Dengan 44 puisi pilihan, "Searching for Agarwood in the Mouth" menunjukkan bahasa yang halus dan merdu, menggabungkan kata-kata yang dipilih dengan cermat secara kreatif melalui citra yang menggugah: "Asap dari kapal saat itu seperti mimpi / Sungai yang luas membentang hijau pekat" (Many Times); "Angin bertiup melalui rambutku melawan kabut / Terbang bersama capung, mendengarkan kenangan" (The Returning Person); atau "Warna anggur telah memudar, seperti air musim gugur / Namun aku masih tetap mabuk oleh keindahan pegunungan musim semi." ... Koleksi ini berhasil membangun sistem simbol yang konsisten seperti: gaharu, gaharu, hutan, bunga liar, rumput merah muda, ombak, kabut... Citra-citra ini diulang, menciptakan ruang artistik yang unik dan menghantui.
Yang menarik, puisi Ho Si Binh memiliki kualitas yang khidmat dan kuno, seperti yang terlihat dalam referensi "Su Dongpo" dan "pohon willow Danau Barat" dalam konteks hubungan manusia dengan alam, dan juga napas kehidupan modern, yang mengekspresikan perlawanan dan penentangan terhadap perang, terutama perang agresi. Dalam puisi "Kepada Seorang Sahabat yang Suka Membaca Erich Maria Remarque," penyair menawarkan wawasan mendalam tentang karya penulis "Front Barat Tetap Tenang": "Buku terbaik tentang perang sepanjang masa / pernah dibakar menjadi abu oleh kekuatan jahat / tetapi siapa yang dapat membakar kemauan?" ... Puisi ini mengungkapkan sikap yang jelas dan tegas, sebuah peringatan kepada umat manusia, sebuah kemarahan terhadap perang apa pun, terlepas dari asal-usulnya, yang mencerminkan perspektif yang kaya akan belas kasih dan hati nurani.
Sepanjang kumpulan puisi ini terdapat gambaran tentang subjek liris yang melakukan perjalanan untuk menemukan nilai-nilai sejati dan berharga, seperti "seseorang yang mengunyah herbal untuk menemukan gaharu," meskipun harus menanggung banyak kepahitan. "Mengunyah herbal untuk menemukan gaharu" merujuk pada pencarian gaharu, tanaman herbal aromatik dan obat yang berharga yang harus dilalui oleh pencarinya dengan melintasi hutan lebat, melewati "puluhan ribu pohon gaharu," "jutaan angin yang berbenturan dan mengamuk," dan "mengumpulkan aroma dari luka hidup mereka sendiri / menyembunyikan rasa sakit dan melestarikan gaharu" untuk "dipersembahkan kepada orang yang mengunyah herbal." Pencarian ini sangat berat, terkadang membutuhkan pengorbanan nyawa di hutan lebat; oleh karena itu , "tahukah kau / wajah hutan berubah abu-abu karena usia / di mana peri berubah menjadi pohon yang berharga" (Mengunyah Herbal untuk Menemukan Gaharu). Puisi ini menggunakan bahasa yang penuh dengan metafora dan alegori. Inilah tema utama dan benang merah emosional yang menciptakan dunia artistik multidimensi dalam kumpulan puisi ini. Selain pencarian akan keindahan abadi, "hanya keindahan yang dapat menyelamatkan dunia" (Dostoevsky), tersembunyi di dalam citra puitis terdapat momen-momen reuni dalam cinta romantis, pencarian dan kerinduan akan pertemuan yang penuh kasih, baik yang dialami sejak masa muda hingga seumur hidup. Dan terkadang, di tengah harapan yang rapuh, yang terkuras oleh pasang surut kehidupan, mungkin tidak ada momen "reuni di tengah seribu kesedihan": "Yang matanya dipenuhi warna kesedihan/ namun masa muda masih mengetuk pintu kehidupan/ senyum yang begitu menawan/ aroma harumnya tercium di bawah sinar matahari pagi di atas bukit" (Warna Bunga di Atas Ombak).
Cinta juga memiliki banyak nuansa dalam puisi: ada penantian, momen-momen penuh gairah, dan juga perpisahan serta jarak. Citra gadis adalah sumber inspirasi utama di seluruh kumpulan puisi ini, muncul secara samar-samar dalam "gaun bunga," dalam "rok biru," "ketika melangkah keluar dari ladang bunga dan rumput yang luas." Ada sesuatu yang konkret dan simbolis tentang keindahan, tentang apa yang dikejar penulis sejak masa mudanya yang sakral, ditulis dengan nada yang didominasi melankolis, reflektif, dan kontemplatif, namun tidak sentimental, berkat momen-momen kepolosan, romansa, dan keyakinan abadi akan keindahan dan cinta, yang diungkapkan secara fleksibel dalam puisi dengan rasa melankolis yang lembut, mendalam, dan berat.
"Searching for Agarwood" berulang kali menyebutkan bunga-bunga dengan makna simbolisnya, membangkitkan inspirasi kreatif. Bunga bukan hanya objek deskripsi tetapi telah menjadi subjek liris, diresapi dengan cinta yang penuh gairah dan perasaan yang tak terucapkan: "Bunga-bunga telah kembali ke tangan gadingku / seperti cinta yang telah lama dinantikan" (Evening on the Old Hill); "Di mana bunga aster liar dan bunga matahari mekar / nada melankolis berlama-lama di padang gurun yang sunyi… di mana panggilan dari jurang kesalahan terdengar" (Where the dream began too late). Bukan suatu kebetulan bahwa ada "bunga liar putih yang bergoyang tanpa tujuan," "bunga lima warna yang mekar melimpah di keempat musim," "seseorang yang jauh terbebani oleh selubung bunga matahari liar," "bunga liar yang bergoyang di beranda," "masih ada aroma bunga liar di malam hari," "bunga morning glory dengan jantung ungunya yang epik," "bunga cosmos putih murni"... Bunga liar yang "menyedihkan" ini, yang namanya sedikit diketahui / telah cepat dilupakan / tetapi aku ingat / aku menghargainya" (Sebuah Kata Syukur yang Diselamatkan dari Ingatan). Kisah bunga liar di sini juga merupakan kisah orang-orang yang menderita yang nilai-nilai dan kualitasnya terkadang diabaikan dan dengan ceroboh dikesampingkan oleh dunia.
“Mencari Gaharu di Mulut” menunjukkan kematangan gaya penulis Ho Si Binh. Kumpulan puisi ini bukan hanya ekspresi emosi pribadi tetapi juga menyentuh isu-isu universal eksistensi manusia: perjalanan untuk menemukan esensi keindahan abadi yang menjadi tujuan penciptaan sastra. Ini adalah perjalanan untuk menemukan keindahan hakiki dari pengalaman hidup yang mendalam, yang diungkapkan melalui bahasa puitis yang halus dan dunia citra yang menghantui…
Tran Trung Sang
Sumber: https://baodaklak.vn/van-hoa-du-lich-van-hoc-nghe-thuat/van-hoc-nghe-thuat/202507/tinh-yeu-va-cai-dep-vinh-hang-76d121b/






Komentar (0)