Untuk mencapai Ban Thai, pengunjung dapat mengemudi sendiri, membiarkan diri mereka menyusuri jalan-jalan berangin, baik yang familiar maupun baru, seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di sana. Suasana di sini seolah melangkah mundur. Pagi-pagi sekali, asap dapur mengepul di kabut tipis, menyatu dengan udara bersih. Suara anak-anak yang saling memanggil, suara nasi yang berdesis tertiup angin... Semua terjalin menjadi harmoni yang lembut, membawa kita ke dalam ritme kehidupan pegunungan dan hutan Barat Laut yang lambat dan damai.
Desa Thai terletak di lokasi yang sangat strategis, tepat di pusat Komune Mu Cang Chai. Bagian belakang desa ini bersandar kokoh di pegunungan suci. Berbeda dengan desa-desa terpencil yang tersembunyi jauh di dalam hutan, perjalanan menuju Desa Thai lebih mudah dan nyaman.
Yang membuat desa Thailand menarik bukan hanya pemandangan alamnya, tetapi juga nama yang menyandang ciri budaya dan komunitas penduduk yang tinggal di sana.
Walaupun sebagian besar penduduknya adalah suku Mong, yakni sekitar 90% dari keseluruhan penduduk, tempat ini disebut kampung Thai karena memang di sanalah tempat tinggal suku Thai Muong Lo.
Ini bukan kebetulan, melainkan jejak sejarah migrasi, yang berkaitan dengan sekelompok orang Thailand yang telah lama menetap di tanah ini. Mereka membawa serta rumah panggung tradisional, adat istiadat, dan praktik yang khas, serta melestarikan cara hidup Thailand di ruang multietnis.
Kehadiran komunitas Thailand di antara orang-orang Mong tidak menciptakan jarak, juga tidak melarutkan mereka. Sebaliknya, hal ini menjadi daya tarik tersendiri, yang menambah warna pada keragaman budaya dataran tinggi Mu Cang Chai.
Gadis Thailand dalam kostum tradisional.
Di desa Thailand, mudah untuk melihat para perempuan mengenakan gaun hitam bersulam benang perak, tangan lembut mereka dengan cepat mengubah benang sutra menjadi brokat yang berkilau. Api di sini selalu menyala merah setiap pagi dan sore, tidak hanya untuk menghangatkan badan atau memasak nasi, tetapi juga untuk menghubungkan generasi, tempat semua kisah bermula.
Setiap musim, desa di Thailand berganti rupa. Pada bulan Mei dan Juni, hujan pertama musim ini turun dari lereng gunung, airnya yang sejuk mengalir melalui sungai-sungai kecil menuju sawah terasering, mengubah seluruh ladang menjadi cermin langit yang berkilauan. Orang-orang mulai menanam padi, dengan tekun meninggalkan jejak kaki mereka di tanah basah seolah terpatri dalam ingatan desa.
Oleh api rakyat di Ban Thai.
Di musim gugur, sekitar bulan September dan Oktober, desa-desa di Thailand tampak berseri-seri keemasan. Sawah-sawah terasering tampak matang, berlapis-lapis bagaikan gelombang padi yang menghantam lereng gunung. Angin musim gugur berhembus lembut, membawa aroma padi yang khas. Inilah musim ketika orang-orang Thai dan Mong pergi ke ladang bersama untuk memanen, musim reuni, musim kelimpahan.
Saat musim dingin tiba, desa diselimuti kabut pagi. Jalan-jalan tanah diam-diam diselimuti warna kabur. Saat musim semi tiba, seluruh desa Thailand seakan terbangun. Bunga plum mekar putih di awal desa, bunga persik mewarnai rumah-rumah panggung yang telah bertahan melewati musim angin dingin dengan warna merah muda.
Keindahan desa Thailand tak hanya terletak pada pemandangannya, tetapi juga pada cara masyarakatnya hidup berdampingan dengan alam, selaras dengan langit dan bumi. Sawah bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi juga akar dari kelangsungan hidup, tempat para ayah mewariskan teknik bertani kepada anak-anak mereka dari generasi ke generasi. Sawah terasering di sini tak hanya menjadi simbol mata pencaharian, tetapi juga "museum hidup" penduduk dataran tinggi, tempat nilai kerja dan jiwa penduduk pegunungan dilestarikan.
Sejak awal 2010, masyarakat Thailand mulai melakukan wisata komunitas. Mereka menyambut tamu di rumah masing-masing, dengan hidangan hangat berupa nasi ketan dan daging asap, dengan tempat tidur hangat di tengah rumah panggung berangin, dan dengan kisah-kisah sehari-hari yang diceritakan oleh api unggun yang menyala-nyala di dapur.
Ibu Vi Thi Phuong bercerita: Saya meminjam 100 juta VND dari Bank Kebijakan Sosial ketika pertama kali membuka homestay ini. Awalnya, saya khawatir, bertanya-tanya apakah penduduk kota akan menyukainya, tetapi kemudian saya menyadari, yang mereka butuhkan adalah ketulusan. Saya memasak hidangan tradisional, bercerita tentang desa, tentang menenun, tentang musim padi. Kesederhanaan dan ketulusan adalah ciri khas yang membentuk identitas pariwisata desa Thailand.
Bersamaan dengan inisiatif masyarakat, kebijakan dukungan praktis dari provinsi dan daerah telah menambah motivasi bagi desa-desa di Thailand untuk berubah. Selama bertahun-tahun, Bank Kebijakan Sosial telah menerapkan program kredit preferensial, membantu masyarakat untuk berani berinvestasi dalam pariwisata komunitas. Modal tidak hanya mudah diakses, tetapi juga dipandu tentang cara menggunakan modal secara efektif, yang menghubungkan investasi mata pencaharian dengan pelestarian budaya tradisional.
Bapak Lo Van Quy, seorang pemilik usaha jasa di desa Thai, berbagi: “Dengan akses ke modal preferensial, masyarakat memiliki kondisi untuk membeli lebih banyak barang rumah tangga, melayani kebutuhan wisatawan, sekaligus mendapatkan penghasilan lebih banyak dan melestarikan desa tua beserta adat istiadatnya.” Bagi Bapak Quy, “melestarikan desa tua” bukan hanya tentang melestarikan rumah, tetapi juga melestarikan ekosistem budaya.
Rumah panggung di Ban Thai.
Setiap homestay di desa Thailand bukan sekadar fasilitas akomodasi, tetapi juga "perhentian budaya" dalam perjalanan modernisasi. Tak hanya mendatangkan sumber pendapatan baru, model pariwisata komunitas juga berkontribusi dalam menjaga keterikatan generasi muda dengan tanah air mereka dan membangunnya. Alih-alih meninggalkan kampung halaman untuk bekerja, banyak anak muda kini telah menjadi pemandu wisata, penerjemah, juru masak, dan komunikator di tanah air mereka.
Di tempat yang dulunya hanya dikenal karena musim padi matang, desa Thailand kini menjadi destinasi empat musim, yang tetap mempertahankan identitasnya sekaligus menyatu, tetapi tak terurai. Lahan ini diorientasikan untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata sepanjang tahun – setiap musim memiliki ruang, setiap musim memiliki pengalaman. Musim semi tiba dengan festival desa, gema seruling dan gong. Musim panas tiba, pengunjung dapat turun ke sawah untuk menanam padi, merasakan aroma tanah baru. Di musim gugur, padi keemasan telah matang, di musim dingin, kabut menyelimuti desa, tampak samar-samar seperti sapuan kuas tinta yang lembut dan dalam.
Rumah panggung untuk pengembangan pariwisata di desa Thailand.
Terletak di pusat kota, dan diberkahi alam dengan pemandangan dan budaya yang memukau, Desa Thai telah menjadi tempat persinggahan yang tak tergantikan dalam perjalanan menjelajahi Barat Laut. Begitu Anda menginjakkan kaki di sini, Anda akan menyadari bahwa di sini terdapat keindahan yang begitu memikat hati: Dari sawah terasering yang memantulkan awan dan langit, aliran sungai jernih yang mengalir di lereng gunung, hingga rumah-rumah panggung yang damai dan mengepulkan asap biru di sore hari. Di atas segalanya, hati penduduk setempat begitu hangat dan sederhana, selalu terbuka menyambut orang asing seperti saudara yang baru pulang.
"Menyentuh Desa Thailand" bukan hanya judul artikelnya, tetapi juga pengingat akan sebuah pengalaman yang tak terdefinisikan oleh akal, hanya hati yang bisa memahaminya. Karena begitu menginjakkan kaki di tempat ini, sulit untuk berpaling tanpa merasakan debaran di hati.
Di desa Thailand, kau bukan lagi tamu, melainkan sosok yang akrab dalam tatapan penuh kasih sayang, dalam ajakan sederhana untuk makan, dalam kisah-kisah yang diceritakan di dekat api unggun. Tak ada karya agung yang dipamerkan di sini, hanya kenangan indah yang membuat orang tetap tinggal. Itulah rumah panggung dengan aroma kayu bakar yang harum, hidangan desa dengan aroma asap sore, senyum tulus yang bercampur sedikit rasa malu. Jika suatu hari nanti aku harus pergi, aku akan tetap menyalakan api unggun di dapur Thailand dan merasa seperti baru saja menyentuh pedesaan yang telah lama menjadi milikku.
Sumber: https://baolaocai.vn/cham-vao-ban-thai-post648183.html
Komentar (0)