Kementerian Keuangan mengusulkan untuk menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah yang mengatur pengurangan pajak bumi dan bangunan pada tahun 2024.

Oleh karena itu, Kementerian Keuangan mengusulkan 2 tingkat pengurangan sewa tanah berdasarkan 2 opsi. Opsi 1, pengurangan 15% dari sewa tanah yang dibayarkan pada tahun 2024 untuk penyewa tanah. Opsi 2, pengurangan 30% dari sewa tanah yang dibayarkan pada tahun 2024 untuk penyewa tanah.

Menurut Kementerian Keuangan, rencana ini sesuai dengan perkembangan sosial -ekonomi baru di seluruh negeri.

Secara spesifik, laju pertumbuhan dalam 6 bulan terakhir tahun ini di seluruh negeri dan banyak daerah diperkirakan akan melambat. Pertumbuhan PDB pada kuartal ketiga di seluruh negeri kemungkinan akan turun sebesar 0,35%, dan pada kuartal keempat sebesar 0,22% dibandingkan dengan skenario tanpa badai No. 3. Opsi 1 diusulkan oleh Kementerian Keuangan dalam skenario tanpa badai No. 3.

Berdasarkan rancangan tersebut, yang menjadi subjek permohonan adalah organisasi, kesatuan, badan usaha, rumah tangga, dan perseorangan yang sedang disewakan tanahnya oleh Negara, secara langsung berdasarkan keputusan atau perjanjian atau sertifikat hak atas tanah, hak milik atas rumah tangga, dan harta kekayaan lain yang melekat pada tanah milik instansi negara yang berwenang berupa pembayaran sewa tanah tahunan.

Ketentuan ini berlaku baik terhadap pihak penyewa tanah yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pembebasan atau pengurangan pajak tanah, maupun terhadap pihak penyewa tanah yang menerima pengurangan pajak tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan dan peraturan perundang-undangan lainnya; instansi yang berwenang dalam penanganan berkas pengurangan pajak tanah; instansi, organisasi, dan perseorangan terkait lainnya.