Yang lebih mengkhawatirkan, ketergantungan pada AI dapat menciptakan "ilusi kompetensi." Nilai tinggi yang diperoleh melalui tugas-tugas berbasis AI dapat dengan mudah menyesatkan siswa dan evaluator tentang kemampuan mereka yang sebenarnya. Sementara itu, pengetahuan dan keterampilan nyata tidak terakumulasi secara proporsional. Kesenjangan antara hasil akademik dan kompetensi aktual akan terlihat jelas ketika siswa memasuki pendidikan tinggi atau pasar kerja, di mana teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan pemikiran dan kemampuan individu mereka.
Ilustrasi: Minh Tan
Dampak negatif lain dari penggunaan AI yang berlebihan adalah penurunan kemampuan siswa untuk belajar secara mandiri, melakukan penelitian, dan memecahkan masalah. Alih-alih secara proaktif mengeksplorasi, menganalisis, dan berpikir secara mandiri, banyak siswa cenderung bergantung pada AI untuk menemukan solusi bagi sebagian besar pertanyaan, mulai dari soal matematika dan fisika hingga masalah kehidupan sehari-hari. Ketergantungan ini secara bertahap dapat menghambat pemikiran kritis, eksplorasi , dan kreativitas siswa.
Menurut banyak guru, masalahnya bukan hanya terletak pada ketergantungan pada AI, tetapi juga pada kenyataan bahwa informasi yang diberikan oleh AI tidak selalu akurat. Bahkan, AI dapat membuat kesalahan dalam pengetahuan, data, atau interpretasi. Ada kasus di mana AI secara keliru mengidentifikasi penulis, asal-usul karya sastra, salah memahami isi karya, atau membuat penilaian yang tidak akurat tentang peristiwa sejarah. Di bidang ilmu pengetahuan alam, hasil yang dihasilkan oleh AI mungkin juga tidak sepenuhnya akurat. Bagi siswa sekolah menengah atas, yang kemampuan verifikasi informasinya terbatas, menerima dan menggunakan pengetahuan yang tidak akurat dapat menyebabkan banyak konsekuensi negatif dalam proses pembelajaran mereka.
Gunakan dengan benar untuk memaksimalkan efektivitasnya.
Meskipun manfaat AI tidak dapat disangkal, penggunaannya perlu dibimbing dengan benar. Di sekolah, guru perlu mendukung dan membimbing siswa dalam menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti pemikiran kritis. Bersamaan dengan itu, siswa perlu dibekali dengan keterampilan verifikasi informasi, kemampuan berpikir kritis, dan pola pikir belajar mandiri untuk memanfaatkan manfaat AI secara efektif sekaligus meminimalkan potensi dampak negatifnya.
Bagi siswa, pengetahuan dan keterampilan tidak dapat dibentuk hanya dari jawaban yang diberikan oleh AI, tetapi harus dikembangkan melalui pembelajaran mandiri, pemikiran, dan penelitian mereka sendiri. AI dapat menjadi alat yang berguna dalam pembelajaran, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat memiliki banyak konsekuensi negatif bagi perkembangan pemikiran dan keterampilan peserta didik.
Mulai tahun ajaran 2026-2027, Kementerian Pendidikan dan Pelatihan berencana untuk menerapkan pengajaran kecerdasan buatan di sekolah menengah. Agar inisiatif ini efektif, diperlukan kerja sama yang erat antara sekolah, keluarga, dan siswa untuk membantu mereka menggunakan AI dengan benar, memaksimalkan manfaat teknologi, dan meminimalkan potensi dampak negatif.
Nguyen Xuan Phuong
Sumber: https://baocamau.vn/dua-ai-vao-truong-hoc-can-dinh-huong-dung-dan-a129357.html







Komentar (0)