![]() |
Sebuah sudut di Alpha Store di Shenzhen. Foto: Nhat Tuong |
Selama bertahun-tahun, toko teknologi terutama berfungsi sebagai ruang pamer perangkat baru, tempat orang memberikan saran tentang konfigurasi dan menyelesaikan pesanan. Namun, seiring semakin sulitnya membedakan ponsel pintar hanya dengan perangkat keras, perusahaan teknologi mulai mengubah cara mereka menceritakan kisah merek mereka di dunia nyata.
Alpha Store milik HONOR di Shenzhen adalah contoh utama dari pendekatan inovatif, yang berkolaborasi dengan mitra industri untuk menunjukkan bagaimana AI menghubungkan berbagai perangkat dalam skenario kehidupan sehari-hari.
Model ritel masa depan
Di Alpha Store, HONOR telah membangun Pusat Inovasi AI Smart Living yang memungkinkan pengunjung untuk langsung menjelajahi perangkat dan teknologi terbaru, termasuk robot cerdas. Ruang ini juga menawarkan wawasan tentang bagaimana AI akan hadir dalam kehidupan masa depan.
Alih-alih menampilkan perangkat keras berdasarkan kategori perangkat, Alpha Store membagi ruang dan mengatur perangkat berdasarkan skenario kehidupan nyata seperti perjalanan atau hiburan. Pendekatan ini membantu pengguna dengan mudah memvisualisasikan bagaimana ekosistem AI yang terhubung dengan berbagai perangkat melayani kehidupan mereka.
![]() |
Tampilan jarak dekat robot Flash yang dipajang di toko. Foto: Tran Phong. |
Tepat di pintu masuk, pengunjung dapat bertemu dengan Flash, robot humanoid yang menarik perhatian di media sosial karena menyelesaikan lari setengah maraton hanya dalam 50 menit dan 26 detik. Melalui sistem pendingin cair yang canggih dan sendi torsi tinggi, Flash secara visual mendemonstrasikan kemampuan operasional robot berbasis fisika milik perusahaan tersebut.
Salah satu fitur yang menonjol adalah YOYO Zone, area pengalaman asisten AI yang mampu mengingat kebiasaan pengguna dan secara proaktif membantu tugas sehari-hari. Selain itu, toko ini mengintegrasikan AI Inspiration Café sebagai tempat berkumpul bagi komunitas pecinta teknologi.
Seluruh ruangan ini merupakan bagian dari "Alpha Plan" HONOR, yang memposisikan filosofi pengembangan AI-nya ke arah pendekatan "berpusat pada manusia", dengan fokus pada fitur-fitur yang memahami perilaku, memberikan pendampingan, dan berfungsi sebagai asisten cerdas.
Berdasarkan ketiga platform teknologi ini, HONOR secara bertahap mewujudkan ambisi yang lebih besar, dimulai dengan mengintegrasikan AI ke dalam ponsel pintar yang ringkas. Kemudian, AI akan berkembang untuk menghubungkan semua perangkat ke dalam ekosistem rumah pintar dan akhirnya ke model dunia pintar.
![]() |
Banyak area yang dibagi untuk menyesuaikan berbagai skenario penggunaan. Foto: Tran Phong. |
Namun, para pengamat percaya bahwa pengalaman di toko-toko unggulan masih lebih berupa ajang pamer daripada pengalaman pengguna yang praktis. Tantangan terbesar terletak pada transformasi demo AI di ruang pamer menjadi pengalaman yang stabil bagi masyarakat umum.
Peluang apa saja yang ada di pasar lain?
Berbicara kepada Tri Thức - ZNews, seorang perwakilan dari HONOR menyatakan bahwa grup tersebut telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperluas model ritel barunya. Perusahaan berencana untuk membawa Alpha Store ke luar perbatasan Tiongkok, khususnya ke Malaysia dan Dubai (UEA), dengan memanfaatkan infrastruktur dan ekosistem yang sudah mapan di sana.
Selain itu, orang ini percaya bahwa Vietnam memiliki potensi besar dan sangat cocok untuk mengembangkan model serupa, sehingga membawa pengalaman AI generasi berikutnya lebih dekat kepada konsumen lokal.
Sebenarnya, model ini merupakan bagian dari tren yang lebih besar yang disebut "ritel berbasis pengalaman." Menurut Spectra Global , toko-toko sekarang tidak hanya bersaing dalam hal penjualan tetapi juga ingin terhubung dengan pelanggan melalui berbagai titik kontak langsung.
![]() |
Toko-toko Xiaomi di Inggris memungkinkan pengguna untuk mencoba kamera terbaru perusahaan tersebut. Foto: Digital Camera World. |
Selain itu, tren ini secara bertahap muncul untuk mengembalikan keseimbangan antara perdagangan online dan tradisional. Sebuah studi dari Universitas Penghu menunjukkan bahwa model ini sangat efektif ketika merek ingin menyampaikan fitur AI dengan cara yang kredibel, tanpa membingungkan pengguna.
Pada tahun 2019, Apple mempelopori model pengalaman ini dengan menyelenggarakan lokakarya dan kelas kreatif langsung di tempat penjualan iPhone. Kemudian, Huawei juga mulai mengintegrasikannya ke kafe, pusat kebugaran, area rumah pintar, dan ruang pamer kendaraan listrik.
Sementara itu, Xiaomi, dengan toko unggulannya di Inggris, memungkinkan pengguna untuk merasakan seluruh ekosistemnya, mulai dari ponsel dan robot penyedot debu hingga kendaraan listrik. Menurut Reuters, alasan perusahaan-perusahaan berlomba-lomba memperluas toko fisik mereka adalah karena mereka tidak lagi hanya menjual ponsel pintar.
Seiring semakin sulitnya membedakan ponsel pintar hanya melalui perangkat keras saja, pengalaman ritel muncul sebagai cara baru bagi perusahaan teknologi untuk membangun pengakuan merek dan tetap terhubung dengan pengguna muda. Model ritel berbasis pengalaman di Vietnam juga sedang meningkat, dengan banyak yang memilih lokasi utama di pusat perbelanjaan yang ramai.
Hal ini menunjukkan bahwa merek bersedia membayar biaya sewa yang tinggi sebagai imbalan atas nilai merek dan perhatian media. Strategi ini dianggap efektif oleh merek dalam menjangkau Generasi Z dan Milenial, generasi yang belanjanya didasarkan pada pengalaman dan pemahaman merek, bukan hanya sekadar melihat spesifikasi teknis.
Sumber: https://znews.vn/cua-hang-dien-thoai-gio-da-khac-post1653548.html












Komentar (0)