luar negeri Manila, komitmen ekonomi dan energi yang dibuat selama kunjungan ini terkait erat dengan tekanan domestik yang dihadapi pemerintahan Presiden Marcos Jr.

Filipina masih mengalami kekurangan energi yang berkepanjangan, yang berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat dan daya saing ekonominya.

Oleh karena itu, menemukan solusi untuk menjamin keamanan energi telah menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Menjelang kunjungan tersebut, Presiden Marcos Jr. mengucapkan terima kasih kepada Jepang atas dukungannya kepada Manila dalam upaya diversifikasi sumber bahan bakar, menekankan bahwa ini adalah isu vital bagi strategi pembangunan nasional Filipina.

Dengan latar belakang ini, Manila menaruh harapan besar pada inisiatif Powererr Asia senilai 10 miliar dolar AS, yang diluncurkan oleh Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae pada April 2026.

Filipina berharap dapat memanfaatkan sumber daya ini untuk mendorong pengembangan energi terbarukan dan mendapatkan akses ke teknologi reaktor modular kecil (SMR) canggih dari Jepang.

Selain sektor energi, proyek Koridor Ekonomi Luzon juga muncul sebagai area yang patut diperhatikan. Filipina mengharapkan perusahaan-perusahaan Jepang untuk meningkatkan investasi dalam menghubungkan infrastruktur transportasi dan rantai pasokan semikonduktor di kawasan ekonomi utama ini, sehingga menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas tinggi dan mendorong transformasi industri.

Langkah ini mencerminkan upaya Manila untuk memanfaatkan restrukturisasi rantai pasokan global guna meningkatkan posisinya di sektor teknologi dan manufaktur bernilai tinggi.

Namun, selain peluang kerja sama, kunjungan ini juga menarik perhatian karena dampaknya terhadap keseimbangan strategis di kawasan tersebut. Pakar Rommel C. Banlaoi, Presiden Philippine Society for International Security Studies (PSISS) dan Direktur Center for Philippine-China Studies, mencatat bahwa perjalanan tersebut berlangsung pada waktu yang sangat sensitif ketika persaingan antar kekuatan besar terus meningkat.

Menurutnya, hubungan Filipina-Tiongkok masih rapuh dan sangat membutuhkan stabilisasi. Oleh karena itu, reaksi Manila setelah kunjungan tersebut akan mengirimkan sinyal penting tentang arah kebijakan luar negerinya di masa depan.

Banyak analis internasional juga meyakini bahwa tantangan terbesar bagi Presiden Marcos Jr. adalah bagaimana memperkuat kemampuan pertahanan nasional melalui kerja sama internasional tanpa menjadi terlalu bergantung pada satu mitra saja.

Pada saat yang sama, perlu dijaga keseimbangan strategis, baik dengan mempromosikan hubungan dengan Jepang dan sekutunya, maupun dengan tetap membuka pintu dialog dengan pihak-pihak terkait untuk membatasi risiko konfrontasi di kawasan tersebut.

Dari perspektif yang lebih luas, kunjungan Presiden Marcos Jr. menunjukkan upaya Filipina dalam melakukan diversifikasi strategis yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada mitra tradisional, dengan tujuan menyeimbangkan jaminan keamanan dan pembangunan ekonomi di tengah lingkungan regional yang bergejolak.

Bagi Tokyo, memperkuat hubungan dengan Manila juga merupakan bagian dari upaya untuk memperluas peran strategis Jepang di Asia Tenggara dan mengkonsolidasikan jaringan mitranya di kawasan Indo-Pasifik. Jelas, kunjungan ini bukan sekadar formalitas diplomatik.

Kesepakatan dan arah kerja sama yang dipromosikan minggu ini dapat memberikan dampak jangka panjang pada strategi pembangunan Filipina dan membantu membentuk lanskap keamanan dan ekonomi di kawasan ini dalam beberapa tahun mendatang.

(VNA/Vietnam+)

Sumber: https://www.vietnamplus.vn/philippines-va-nhat-ban-tang-toc-lien-ket-chien-luoc-post1112705.vnp


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
AKU AKAN PULANG KE RUMAH NENEKKU UNTUK TET (Tahun Baru Imlek).

AKU AKAN PULANG KE RUMAH NENEKKU UNTUK TET (Tahun Baru Imlek).

Ikan

Ikan

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc

Persatuan Pemuda Komune Thien Loc