Pusat Sinema Nasional adalah satu-satunya lokasi di negara ini yang menayangkan "Peach, Pho, and Piano". Menurut data Box Office Vietnam—unit yang mengumpulkan statistik pendapatan box office untuk pasar sinema Vietnam—film "Peach, Pho, and Piano" saat ini telah diputar sebanyak 11 kali dan telah menjual 1.455 tiket, menghasilkan lebih dari 87 juta VND dalam sehari.
Menurut Bapak Vu Duc Tung, Pelaksana Tugas Direktur Pusat Sinema Nasional, pada 20 Februari, Pusat Sinema Nasional akan menambah 7 pemutaran film di Teater 1 (kapasitas 402 tiket). Di saat yang sama, dalam beberapa hari mendatang, Pusat Sinema Nasional akan terus menambah jumlah pemutaran jika ada permintaan dari penonton, untuk menghindari situasi di mana penonton ingin menonton film tetapi tidak dapat menontonnya.
Film ini berkisah tentang kisah cinta yang romantis dan penuh gairah antara seorang prajurit bela diri (Doan Quoc Dam) dan seorang wanita muda dari Hanoi (Cao Thuy Linh), yang dengan demikian menghormati keindahan dan karakter spiritual orang- orang Hanoi kuno.
"Berawal dari seorang tiktoker yang pergi ke bioskop dan mengulas filmnya, Dao, Pho, dan Piano telah memberikan pengaruh yang luar biasa bagi masyarakat pencinta film. Kami sangat terkejut dan yakin ini akan menjadi pengalaman berharga dalam komunikasi, yang akan mendorong perkembangan industri film," ujar Bapak Vu Duc Tung.
"Peach, Pho and Piano" adalah film pesanan negara yang rampung pada tahun 2023. Film ini memenangkan Silver Lotus di Festival Film Vietnam ke-23. Bersama dengan Hong Ha Nu Si, film ini merupakan salah satu dari dua film negara yang masuk dalam rencana rilis dan distribusi percontohan untuk sejumlah film yang diproduksi menggunakan anggaran negara yang dikeluarkan oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata sebelum Tahun Baru Imlek.
Direktur Departemen Perfilman, Vi Kien Thanh, mengatakan bahwa minat publik terhadap sebuah film secara umum, atau khususnya film Dao, Pho, dan Piano, merupakan tanda positif. Menayangkan dua film menggunakan anggaran negara ke bioskop selama Tahun Baru Imlek merupakan "uji coba" dan awalnya badan pengelola perfilman negara tersebut tak luput dari kekhawatiran. "Namun hingga saat ini, tanda-tanda positif ini menunjukkan bahwa proyek percontohan yang membuka jalan bagi film-film negara untuk menjangkau publik ini sepenuhnya tepat," tegas Direktur Vi Kien Thanh.
Film ini berinvestasi di studio yang "besar", dengan skala besar menciptakan kembali sebagian jalan Hanoi.
Kesuksesan "Dao, Pho, dan Piano" merupakan sinyal positif bagi film-film yang dipesan pemerintah dan pengalamannya dalam memanfaatkan efek media sosial. Tak dapat dipungkiri, efek media telah berkontribusi dalam membantu karya sinematik menjangkau publik lebih dekat daripada promosi konvensional. Khususnya, ketika jejaring sosial berkembang, ulasan konsumen memiliki kondisi untuk menyebar dengan kuat dan memainkan peran penting, menentukan nasib produk sinematik.
"Peach, Pho, and Piano" menerima banyak pujian ketika publik, terutama anak muda yang lahir saat ini, mengenal Hanoi kuno yang elegan, mulia, romantis, tetapi juga sangat tangguh melawan bom dan peluru kolonialisme Prancis. Film ini berkisah tentang kisah cinta yang romantis dan penuh gairah antara seorang prajurit bela diri (Dam Doan Quoc) dan seorang wanita muda Hanoi (Cao Thuy Linh), dengan demikian menghormati keindahan dan karakter spiritual masyarakat Hanoi kuno.
Film ini berinvestasi di studio "besar", dengan skala besar menciptakan kembali bagian jalan Hanoi dengan ruang hidup para karakter dalam konteks tahun 1946-1947. Untuk menciptakan kembali suasana pertempuran sengit untuk melindungi Hanoi selama 60 hari dan malam, dari akhir tahun 1946 hingga awal tahun 1947, kru film membangun sebuah kawasan tua sepanjang hampir 100 m, di sebidang tanah milik barak militer lama di Dai Lai, Phuc Yen.
Setelah lebih dari 5 bulan pembangunan, dengan tim desain dan produksi yang terdiri dari orang-orang berpengalaman yang telah terlibat dalam banyak film sejarah dan perang, sebuah studio film berskala besar telah terbentuk. Ini adalah rumah-rumah tua Hanoi pada tahun 1940, dengan toko kelontong, toko jahit, restoran... dan bahkan tank dan trem, tempat orang-orang Hanoi membangun benteng pertahanan di masa perang untuk melindungi ibu kota tercinta di masa lalu.
Film ini, melalui kisah yang berlatar di benteng sebuah kawasan tua pada musim dingin tahun 1946, menggambarkan momen-momen paling sengit dan heroik dalam pertempuran 60 hari dan malam antara tentara dan rakyat ibu kota. Film ini tidak hanya memuji semangat keberanian dan patriotisme, tetapi juga menggali dan menjelaskan karakter serta kualitas orang Hanoi.
[iklan_2]
Sumber
Komentar (0)