Film dokumenter Encounters dari Netflix membahas pertemuan UFO pada tanggal 16 September 1994. Peristiwa ini penting karena banyaknya saksi, hingga 62 anak sekolah (usia 6-12) di Zimbabwe.
Anak-anak Zimbabwe, yang sekarang sudah dewasa, diwawancarai untuk menceritakan kisah mereka tentang hari itu.
Saat istirahat pagi, para siswa sedang bermain di luar sekolah pedesaan Ariel di Ruwa, Zimbabwe ketika mereka melihat benda aneh terbang dari langit dan mendarat di lapangan di depan mereka.
Film dokumenter Encounters mengungkap kembali kisah 62 anak yang melihat UFO mendarat di dekat sekolah mereka di Zimbabwe. Foto: Google.
Sementara beberapa siswa berlarian panik, yang lain tetap tinggal untuk mengamati dan menggambarkan objek berbentuk cakram perak raksasa itu.
Emma, seorang mantan murid, mengenang: "Saat istirahat, saya sedang bermain-main di lapangan dekat sekolah, ketika saya melihat cahaya terang muncul tepat di atas rumput. Saya dan teman saya, Salma, berseru: Oh! Apa itu?".
Kemudian, Emma dan Salma juga melihat sesosok makhluk aneh berdiri di depan mereka hanya beberapa meter jauhnya. Makhluk ini memiliki kepala oval yang sangat besar, dengan dagu yang runcing.
Mantan siswa lainnya menggambarkan benda terbang itu sebagai cakram perak raksasa yang berkilau dengan banyak bola lampu terpasang, dan makhluk aneh itu memiliki mata hitam besar.
Mantan siswa diminta untuk menggambar apa yang mereka ingat. (Foto: Google)
Para siswa menceritakan kisah mereka kepada guru dan orang tua mereka, dan psikiater Harvard Dr. John Mack memercayainya.
Dr. John Mack menegaskan bahwa siswa tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit mental, dan ini tampak sebagai pengalaman nyata.
Banyak orang yang diwawancarai diminta untuk menggambar apa yang mereka ingat, dan semua sketsa menggambarkan alien dengan mata hitam besar dan objek berbentuk cakram perak raksasa yang melayang.
Hampir 30 tahun kemudian, banyak siswa kini telah dewasa, tetapi mereka masih memegang pandangan luar biasa mereka tentang cerita ini.
Sebaliknya, banyak skeptis yang mengatakan cerita itu hanya lelucon, histeria massal, atau hanya anak-anak zaman itu yang salah menafsirkan apa yang mereka lihat.
HUYNH DUNG (Sumber: The-Sun)
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)