Jadi, bagaimana Anda harus berolahraga untuk mengurangi risiko stroke?
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah di otak (infark serebral) atau pecahnya pembuluh darah di otak (perdarahan serebral). Faktor risiko utama meliputi tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, obesitas, merokok, dan kurang olahraga.
Aktivitas fisik yang teratur memiliki banyak manfaat langsung dalam pencegahan stroke:
- Menstabilkan tekanan darah: olahraga membantu mengurangi tekanan darah, mengurangi beban pada pembuluh darah otak.
- Meningkatkan lipid darah: meningkatkan kolesterol baik (HDL), mengurangi kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida.
- Kontrol berat badan: Cegah obesitas, salah satu faktor risiko utama stroke.
- Menstabilkan gula darah: meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi risiko diabetes tipe 2.
- Meningkatkan sirkulasi darah dan kesehatan kardiovaskular, menjaga pembuluh darah tetap lentur, dan membatasi pembentukan gumpalan darah.
Jenis olahraga apa yang harus saya lakukan untuk mengurangi risiko stroke?
Tidak semua olahraga cocok untuk semua orang, terutama orang paruh baya, lansia, atau mereka yang memiliki kondisi medis bawaan. Berikut beberapa bentuk olahraga yang aman dan efektif:
1. Latihan aerobik (kardiovaskular)
Jalan cepat, jogging ringan, bersepeda, berenang, menari.
Durasi: 30 menit per hari, setidaknya 5 hari/minggu.
Efek: meningkatkan sirkulasi darah, meningkatkan daya tahan kardiovaskular, mengurangi tekanan darah.
2. Latihan kekuatan otot
Beban ringan, resistance band, push-up ringan.
Frekuensi: 2–3 sesi/minggu.
Membantu menjaga otot, mengontrol gula darah, meningkatkan metabolisme.
3. Latihan fleksibilitas dan keseimbangan
Yoga, tai chi, peregangan.
Manfaat: meningkatkan fleksibilitas, mengurangi risiko jatuh – faktor penting bagi lansia.
Berapa banyak olahraga yang cukup?
Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO):
- Orang dewasa memerlukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas fisik intensitas tinggi setiap minggu.
- Dapat dibagi menjadi beberapa sesi (masing-masing 20–30 menit).
- Orang yang kurang gerak sebaiknya memulai dengan perlahan, lalu secara bertahap meningkatkan intensitasnya untuk menghindari cedera dan kelebihan beban kardiovaskular.
Catatan saat berolahraga untuk mencegah stroke
- Lakukan pemanasan selama 5–10 menit sebelum berolahraga dan pendinginan setelah berolahraga untuk melindungi sistem kardiovaskular Anda.
- Minumlah air putih yang cukup, hindari berolahraga di lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin.
- Jangan melakukan olahraga berlebihan atau memaksakan diri secara tiba-tiba, terutama bagi penderita penyakit jantung.
- Orang dengan tekanan darah tinggi, diabetes, dan dislipidemia harus berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai program olahraga.
- Jika ada tanda-tanda yang tidak biasa seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, segera hentikan dan temui dokter.
Gabungkan olahraga dengan gaya hidup sehat
Latihan hanya paling efektif bila dikombinasikan dengan gaya hidup ilmiah :
- Makan banyak sayuran hijau, buah-buahan, biji-bijian utuh.
- Batasi garam, makanan yang digoreng, dan makanan tinggi kolesterol.
- Tidur yang cukup dan hindari stres yang berkepanjangan.
- Berhenti merokok, batasi alkohol.
Menyimpulkan
Berolahraga dengan benar adalah cara yang sederhana, aman, dan efektif untuk mengurangi risiko stroke. Setelah usia 40 tahun, setiap orang harus menjaga aktivitas fisik secara teratur, dikombinasikan dengan nutrisi dan gaya hidup sehat untuk melindungi kesehatan kardiovaskular dan otak.
Jika Anda memiliki kondisi medis yang mendasari atau pernah mengalami serangan iskemik transien (TIA), bicarakan dengan dokter Anda tentang program olahraga yang tepat. Bersikap proaktif hari ini adalah kunci untuk mencegah stroke di masa mendatang.
Sumber: https://skr.vn/tap-the-duc-the-nao-de-giam-nguy-co-dot-quy/
Komentar (0)