Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Pers tetap menjadi "arus utama"

Việt NamViệt Nam29/06/2024

Pers tetap menjadi saluran penting untuk menyampaikan informasi yang tepat waktu dan akurat kepada publik.

Memprediksi faktor-faktor "kebisingan" dan "umpan balik"

Semua kebijakan harus bertujuan untuk kejelasan dan transparansi agar masyarakat mengetahui, mendiskusikan, menerapkan, memeriksa, mengawasi, dan memperoleh manfaat darinya. Untuk benar-benar mencapai hal ini, komunikasi kebijakan bukan hanya tentang menyampaikan kebijakan kepada masyarakat. Kebijakan harus dikomunikasikan sejak dini, dari tahap perancangan, dan umpan balik harus diterima agar ketika kebijakan tersebut diberlakukan, kebijakan tersebut dapat didukung oleh mayoritas masyarakat dan efektif dalam praktiknya.

Bagaimana kita dapat meningkatkan efektivitas komunikasi kebijakan agar memiliki dampak yang mendalam, untuk mengubah persepsi dan perilaku audiens sasaran?

Pemahaman dan kesadaran yang tepat tentang model komunikasi dan elemen-elemen proses komunikasi kebijakan akan membantu semua lembaga, termasuk pers, yang bertanggung jawab atas komunikasi kebijakan untuk menjalankan tugas mereka secara efektif.

Di seluruh dunia , model komunikasi modern yang banyak digunakan saat ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Dengan demikian, informasi berasal dari sumber (komunikator), dan setelah pesan dikodekan, pesan tersebut ditransmisikan melalui saluran komunikasi, didekodekan, dan sampai ke penerima.

Dalam konteks ini: S (Sumber) adalah sumber (pengirim) pesan; M (Pesan) adalah pesan; C (Saluran) adalah saluran komunikasi; R (Penerima) adalah penerima; E (Akibat): Akibat.

Namun, proses komunikasi ini bukanlah proses satu arah semata; proses ini melibatkan unsur "gangguan" dalam aliran informasi dari sumber ke penerima, dan setelah menerima informasi tersebut, penerima akan memberikan umpan balik.

Deskripsi ini menegaskan bahwa komunikasi adalah proses pertukaran informasi dua arah, yang selalu berlangsung dalam konteks hubungan interpersonal, sekaligus menolak pandangan tentang pengaruh absolut komunikasi terhadap penerima.

Dengan ledakan media sosial saat ini, faktor "kebisingan", yang telah dikemukakan oleh para teoretikus media beberapa dekade lalu, telah menjadi elemen yang lebih signifikan dan tak terbantahkan, bahkan berperan dalam mengubah persepsi penerimaan media. Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi komunikasi kebijakan; ini bukan lagi sekadar pelaporan satu sisi. Mendengarkan dan menerima umpan balik publik sangat penting untuk mengembangkan kebijakan yang relevan dengan kehidupan nyata.

Komunikasi kebijakan yang objektif dan beragam.

Media sosial merupakan platform yang lebih cepat dan lebih sensitif untuk merefleksikan proses penerimaan kebijakan (terutama untuk rancangan kebijakan). Unsur "kebisingan" dalam proses komunikasi kebijakan di media sosial juga lebih menonjol. Selain itu, media sosial adalah tempat di mana informasi "umpan balik" menyebar dengan sangat cepat, yang pada gilirannya berdampak pada para pembuat kebijakan.

Dengan karakteristik tersebut, media sosial menjadi tempat di mana komunikasi terganggu, terdistorsi, dan dalam banyak kasus disalahartikan. Belum lagi unsur-unsur ekstremis, subversif, dan reaksioner di media sosial yang memengaruhi persepsi banyak orang selama proses penerimaan kebijakan. Melihat teori model komunikasi, jelas bahwa memastikan semua langkah dalam proses komunikasi dua arah sangat penting agar komunikasi kebijakan menjadi tulus dan efektif. Secara khusus, sangat penting untuk mengantisipasi dan memperhatikan faktor "gangguan" dan "umpan balik".

Meskipun dalam banyak kasus, pengalaman terkini menunjukkan bahwa komunikasi kebijakan melalui saluran media sosial sangat efektif. Banyak kebijakan dibahas secara demokratis di media sosial dan lebih mudah menjangkau audiens targetnya. Beberapa kebijakan, berkat umpan balik dan debat di media sosial, telah membantu para pembuat kebijakan menyesuaikannya agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan realitas kehidupan.

Namun, seperti yang telah dianalisis di atas, mengkomunikasikan kebijakan melalui media sosial juga membawa banyak aspek negatif yang berdampak pada proses penerimaan kebijakan oleh para penerima kebijakan. Oleh karena itu, pentingnya dan sifat politis kebijakan mengharuskan identifikasi saluran komunikasi yang tepat untuk penyebaran kebijakan.

Arahan Perdana Menteri Nomor 7/CT-TTg, yang dikeluarkan pada Maret 2023, "Tentang Penguatan Komunikasi Kebijakan," mengidentifikasi "pers sebagai saluran utama." Arahan ini juga mewajibkan kementerian, lembaga, dan daerah untuk "secara proaktif membimbing dan memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada pers dan media lain mengenai isu-isu yang menjadi perhatian publik." Arahan tersebut juga secara jelas menyatakan perlunya "meneliti penugasan dan pembagian tugas kepada media dan lembaga pers untuk melaksanakan komunikasi kebijakan sesuai dengan persyaratan dan peraturan hukum."

Media tidak memiliki pengaruh absolut atas audiens targetnya, dan informasi tentang kebijakan yang disampaikan melalui pers tidak dapat dipaksakan kepada mereka. Oleh karena itu, hanya melalui pelaporan yang objektif dan beragam, menerima dan memproses umpan balik tentang kebijakan untuk memengaruhi proses pembuatan kebijakan, pers dapat benar-benar memenuhi perannya dan mempertahankan posisinya sebagai "arus utama".

Komunikasi Kebijakan dan Media: Konsep kebijakan dalam komunikasi kebijakan mengacu pada kebijakan publik yang mencakup langkah-langkah Partai dan Pemerintah yang diinstitusionalisasikan dan diimplementasikan untuk mengatasi masalah sosial atau mendorong pembangunan sosial. Komunikasi kebijakan adalah proses penyampaian informasi tentang kebijakan Partai dan Negara di bidang tertentu melalui berbagai saluran, dengan media arus utama memainkan peran kunci, untuk menyampaikan kebijakan kepada publik. Hal ini bertujuan untuk memastikan komunikasi yang lancar antara entitas pembuat kebijakan dan kelompok-kelompok yang mendapat manfaat dan terpengaruh oleh kebijakan tersebut di masyarakat. Ini berkontribusi pada perubahan persepsi dan pada akhirnya menyesuaikan perilaku dan sikap penerima manfaat kebijakan agar selaras dengan kepentingan setiap individu, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan, sambil tetap konsisten dengan kebaikan bersama bangsa, rakyat, dan semua warga negara. Namun, dalam konteks saat ini, komunikasi kebijakan tidak terbatas pada media arus utama; peran media sosial dalam komunikasi kebijakan menjadi semakin signifikan. Tak dapat disangkal, media sosial telah memberikan kontribusi positif terhadap komunikasi kebijakan, khususnya dalam berpartisipasi dalam proses peninjauan kritis sejak tahap penyusunan kebijakan, membantu membuat kebijakan lebih relevan dengan kehidupan masyarakat. Namun, media sosial juga memungkinkan penyebaran informasi yang tidak akurat, tidak terverifikasi, atau disalahartikan yang tidak mencerminkan pandangan para pembuat kebijakan. Oleh karena itu, legitimasi dan keakuratan pers tetap penting dalam memastikan peran utamanya dalam komunikasi kebijakan. Hal ini jelas ditunjukkan dalam Arahan Perdana Menteri "Tentang Penguatan Komunikasi Kebijakan," yang dikeluarkan pada Maret 2023, yang mengidentifikasi "pers sebagai saluran utama." Jadi bagaimana pers dapat mempertahankan posisinya sebagai "saluran utama" dalam komunikasi kebijakan? Inilah kekhawatiran yang kami angkat dalam edisi tahun ini yang memperingati ulang tahun ke-99 Hari Pers Revolusioner Vietnam, dengan harapan bahwa: pers perlu diberi lebih banyak sumber daya untuk mengkomunikasikan kebijakan secara efektif, berkontribusi pada penciptaan kebijakan yang sejalan dengan kehendak rakyat dan membantu menciptakan konsensus sosial.

Menurut daidoanket.vn

Sumber

Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Mengembangkan

Mengembangkan

Terowongan Than Vu di jalan raya

Terowongan Than Vu di jalan raya

Upacara doa memancing.

Upacara doa memancing.