Mengurangi 25-30% waktu pelatihan bagi teknisi baru untuk bisnis
"India, Vietnam, dan banyak negara lain menghadapi kekurangan talenta di sektor teknologi tinggi. Artinya, kita perlu mulai melatih dan mengembangkan sumber daya manusia langsung dari bangku sekolah," ujar Deepak NG, CEO Dassault Systèmes India, pada Forum Kepemimpinan Bisnis yang diselenggarakan oleh Pusat Inovasi Nasional (NIC) pada 20 Agustus.
Menurut para ahli, tenaga kerja masa kini harus selalu mengikuti tren industri dan teknologi baru, serta siap beradaptasi. Bagi para mahasiswa, menyediakan lapangan kerja atau pelatihan keterampilan saja tidak cukup, tetapi membimbing mereka untuk berkreasi di setiap tahap.

Dalam industri apa pun, inovasi dibutuhkan di seluruh rantai nilai, mulai dari ide, desain, manufaktur, simulasi, pengalaman pelanggan, hingga layanan. Itulah mengapa penting untuk membangun laboratorium tempat para insinyur dapat bekerja dengan teknologi baru.
Namun, Bapak Deepak menegaskan, jika sumber daya terbatas dan teknologi terus berubah, mustahil membangun laboratorium fisika yang lengkap untuk penggunaan sehari-hari.
Untuk mengatasi tantangan ini, India telah mendirikan tujuh Pusat Pengalaman Keunggulan 3D yang menggunakan teknologi kembaran virtual, yang masing-masing mengkhususkan diri dalam bidang tertentu seperti pertambangan, otomotif, kendaraan listrik, konstruksi – perencanaan kota, kedirgantaraan, pertahanan, logistik, dan menawarkan berbagai program pelatihan.
Lebih lanjut, Klaus Krohne, Direktur Penjualan Senior Asia Pasifik di Dassaults Systèmes, mengatakan bahwa teknologi kembaran virtual menciptakan replika digital dari suatu produk, proses, atau bahkan pabrik. Misalnya, dalam industri semikonduktor, model kembaran virtual dibangun di tingkat perangkat, proses, dan sistem. Teknologi ini memungkinkan para insinyur untuk mensimulasikan seluruh proses manufaktur sirkuit terpadu 3D (3D IC) atau memori bandwidth tinggi (HBM), dan langsung memeriksa respons serta hasilnya.
Lebih dari 100.000 siswa telah dilatih menggunakan pendekatan baru ini, yang berkaitan langsung dengan proyek bisnis. "Pendekatan ini mengurangi waktu pelatihan aktual bagi para insinyur baru sebesar 25-30%, sekaligus mendukung perusahaan rintisan dan UKM untuk menguji teknologi tanpa perlu berinvestasi besar dalam fasilitas," ujar seorang eksekutif Dassault Systèmes.
Jalan Menuju Vietnam: Kerja Sama dan Penerapan Teknologi
Vietnam, dengan tenaga kerjanya yang muda, juga memiliki peluang besar untuk menjadi pusat manufaktur semikonduktor baru. Namun, masih terdapat kesenjangan antara program pelatihan universitas dan kebutuhan bisnis yang sebenarnya.
Menurut Bapak Nguyen Thanh Chuong, Ketua Dewan Universitas Transportasi, universitas memainkan peran penting dalam membangun ekosistem inovasi, terutama di bidang teknologi tinggi seperti semikonduktor dan kecerdasan buatan.

Ia menginformasikan bahwa banyak sekolah telah direncanakan untuk dikembangkan secara erat dengan dunia usaha, menerapkan model pelatihan lanjutan, memasukkan proyek nyata ke dalam kurikulum, dan mengundang pakar bisnis untuk mengajar guna memastikan penerapan yang tinggi. Universitas memainkan peran sentral dalam ekosistem transfer teknologi, mengubah hasil penelitian menjadi produk dan standar, sehingga mempersingkat waktu dari penelitian hingga pemasaran.
Berdasarkan perencanaan jaringan pendidikan universitas hingga tahun 2030, Pemerintah telah menetapkan Universitas Transportasi sebagai salah satu dari 7 sekolah teknik terbaik di Vietnam, yang berorientasi untuk berkembang menjadi institusi kunci di bidang teknik dan sains-teknologi, dengan membangun laboratorium nasional untuk kereta api cepat dan laboratorium untuk semikonduktor. Universitas ini telah menerapkan berbagai solusi, termasuk penandatanganan perjanjian kerja sama dengan berbagai unit, termasuk Dassault Systèmes, yang menciptakan kondisi bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam proyek nyata selama masa perkuliahan.
"Dalam konteks perkembangan teknologi yang pesat, kolaborasi antara sekolah, dunia usaha, dan masyarakat, yang membawa teknologi dari tahap penelitian ke tahap produksi dan pemasaran, merupakan proses yang tak terelakkan. Untuk mempersingkat proses ini, universitas perlu mendampingi dunia usaha dan peneliti, serta mendorong perkembangan dan kesuksesan bersama," ujar Ketua Dewan Universitas Transportasi.
Vietnam dapat belajar dari pengalaman India dan menerapkan beberapa solusi kunci. Pertama, penerapan teknologi kembaran virtual secara intensif. Alih-alih berinvestasi di laboratorium fisik yang mahal dan kompleks, platform digital akan membantu mahasiswa mensimulasikan seluruh proses produksi, merancang, menguji, dan memecahkan masalah dengan cepat.
Kedua, perlu mempromosikan model pelatihan yang terkait dengan proyek nyata. Universitas harus bekerja sama erat dengan dunia usaha untuk memasukkan permasalahan praktis ke dalam kurikulum, membantu mahasiswa mendapatkan pengalaman dan memahami kebutuhan industri.
Mengembangkan sumber daya manusia di era digital tidak hanya tentang pelatihan keterampilan, tetapi juga tentang membangun ekosistem berkelanjutan tempat sekolah, bisnis, dan masyarakat bekerja sama.
Menurut Bapak Deepak, kerja sama internasional akan membantu mempercepat pengembangan sumber daya manusia Vietnam. "Bersama-sama, melalui dunia virtual, kita dapat membantu siswa mewujudkan masa depan mereka... Mengembangkan tenaga kerja bukan hanya tentang pelatihan keterampilan, tetapi juga tentang membangun ekosistem kolaboratif antara Pemerintah, dunia usaha, dan akademisi. Dengan kerja sama ini, Vietnam tidak hanya siap menerima teknologi, tetapi juga dapat menjadi yang terdepan dalam teknologi strategis," ujarnya.

Sumber: https://vietnamnet.vn/cong-nghe-song-sinh-ao-co-the-rut-ngan-thoi-gian-dao-tao-ky-su-viet-2434231.html
Komentar (0)